17 September 2019

Berita Golkar - Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) untuk tak sekadar berkutat menjalankan usaha ekspor barang mentah. Dia juga meminta para pengusaha muda mengembangkan barang mentah menjadi beragam komoditas lain yang memiliki nilai tambah.

Baca Juga: Bamsoet Resmikan Monumen Guru Indonesia Dr. Sulistiyo di Banjarnegara

Pesan itu dia sampaikan khususnya bagi para pelaku di usaha pertambangan mineral, perkebunan, maupun perikanan. “Para pengusaha muda yang energik perlu melihat limpahan sumber daya alam yang ada di darat, laut, maupun dalam kandungan bumi Indonesia bisa dikembangkan menjadi aneka ragam kegiatan industri,” ujarnya saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional XVI Himpi di Jakarta, Senin (16/9/19).

“Dengan begitu, pengusaha muda tak hanya mengandalkan kegiatan usaha ekspor barang mentah, tapi bisa turut berkontribusi menekan defisit transaksi berjalan yang seringkali dialami Indonesia,” kata Bamsoet.

Bendahara umum Partai Golkar 2014-2016 itu menuturkan, survei Sea Group bekerja sama dengan World Economic Forum (WEF) yang dirilis April 2019 lalu memperlihatkan 24,4 persen milenial Indonesia berusia di bawah 36 tahun lebih tertarik menjadi wirausaha. Angka itu lebih tinggi daripada mereka yang ingin menjadi pegawai negeri sipil (17,1 persen); mengembangkan usaha keluarga (16,5 persen), maupun; bekerja di perusahaan multinasional (11,4 persen).

Menurut Bamsoet, Hipmi bersama pemerintah tak boleh diam merespons survei tersebut. Keinginan milenial menjadi wirausaha harus disambut cepat oleh pemerintah maupun Hipmi, sehingga Indonesia bisa melahirkan banyak wirausaha baru, khususnya yang bisa membuat nilai tambah di berbagai industri pertambangan mineral, perkebunan, maupun perikanan.

“Dengan begitu, ke depan yang kita ekspor tak hanya bahan mentah, melainkan juga barang jadi yang sudah diproduksi di dalam negeri,” ucapnya.

Dia menjelaskan, walaupun saat ini jumlah wirausaha Indonesia sudah mencapai 3,1 persen atau sekira 8,06 juta dari 260 juta jiwa total penduduk, jumlah tersebut belum mampu mendongkrak perekonomian nasional menjadi lebih bergeliat. Indonesia masih perlu mengejar berbagai negara tetangga seperti Singapura dengan rasio wirausaha mencapai 7 persen ataupun Malaysia yang berada di 5 persen.

Politikus Partai Golkar itu menuturkan, Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015 memproyeksikan pada 2020 penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 269,6 juta jiwa. Sebanyak 185,34 juta jiwa di antaranya adalah kelompok usia produktif (15-64 tahun).

“Ini membuat Indonesia dilimpahi bonus demografi. Hal ini harus dimanfaatkan sebesarnya untuk melahirkan wirausaha baru, sehingga penduduk usia produktif tak hanya menjadi beban negara, melainkan menjadi berkah bagi bangsa,” kata dia. [inews]

fokus berita : #Bambang Soesatyo


Kategori Berita Golkar Lainnya