24 Juni 2019

Berita Golkar - Beberapa kader muda Partai Golkar mulai menggeliat. Mendorong partai segera menggelar Musyawarah Nasional (Munas). Mereka menginginkan adanya pergantian. Sekaligus menurunkan Airlangga Hartarto dari kursi pimpinan.

Baru satu nama muncul di permukaan. Sudah digaungkan para kader muda tergabung dalam kelompok Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG). Mereka kecewa dengan kepemimpinan Airlangga selama menjabat ketua umum partai lantaran gagal mencapai target 110 kursi. Hasilnya hanya 85 kursi di Pemilu 2019. Jumlah itu bahkan tak bisa menyamai capai 91 kursi di Pemilu 2014 lalu.

Baca Juga: Bambang Soesatyo Apresiasi Niat airlangga Maju Kembali Jadi Ketua Umum Golkar

Bambang Soesatyo. Nama ini yang diusung BPPG. Inisiator BPPG, Abdul Aziz merasa ketua DPR itu layak menggantikan Airlangga sebagai ketua umum. Ini dikarenakan sosok akrab disapa Bamsoet itu kader Golkar yang peduli dengan generasi muda. Bahkan sempat mengawali karirnya sebagai pemimpin redaksi harian umum Suara Karya. Salah satu corong media Partai Golkar pada tahun 2004.

Bamsoet juga aktif di sejumlah organisasi sayap Partai Golkar seperti Kosgoro, AMPI, dan Pemuda Pancasila. Kata Aziz, banyak perhatian Bamsoet terhadap anak muda. Apalagi berangkat sebagai aktivis, sudah pasti terbukti. Sebab dalam memimpin organisasi yang besar dibutuhkan pengalaman yang sudah teruji.

"Kami percaya tidak ada pelaut tangguh yang lahir dari laut yang tenang," kata Aziz kepada merdeka.com, pekan lalu. Jabatan Ketua DPR diemban Bamsoet hari ini menjadi nilai lebih. Dia dipastikan memiliki jaringan lintas partai cukup kuat sebagai pemimpin.

Adapun peran Bamsoet selama Pemilu 2019, kata Aziz, aktif mengkampanyekan pasangan Jokowi-Maruf Amin. Itu dilakukan melalui ragam organisasi masyarakat, seperti Pemuda Pancasila, FKPPI, dan GMPI.

Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Airlangga. Menurutnya, Airlangga kurang maksimal mengkampanyekan Jokowi-Maruf. Sebab dia tidak mewajibkan caleg Partai Golkar memasang wajah paslon nomor urut 01.

Bamsoet tak menampik telah menerima aspirasi untuk maju di bursa calon ketua umum Partai. Salah satu dukungan itu datang dari Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI).

Pria menjabat Warkorbid Pratama Partai Golkar itu mengatakan, ada waktunya untuk mendeklarasikan diri maju bursa ketua umum partai berlambang pohon beringin itu. Salah satunya jika dia sudah mengantongi restu petinggi partai dan dari organisasi sayap partai.

"Ya kan kemarin saya sampaikan. Kalau nanti pada saatnya saya menyatakan maju, itu berarti saya sudah mendapatkan restu dan pandangan dari stakeholder di mana saya aktif, dari pemuda Pancasila, dari FKKPI, teman-teman dari Partai Golkar, SOKSI kan saya bagian dari pengurus harian DPP Partai Golkar," ungkap Bamsoet di Kompleks Parlemen, Selasa pekan lalu.

Bamsoet juga belum berencana melakukan safari untuk menggalang dukungan maju sebagai Ketua Umum Golkar. Dia pun meminta semua pendukungnya untuk tenang terlebih dahulu.

Didengungkannya nama Bamsoet menuai ragam reaksi. Meski belum banyak pihak yang berani angkat bicara namun sosok Bamsoet cukup menarik perhatian.

Politikus Senior Partai Golkar, Yorrys Rawerai, menilai Bamsoet memiliki jabatan strategis. Bahkan rekam jejak yang baik. Muali sebagai wartawan, aktivis, organisatoris dan dikenal merakyat.

Selain nama Bamsoet, Partai Golkar masih punya banyak kader berpotensi menggantikan Airlangga. Misalnya, Menteri Sosial Agus Gumiwang, Ketua Komisi II DPR-RI Zainudin Amali, Ketua Komisi III DPR-RI Aziz Syamsudin dan lainnya.

"Saya tidak sebut nama Bambang duluan. Banyak tokoh yang berpengaruh dan kompeten, tinggal bagaimana daerah memilih," ujar Yorrys.

Yorrys menambahkan, seharusnya semua tidak fokus membahas pengganti Airlangga saja. Sebab masih banyak jabatan strategis dan penting lainnya yang harus dibicarakan. Seperti bendahara umum, sekretaris jendral, pimpinan DPR selanjutnya dan berbagai lembaga negara lainnya. Penempatan para kader sesuai porsi dan kompetensinya tak bisa dipandang sebelah mata.

