12 Januari 2018

 Kata "Politik" berasal dari Bahasa Yunani "Polis" berarti kota. Dalam konteks Yunani Kuno saat itu, kota adalah negara. Politik pada awal kelahirannya dipahami sebagai segala daya upaya utk menciptakan kebaikan bagi Rakyat, Bangsa dan Negara.

Pada awalnya bahwa politik berkonotasi positif untuk menciptakan kebaikan bersama. Negara menjadi sarana untuk menciptakan kebijakan-kebijakan politik untuk mengatur atau mengelola negara, sehingga kebaikan bersama bisa terwujud.

Makna kata "Politik" kemudian mengalami pergeseran sehingga menjadi berkonotasi negatif. Pergeseran terjadi karena politik yang seharusnya diselenggarakn oleh para negarawa, karena merekalah yang memiliki perspektif komprehensif untuk membangun negara.

Politik itu luhur dan mulia tetapi realita kenyataannya politik seringkali justru dikuasai oleh orang-orang dengan kualitas medioker, bahkan bisa lebihh rendah lagi hanya karena mereka nemiliki popularitas dan elektabilitas tinggi serta isi tas yang tebal, diantara mereka adalah para "aktor" yang relatif tidak memiliki rekam jejak dalam politik, tetapi menjadi sangat populer karena sering melakukan pertunjukan politik atau media elektronik atau gencar diliput berbagai media.

Saat ini popularitas itu juga dimiliki para "aktor" dalam arti sesungguhnya melalui media infotainment & elektronik. Politisi medioker dengan kualifikasi tanpa rekam jejak dalam dunia politik melalui iklan politik yg masif dan gencar di berbagai media.

Merekapun menjadi iklan politik yang menampilkan diri sebagai yang bukan karakternya sendiri. Dari sini kekuasaan politik kemudian mengalami degradasi fungsi karena berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk mengelola dan menata sebuah negara.

Selain itu kata politik oleh sebagian besar orang kemudian dipahami scara salah karena dianggap gabungan dua kata "poli" yang berarti banyak dan "tik" yg diartikan sebagai taktik inilah yg menjadi awal mula pandangan keliru bahwa politik adalah "banyak taktik".

Pemahaman ini semakin nemperkuat definisi politik adalah banyak takti. Definisi dari pemikir politik barat diantaranya Laswell yang megatakan bahwa "Politik sekadar sebagai Siapa mendapatkan Apa, Kapan dan Bagaimana (Who gets What, When and How)".

Tidak pernah terpikir pertanyaan "mengapa" berpolitik Tidak adanya pertanyaan "Mengapa" itulah yg menyebabkan kekuasaan politik menjadi sebuah cita-cita. Jabatan menjadi tujuan akhir dalam aktivitas politik. Padahal kekuasaan yang merupakan implikasi jabatan sesungguhnya sebagai sarana menjawab mengapa kekuasaan mesti diperebutkan dalam mekanisme politik yang kompetitif ? Atau kalaupun ada muncul pertanyaan mengapa mesti berpolitik ?

Jawabannya adalah orientasi material yang disebabkan kedangkalan cara berfikir, telah terjadi karena politik telah dikuasai oleh kalangan medioker yang tidak terbiasa berfikir mendalam, hanya ingin mengubah kehidupan sendiri menjadi lebih baik dengan kekayaan materi yang bisa didapatkn lebih mudah dengan menggunakan kekuasaan politik. Inilah yang menyebabkan politik yang seharusnya baik menjadi bercitra buruk jadi penyebab kerusakan.

Pertanyaa saat ini adalah siapa yg bertanggung jawab dengan kondisi politik di NKRI ? Tentunya para pemilih yang memilih mereka yang terpesona dan yang terbuai dengan ucapan manis para "aktor" dan scara tidak sadar turut serta mengorbitkan para "aktor" politik tersebut ke panggung politik.

Selamat dan sukses kepada DPT untuk memilih calon pemimpin Pilkada 2018

Tonny Saritua Purba, Fungsionaris Partai Golkar Kota Bogor dan Aktivis Praja Muda Beringin (PMB)

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya