20 Agustus 2017

Berita Golkar - Sejumlah tokoh masyarakat sudah menyatakan dukungan secara terbuka kepada pasangan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien Syafiuddin. Bahkan mereka berjanji akan bergerilya secara militan untuk menyosialisasikan pasangan ini kalau diusung Partai Golkar dan koalisinya.

Seperti yang disampaikan Ketua Kapiyasa Purwakarta Asep Hijrah Setiawan. Dia menilai Ridwan Kamil merupakan simbol pemimpin kekinian yang bisa menempatkan teknologi, tanpa melupakan nilai keagamaan.

“Terbukti kinerjanya memimpin Kota Bdg yang berpihak kepada rakyat. Saya akan mendukung Pak Ridwan Kamil, meskipun saya tidak mengenalnya. Hanya kenal di media saja,” kata Asep yang akrab disapa Abah saat dihubungi, Minggu (20/8).

Menurut Asep, pernyataan Nusron Wahid yang masih menerima Ridwan Kamil merupakan strategi politik Partai Golkar untuk memenangkan Pilgub Jabar 2018. Dia meyakini dukungan publik akan terus mengalir, khususnya dari masyarakat Pantura. Pasalnya, Partai Beringin mewacanakan akan menduetkan dengan tokoh pesisir utara Jabar, di antaranya Daniel Muttaqien.

“Daniel punya kantong suara luar biasa. Duet Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien merupakan pasangan muda potensial yang akan kuat memenangkan Pilgub Jabar. Perpaduan yang bagus, umur muda, menjadi momentum generasi muda memimpin Jabar. Pemuda jarang diberikan kesempatan memimpin. Kans menang akan semakin besar karena masyarakat sudah bisa memilih dan memilah pemimpin baik,” ujarnya.

Terkait posisi Bupati Purwakarta yang juga menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jabar Dedi Mulyadi, Asep meminta yang bersangkutan legowo untuk menyerahkan kepada Ridwan Kamil. Pasalnya Jawa Barat membutuhkan sosok visioner.

“Saya kenal baik dengan beliau (Dedi Mulyadi) sejak masih duduk di DPRD. Beliau seharusnya legowo kalau Golkar memilih Ridwan Kamil. Apalagi di Purwakarta, banyak ulama tidak menyukai gaya kepemimpinannya. Tentu tidak cocok gaya dia di Purwakarta untuk digunakan di Jabar yang multikultur dan heterogen. Karakter Purwakarta berbeda dengan daerah lain di Jabar,” tandasnya.

Hal senada disampaikan tokoh Purwakarta lainnya, Ujang Supritna atau akrab disapa Kang Baun. Dia menyatakan dukungan kepada Ridwan Kamil berpasangan dengan siapapun, apalagi Daniel Muttaqien Syafiuddin.

“Lebih baik Golkar mengusung Ridwan Kamil karena punya peluang menang lebih besar. Sementara Dedi Mulyadi masih ada penolakan, bahkan di Purwakarta sendiri. Begitu Golkar memastikan Ridwan Kamil-Daniel, saya akan kerahkan warga untuk mendukung duet ini. Saya sendiri akan bekerja keras menyosialisasikannya,” bebernya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung Asep Warlan Yusuf menyatakan, wacana Partai Golkar mengusung Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien di Pilgub Jawa Barat merupakan solusi membuka kebuntuan politik. Partai Kuning memiliki alternatif membangun koalisi dengan partai manapun.

"Saya sering diskusi dengan aktivis partai di Jabar. Mereka selalu mengatakan komunikasi masih terus dilakukan, belum mengerucut. Nah, Golkar melihat dinamika ini seperti menggelontorkan bola untuk ditangkap pihak lain sebelum membuat keputusan final," ungkapnya.

Di tubuh Partai Golkar, setidaknya ada tiga faktor rujukan pada Pilgub Jabar ini, yaitu survey, kerja mesin partai, dan keputusan DPP. Untuk survey, Partai Golkar jaangan memaksakan Dedi Mulyadi kalau elektabilitasnya masih jauh dari harapan.

“Jadi yang paling memungkinkan adalah mengajukan cawagub pendamping Ridwan Kamil. Dari tiga nama yang diajukan Nusron bisa jadi rujukan (Bupati Bekasi Neneng Hasanah, Wali Kota Bekasi Rakhmat Effendi, dan Anggota DPR RI Daniel Muttaqien Syafiuddin),” jelasnya.

Untuk mesin partai, kata Asep, hal ini ikut menentukan karena kaitannya membangun komunikasi dengan partai lain. Selanjutnya DPP menentukan dalam kalkulasi politik 2019 dan pembiayaan politik.

"Kalau Golkar menilai ebih menguntungkan dan besar peluang menang ketika mengusung cawagub, ya tentu akan mengambil posisi ini," timpalnya.
Pengamat politik Universitas Padjajaran Bandung Dede Mariana menuturkan, duet Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien tidak bisa diremehkan apabila Nasdem mengajak juga PKB yang menjadi basis kantong Nahdhatul Ulama (NU).

“Duet ini menjadi penantang serius sejumlah nama yang sudah bergulir, seperti Demiz-Akhmad Syaikhu. Apalagi dari sisi mesin politik, pasar Gerindra-PKS mentok segitu-gitunya. PDIP pun begitu yakni harus bawa teman parpol lainnya,” tandasnya. [inilahkoran]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya