13 Mei 2018

Berita Golkar - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan pondok pesantren (Ponpes) memiliki potensi mendukung implementasi revolusi industri keempat di Tanah Air. "Selama ini ponpes berperan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat sudah banyak yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit usaha baik skala kecil maupun menengah, bahkan ada yang memiliki inkubator bisnis," kata Airlangga, Minggu, (13/5/2018).

Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menyampaikan hal tersebut ketika mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kerja di Ponpes Bayt Al-Hikmah, Pasuruan, Sabtu (12/5/2018). Menurut Airlangga, pihaknya sedang gencar melaksanakan kegiatan penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di lingkungan pesantren, yang dinamakan program Santripreneur.

"Hampir 70 persen pelaku usaha Indonesia berada di sektor UMKM. Ini modal yang cukup kuat menghadapi revolusi industri 4.0," ungkapnya. Airlangga menambahkan, ponpes berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM).

"Ini tentu anugerah dari Allah yang harus kita syukuri bersama. Potensi kita sangatlah besar dengan ditopang banyaknya kampus dan pesantren di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia," imbuhnya. Berdasarkan data Kementerian Agama, selama 2014-2015, di Indonesia terdapat 28.961 ponpes yang tersebar di seluruh provinsi dengan jumlah santri lebih dari empat juta orang.

Dari total ponpes tersebut, sebanyak 23.331 ponpes atau 80 persen di antaranya berada di empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Dengan perkembangan era digital saat ini, Menperin optimistis para santri mampu menjadi agen perubahan yang strategis dalam membangun bangsa dan perekonomian Indonesia di masa mendatang.

"Untuk itu, santri harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, baik agama maupun wirausaha. Mereka yang mayoritas generasi milenial, juga perlu menguasai teknologi terkini," tuturnya. Apalagi, sampai 10 tahun ke depan, Indonesia akan menikmati bonus demografi atau momentum ketika penduduk didominasi oleh usia produktif (usia 15-64 tahun mencapai 70 persen).

"Saat ini, ekonomi Indonesia di peringkat ke-16 dunia. Kami yakin, sesuai aspirasi di dalam Making Indonesia 4.0, Indonesia bisa menjadi negara yang berada dalam 10 besar ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030," kata Airlangga.

Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen mendukung pengembangan IKM nasional di era ekonomi digital, dengan membangun platform e-commerce yang dinamakan e-Smart IKM. "Kami telah kerja sama dengan sejumlah marketplace dalam negeri untuk memberikan workshop e-Smart IKM ke beberapa daerah di Indonesia. Adik-adik para santri juga harus memanfaatkan peluang ini," ujar Airlangga.

Hingga saat ini, sebanyak 1.730 pelaku IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM. Sampai 2019, Kemenperin menargetkan mengajak hingga 10 ribu pelaku IKM seluruh Indonesia untuk mengikuti lokakarya itu. "Kami juga akan membangun sentra-sentra teknologi dalam rangka meningkatkan akses IKM terhadap akuisisi teknologi dan memberikan dukungan mentoring untuk mendorong inovasi," tegas Airlangga. [medcom]

fokus berita : #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya