14 Juli 2019

Berita Golkar - Partai Golongan Karya (Golkar) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) pada Desember 2019. Agenda besar Munas Golkar tahun ini adalah untuk memilih pemimpin baru pada periode 2019-2024.

Meskipun belum menetapkan tanggal pasti kapan digelarnya Munas, gaung persaingan perebutan kursi nomor satu di tubuh partai berlambang pohon beringin ini mulai nyaring terdengar.

Dua nama tokoh besar Golkar seperti Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan Airlangga Hartarto saat ini digadang-gadang akan “berduel” di Munas. Keduanya diketahui sama-sama telah menyiapkan tim serta basis dukungan untuk bisa memenangkan kontestasi tersebut.

1. Perebutan kursi ketum golkar diprediksi akan memanas

Ketua DPP Partai Golkar Andi Sinulingga memprediksi bahwa kontestasi pemilihan ketum Golkar akan memanas. Bukan tanpa sebab, hingga saat ini baru ada dua nama kandidat calon yang menyeruak untuk maju sebagai calon ketum Golkar.

Namun, ia tidak setuju apabila dalam kontestasi itu, masing-masing kandidat saling menyerang secara personal bukan menunjukkan visi dan misi untuk membangun partai berlambang beringin tersebut.

"Karena dua calon membuat memanas dan kita saling hajar sekarang panas. Orang mengatakannya dinamika itu bagus tapi kalau destruktif itu bukan dinamika lagi," kata Andi di Hotel Puri Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/7).

Meskipun diprediksi akan memanas, namun Andi berharap agar pemilihan ketum Golkar tidak seperti pertarungan di Pilpres 2019 lalu lantaran akan membawa dampak negatif bagi partai.

"Saya cuma sebagai fungsionaris mengharapkan supaya kontestasi Partai Golkar bukan seperti cebong kampret, tidak positif. Mudah-mudahan republik ini cepat mencairkan ketegangan," ungkapnya.

Lebih jauh ia menegaskan, kedua calon tersebut juga diminta untuk menahan diri agar internal partai tetap kondusif demi terselenggaranya pemilihan ketum yang dapat menghasilkan pemimpin terbaik untuk lima tahun kedepan. "Kedua pihak bisa menahan diri bayangkan kita satu anak bangsa mencebong-cebongkan mengkampret-kampretkan," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Bamsoet saat ini menempati posisi strategis di pemerintahan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sekaligus Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar. Tidak kalah dengan Bamsoet, Airlangga sendiri adalah seorang Menteri Perindustrian yang juga tengah menjabat sebagai Ketua Umum Golkar.

Nah bagaimana ya peta kekuatan antar keduanya dalam kontestasi ini? Siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan suara di internal partai?

2. Kubu Bamsoet sebut kepemimpinan Airlangga banyak melakukan penyimpangan
Politisi Partai Golkar Yorrys Raweyai yang juga sekaligus tim sukses Bamsoet dalam bursa pencalonan ketum Golkar mengatakan bahwa kepemimpinan Airlangga Hartarto selama dua tahun belakangan ini telah menyimpang. Penyimpangan itu, menurut Yorrys, terkait dengan AD/ART yang dijalankan Airlangga tidak sesuai dengan ketentuan organisasi partai tersebut. Selain itu, perolehan kursi pada Pemilu Legislatif (Pileg) April lalu juga menjadi bahan koreksi tersendiri bagi kepemimpinan Airlangga.

“Sebagaimana diatur disepakati baik itu AD/ART, peraturan-peraturan organisasi dan sebagainya. Malah banyak kebijakan-kebijakan yang kita bisa pahami, kita bisa lihat yang akhirnya Golkar mengalami nasib seperti yang ada sekarang ini,” kata Yorrys di kawasan SCBD, Jakarta selatan, Minggu (7/7).

Tidak hanya di pusat, Yorrys membeberkan bahwa karut marut struktur organisasi partainya juga dirasakan hingga tingkat bawah semenjak dilantiknya Airlangga pada 2017 lalu.

