13 November 2019

Berita Golkar - Airlangga Hartarto akan kembali bertarung memperebutkan posisi ketua umum dalam Munas Golkar yang akan digelar awal Desember mendatang. Sejak memimpin Golkar pada 2017 menggantikan Setya Novanto, tidak banyak catatan prestasi yang ditorehkan Airlangga. Bahkan perolehan suara beringin di Pemilu 2019 lalu malah menurun.

Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) Gede Munanto. Terbukti dari perolehan suara dan kursi Golkar yang merosot. Dari 14,75 persen (91 kursi) di Pemilu 2014, menjadi 11,71 persen (85 kursi) di Pemilu 2019.

Baca Juga: Pengamat Nilai Komposisi AKD DPR Dari Golkar Tak Cerminkan Rekonsiliasi Airlangga-Bamsoet

"Perolehan suara dan kursi di era Ketua Umum Airlangga Hartarto ini adalah terjeblok dalam sejarah Partai Golkar," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/11).

Munanto menambahkan, salah satu catatan minimnya prestasi Airlangga juga saat dia menjadi Menteri Perindustrian. Baru-baru ini Presiden Jokowi mengungkapkan rasa malunya karena Indonesia masih mengimpor cangkul.

"Ini harusnya menjadi tamparan keras buat Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian yang sebelumnya menjabat Menteri Perindustrian. Sebab, Jokowi mengungkap langsung ketidakmampuan industri Indonesia di era Airlangga dalam menciptakan industri cangkul yang sebenarnya sangat sederhana," ujar Dosen Komunikasi Politik Universitas Pancasila ini.

Baca Juga: Pemaksaan Aklamasi di Munas, Bamsoet Nilai Bakal Bikin Golkar Pecah Lagi Seperti Bali dan Ancol

Bagi Munanto, keluhan Presiden terhadap hal kecil yang seharusnya bisa diciptakan Menperin Airlangga kala itu, menunjukkan yang bersangkutan memang minim prestasi. "Kalaupun Airlangga kemudian dipilih Jokowi sebagai Menko Perekonomian hal tersebut lebih kepada bargaining position-nya sebagai Ketum Golkar. Bukan karena prestasi," cetusnya. {www.merdeka.com}

fokus berita : #Gede Munanto #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya