13 Februari 2018

Berita Golkar - Delegasi untuk perdamaian Afghanistan (High Peace Council) menemui Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wapres. Pertemuan tersebut membahas tindak lanjut proses perdamaian yang tengah dilakukan di negara tersebut. Sejumlah delegasi Afghanistan tampak meninggalkan Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Senin (12/2/18), sekitar pukul 16.25 WIB.

Duta Besar (Dubes) Afghanistan untuk Indonesia, Roya Rahmani, mengatakan pertemuan tersebut membahas tentang kunjungan ulama Afghanistan ke Indonesia. "Diskusi dengan Wapres umumnya tentang ulama Afghanistan yang sedang berkunjung ke Indonesia. Dan besok akan bertemu dengan MUI di Jakarta," kata Roya usai pertemuan dengan Wapres JK.

Dubes Afghanistan Roya Rahmani enggan berkomentar lebih jauh terkait pertemuan tersebut dengan rencana kunjungan JK ke Afghanistan akhir bulan ini. "Pertemuan baru saja, lebih banyak membicarakan tentang kepentingan ulama. Tetapi tentu saja, pertemuan ini ada kaitannya dengan rencana kunjungan Wapres ke sana," ujar Roya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi mengatakan pertemuan itu merupakan kesinambungan pembahasan proses perdamaian di Afghanistan. "Jadi kan kalau teman-teman memperhatikan dalam beberapa bulan terakhir ini ada satu intensitas saling kunjung, komunikasi dan sebagainya. Dan ini adalah bagian dari proses tersebut," ujar Menlu Retno.

Menlu Retno LP Marsudi mengungkapkan, Wapres JK juga diundang untuk hadir di lab peace proces di Kabul, Afghanistan pada 28 Februari mendatang. Sebelumnya, pagi tadi Retno juga sudah menerima delegasi Afghanistan dari unsur pemerintah setingkat menteri.

"Pagi tadi saya juga sudah menerima ketua rombongannya, jadi titelnya adalah menteri, setingkat menteri, tapi beliau adalah sebenarnya advisor kepada Presiden. Nah saya 'tete a tete' selama selebih satu jam, kami sudah bicara mengenai masalah detail, tapi mohon maaf saya tidak bisa menyampaikan detilnya seperti apa," kata Menlu Retno.

"Intinya adalah bahwa, satu intensifikasi komunikasi kita lakukan. Yang kedua, Indonesia dari komunikasi. Komunikasi ini tidak hanya dengan pemerintah Afghanistan, tetapi dengan yang lain-lain karena Indonesia percaya, atau bisa diterima untuk bisa memberikan kontribusi untuk peace process-nya," imbuh Retno.

Menurut Retno,  delegasi Afghanistan mengapresiasi komitmen dan kerja keras Indonesia dalam upaya perdamaian di Afghanistan. Indonesia dapat diterima semua pihak yang berselisih di Afghanistan. "Mereka mengatakan hubungan kita sejak lama, dari sejak awal berdirinya negara kita sudah berhubungan. Tetapi 'this time' ada sesuatu hubungan yang baru, dengan komitmen Indonesia, dengan keseriusan Indonesia membantu mereka," ucap Retno.

Selain itu, upaya perdamaian Afghanistan yang dilakukan Indonesia, termasuk kunjungan Presiden Joko Widodo akhir Januari lalu, dipandang sebagai harapan baru bagi perdamaian di Afghanistan. "Ini menurut mereka, mereka yang menyampaikan. Dan para ulama di Afghanistan juga mengharapkan bahwa dapat terjadi perdamaian di Afghanistan," tutur dia.

Kepala Sekretariat Wakil Presiden, Mohamad Oemar menyebut delegasi High Peace Council (HPC) tersebut terdiri dari unsur pemerintah dan beberapa mantan anggota kelompok di Afghanistan.

"High Peace Council (HPC) yang datang komponennya ada pemerintah, eks-Taliban, eks-Muhajidin dan sebagainya. Nah ini mau merangkul semua kelompok dengan cara ulama yang kasih fatwa nanti. Bukan hanya ulama Afghanistan, tapi juga ulama Pakistan karena Pakisatan juga meng-host persembunyian beberapa kelompok," ungkap Oemar.[detikcom]

fokus berita : #Wapres JK


Kategori Berita Golkar Lainnya