Wakil Ketua Dewan Pakar, Ahmadi Noor Supit, melihat Bamsoet memang diuntungkan dengan status Ketua DPR. Pemberitaan tentang kinerja maupun capaian DPR tentu sudah banyak di media massa. Sehingga menjadi poin lebih tersendiri.

Selain nama Bamsoet, Partai Golkar masih punya banyak kader yang berpotensi menggantikan Airlangga. Hanya saja mereka terbatas oleh ruang dan waktu untuk tampil di layar kaca. Beruntung, proses pemilihan pemimpin dilakukan oleh internal partai. Sehingga munculnya kader di berbagai media massa bukan jadi tolak ukur.

Bila diperlukan, dalam pemilihan pemimpin kali ini dibuat seperti konvensi pencarian capres yang pernah dibuat Partai Golkar. Tujuannya membuka ruang bagi para kader untuk jadi pemimpin. Juga agar publik mengetahui tiap agenda politik partai.

Ahmadi mengatakan, agar Partai Golkar jadi lebih baik maka harus ada banyak nama ikut berkompetisi. Mereka harus memiliki rekam jejak baik, kapabel, berpikir visioner hingga memiliki jaringan luas. Penting juga calon ketum adalah kader militan dengan masa keanggotaan minimal 5 tahun.

"Saya pikir ini sudah saatnya Golkar mempersiapkan kader-kadernya dari bawah sampai jadi militan. Masih sempat kok untuk 2024," ungkap Ahmadi.

Anggota Dewan Kehormatan ini menyadari proses kaderisasi di internal partai mulai luntur. Dia memimpikan Golkar kembali memilih pemimpin dengan gayanya dulu. Proses kaderisasi dilakukan mulai dari tingkat desa sampai pengurus pusat.

Jangan sampai pencarian pemimpin terganjal kepemilikan modal dan dana. Menurut dia, ini sering terjadi dan berakhir memperburuk citra partai. "Mestinya dikasih ruang untuk dialog. Jangan diganggu sama yang kaya gitu (politik uang), itu nanti saja kalau sudah jadi sebagai tanda terima kasih," kata Ahmadi menerangkan.

Mencetak Pemimpin Negara

Proses pemilihan seperti ini memang dirindukan banyak kader partai di daerah. Sayangnya, cara pemilihan ketua umum seperti ini masih perlu dipikirkan kembali. Menurut Yorrys, ini tidak bisa dilakukan tiba-tiba. Apalagi kaderisasi saat ini memang belum berjalan maksimal. Sehingga sulit rasanya memaksakan cara lama di era terbuka dan transparan.

Dalam kondisi seperti ini, pemimpin masa depan Golkar harus memiliki leadership dan memiliki strategi kolektif bukan individual. "Jangan fokus sama ketum saja, harus bisa berpikir kolektif," kata Yorrys.

Pemimpin Partai Golkar nantinya harus jadi wajah baru Partai Golkar. Sebab, dia disiapkan sebagai calon pemimpin negara. Hal ini lumrah terjadi di banyak partai politik.

Tugas utama partai politik adalah menyiapkan calon pemimpin-pemimpin yang berkapasitas. Partai harus bisa melahirkan pemimpin yang bisa dicalonkan sebagai pemimpin bangsa. "Tidak ada parpol didirikan kalau bukan untuk menyiapkan pemimpin. Jadi memang tujuannya ke sana," kata Ahmadi menambahkan.

Ketua Koordinator Bidang Hankam, Hublu, Kumham, Ekonomi Pedesaan dan Diaspora, Happy Bone Zulkarnain, mengatakan Partai Golkar memiliki modal politik besar untuk mencalonkan ketua umum sebagai calon pemimpin negara. Hasil Pemilu tahun ini menjadi modal.

Mudah bagi partai bergambar pohon beringin ini bila ingin mengusung kadernya sebagai calon kandidat capres tahun 2024 mendatang. Golkar tinggal berkoalisi dengan satu sampai dua partai besar untuk mewujudkannya.

"Kenapa tidak untuk mengambil posisi sebagai capres. Kalau bicara kekuasaan, politik itu kan alat mencapai tujuan," kata Happy dikutip dari merdeka.com, pekan lalu.

Bukan hal mustahil bagi Partai Golkar untuk mempersiapkan kadernya sebagai capres atau cawapres. Banyak kader potensial dimiliki kader. Apalagi setelah turbulensi politik dialami Golkar menghasilkan soliditas antar kader baik junior maupun senior. "Satu periode ini saja ketumnya ada 5. Kita harapkan ke depan enggak usah kaya gitu lagi," kata Happy.

Masa jabatan Airlangga sebagai Ketum Golkar memang akan habis pada tahun ini. Dia sudah mempersiapkan kembali maju lagi sebagai pimpinan partai. Termasuk memberikan kesempatan buat para kader lain, termasuk Bamsoet untuk tampil dalam pertarungan ketum Golkar.

"Ya namanya Munas Golkar kan terbuka untuk publik," ucap Airlangga menegaskan. [merdeka]

fokus berita : #Airlangga Hartarto #Bambang Soesatyo


Kategori Berita Golkar Lainnya