“Di dalam dua tahun kepengurusan bertentangan dengan AD/ART, masih ada 9 Plt yang dibentuk atau ditetapkan dalam kepengurusan DPP sekarang ini yang belum melaksanakan musyawarah daerah secara definitif. Ini melanggar ketentuan AD/ART,” ucapnya.

Dia mengatakan, Airlangga yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri Perindustrian RI tersebut diketahui telah bertindak sewenang-wenang dalam proses seleksi caleg hingga penetapan dukungan terhadap koalisi Joko “Jokowi” Widodo pada Pilpres.

“Banyak sekali masalah-masalah yang dirasakan oleh kader-kader Golkar dari bawah, dan itu akan menjadi akumulasi yang pada akhirnya semua menuntut untuk segera dilakukan Munas untuk memilih pemimpin yang baru. Dan itulah muncul nama Bambang Soesatyo. Dan kami yang duduk di depan ini adalah bagian daripada tim sukses beliau (Bamsoet),” jelas Yorrys.

3.Yorrys: jadi ketum sebaiknya hanya satu periode

Yorrys menegaskan, dalam sebuah organisasi sangatlah perlu dilakukan suatu kaderisasi berjenjang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, ia meminta agar Airlangga tidak melanjutkan lagi kepemimpinannya agar tercipta kaderisasi yang baik di tubuh partai.

“Itulah tradisi Golkar yang dibangun sejak berdirinya Golkar. Ketum itu hanya sekali, tidak boleh dua kali. Ada yang berkata 'oh ini tidak bisa, ini harus begitu', memang secara eksplisit tidak diatur di dalam AD/ART. Tetapi komitmen semangat tentang mengantar Golkar dalam rangka membangun kebesaran Golkar dengan sistem kaderisasi berjenjang dan secara alamiah maka Ketum itu hanya sekali,” tegasnya.

"Logika yang paling sederhana, kalau kepengurusan atau rezim itu dipertahankan 2 periode, maka dia akan membawa gerbong itu kepada periode yang berikut. Sementara tantangan-tantangan perubahan ke depan ini harus dipikirkan sehingga harus ada regenerasi yang mampu membawa Golkar sesuai dengan tantangan zaman,” sambungnya.

4. Kubu Bamsoet klaim dapat dukungan 400 suara
Yorrys yakin Bamsoet akan memenangkan konstestasi ini. Dia bahkan mengklaim sudah mengantongi mayoritas suara pengurus di tingkat II atau Golkar Kabupaten/Kota yaitu sebanyak 400 dukungan.

"Pak Bambang Soesatyo sampai ini hari sudah mendapat dukungan lebih dari 400 dukungan. Tingkat II 514 (suara), DPD I 34 (suara), DPP 1 (suara), ormas pendukung 10 (suara), dan dewan pembina 1 (suara). Ini suara sah di dalam Munas sesuai dengan AD/ART,” kata Yorrys.

5. Agus Gumiwang sebut Airlangga bisa terpilih secara aklamasi

Sementara itu, dari kubu Airlangga Hartarto ada politikus senior Partai Golkar sekaligus Menteri Sosial, Agus Gumiwang, ia menyebut dukungan dari berbagai daerah agar Airlangga kembali menduduki kursi pimpinan partai telah banyak. Dari sekitar 500 suara sah yang bisa mempunyai hak memilih, sudah lebih dari 400 yang memberikan dukungan kepada Airlangga secara langsung.

Dengan kondisi ini, Airlangga bahkan bisa terpilih secara aklamasi karena memang dukungan kepada calon lain sangat minim. "Itu juga bukan masalah karena tidak menyalahi proses demokrasi," kata Agus Gumiwang ditemui dalam peresmian Poltekesos, Selasa (9/7).

Agus mengatakan, aklamasi merupakan sesuatu yang lumrah dalam sebuah pemilihan. Selama aspirasi dukungan ini datang dari mereka yang memang memiliki hak sah dan tidak ada unsur pemaksaan, maka aklamasi bisa terjadi.

Menurutnya, saat ini perwakilan dari daerah tak henti datang menemui Airlangga untuk memberikan dukungan. Bahkan semalam juga ada perwakilan dari lima daerah yang datang. "Menyampaikan dukungan lengkap dengan tanda tangan pengurus. Di antaranya Banten, Maluku Utara, Yogyakarta, NTT dan lupa satu lagi," kata dia.

6. Dedi Mulyadi klaim Airlangga telah dapat dukungan 468 suara
Selain Agus Gumiwang, di kubu Airlangga juga ada Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi yang mengatakan bahwa jumlah pemilik suara pada Munas Golkar sudah mencapai 80 persen. Dukungan suara itu terdiri dari pengurus DPD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota serta organisasi masyarakat (ormas) sayap pendiri partai.

Dari jumlah itu, menurutnya hingga saat ini 468 di antaranya sudah menyatakan untuk mendukung Airlangga. Dukungan ini diyakini memiliki kekuatan hukum karena merupakan hasil musyawarah di masing-masing tingkatan.

"Sekarang sudah 468 suara atau 80 persen sudah menyatakan dukungan kepada Airlangga," kata Dedi di Kantor DPD Golkar Jabar, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Selasa (9/7).

Dedi menyebutkan, dukungan terhadap Airlangga untuk mencalonkan kembali menjadi Ketum DPP Partai Golkar sudah mencapai 80 persen suara. Dukungan itu telah dilakukan DPD tingkat I, DPD tingkat II, dan Ormas sayap partai.

"Seluruh dukungan itu didasarkan rapat pleno di DPD-nya masing-masing baik di tingkat I dan II dengan dibubuhi tanda tangan basah dan stempel. Sifatnya mengikat baik secara moral organisasi maupun secara administrasi organisasi," kata Dedi.

Hal ini, kata Dedi, dukungan terhadap Airlangga bisa dipertanggungjawabkan secara moral baik secara organisasi maupun pribadi yang muncul karena kesadaran.

Dengan jumlah dukungan itu, dia menilai sosok Airlangga diterima oleh seluruh lapisan partainya. Ini membuktikan kandidat petahana itu telah bekerja dengan baik karena mampu membangun komunikasi hingga tingkat bawah.

"Kepemimpinan Airlangga mendapat apresiasi dari segenap partai. Jadi bukan hanya milik elite di Jakarta," katanya.

7. Kedua masih berpeluang untuk menang
Di lain pihak, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai, selain dukungan dari internal partai, juga akan ada variabel lain di eksternal yang dapat mempengaruhi kemenangan yaitu soal restu dari Joko “Jokowi” Widodo sebagai presiden. Hal itu dipelajarinya setelah melihat pertarungan antara Akbar Tanjung dengan Jusuf Kalla pada 2004 silam.

“Saat itu Akbar Tanjung berhasil memenangkan Partai Golkar dari sebelumnya di bawah PDIP tahun 1999, menjadi partai pemenang Pemilu tahun 2004, itu pun keberhasilan bang Akbar dalam memenangkan partai Golkar tidak di-reward oleh peserta Munas dengan memberikan suaranya pada Akbar lagi yang maju sebagai ketum. Justru diberikan kepada Jusuf Kalla di Munas Bali," ujar Burhanuddin.

"Artinya kekuasaan menjadi faktor menentukan di luar performa elektoral ketua umum petahana di pemilu sebelumnya. Saya masih yakin dengan tesis siapa pun yang menang di Munas mendatang, sangat ditentukan apakah si calon memiliki restu dari kekuasaan atau tidak,” sambungnya.

Burhanuddin menjelaskan, Bamsoet dan Airlangga masih memiliki peluang untuk dapat mengambil hati Jokowi karena keduanya sama-sama berada di posisi penting pemerintahan sehingga peluang untuk melakukan pendekatan oleh mereka masih terbuka lebar hingga Munas digelar nanti.

"Referensi pasti ada tapi Pak Jokowi akan menunggu sampai titik akhir, ini berbeda dengan munaslub sebelumnya, itu dari awal sudah kelihatan restu Pak Jokowi dan komitmen internal partai untuk menjaga situasi yang sedang berlangsung saat itu, apalagi menjelang pemilu sehingga partai Golkar sepakat untuk menggelar kesepakatan atau aklamasi dari pemilu,” jelasnya. [idntimes]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya