23 Januari 2020

Berita Golkar - Awal 2020 dibuka dengan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang diprediksi bakal memicu Perang Dunia III. Semua bermula dari pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran, Jenderal Qassim Sulaimani dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak.

Iran saat itu bersumpah untuk membalas kematian Sulaimani. Sepekan kemudian, Iran membalas dengan menyerang dua pangkalan pasukan AS di Irak.

Menanggapi hal ini, sejumlah negara menyerukan kedua negara menurunkan ketegangan, salah satunya Indonesia. Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi saat itu langsung memanggil Dubes Iran dan Dubes AS untuk Indonesia membahas hal ini.

Baca Juga: BUMD Energi Dibentuk, Padmasari Mestikajati Optimis Pengelolaan Migas Jateng Makin Baik

Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid mengatakan, walaupun nampaknya saat ini AS tak akan masuk lebih jauh ke Iran, namun langkah Presiden Donald Trump terkadang sulit diprediksi. Karena itulah pihaknya meminta Indonesia terus terlibat dan memanfaatkan seluruh jaringannya untuk mencegah terjadinya eskalasi makin meningkat antara Iran dan AS.

"Pesan kepada Kementerian Luar Negeri bahwa kita, Indonesia has to do all we can untuk membantu mencegah potensi yang tidak kita harapkan tidak terjadi. Kemlu perlu gunakan segala cara, mengontak semua orang, melibatkan sebanyak mungkin orang-orang yang terlibat dalam hal ini," jelasnya dalam diskusi Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC), Kamis (23/1) sore.

Ekonomi Bisa Terganggu

Jika konflik Iran-AS semakin memanas, dampaknya ialah kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di banyak negara termasuk Indonesia. Apalagi Indonesia masih memberikan subsidi yang cukup besar.

Baca Juga: Prabasa Anantatur Bangga Maman Abdurrahman Jabat Ketua Bappilu DPP Golkar

"Jadi kekhawatirannya ekonomi kita dapat terganggu. Poinnya adalah kita harus bersama-sama membantu supaya ada penurunan ketegangan di wilayah Timur Tengah khususnya hubungan antara Amerika Serikat dengan Iran," jelasnya.

"Jadi saya meminta pemerintah menggunakan segala channel, segala upaya untuk melakukan upaya-upaya untuk meredakan ketegangan di sana. Siapapun silakan hubungi Menteri Luar Negeri AS, Menteri Luar Negeri Iran, berkomunikasi untuk menyampaikan bahwa Indonesia menginginkan adanya perdamaian di kawasan itu," lanjutnya.

Mantan jurnalis ini menambahkan, diplomasi tak melulu harus menggunakan megaphone diplomacy atau hanya koar-koar, tapi juga harus bertindak secara terukur.

Baca Juga: Gagas Kolaborasi, DPP AMPI Terima Courtesy Meeting Dari NYC Of Singapore

Galang Suara Negara-negara Islam

Indonesia harus menyampaikan kepada berbagai pihak bahwa Indonesia ingin perdamaian. Kemudian meminta kedua negara yang berkonflik agar menahan diri dengan mempertimbangkan dampak bagi negara-negara lainnya.

"Karena apapun dalam dunia global seperti ini peningkatan ketegangan di satu negara akan berdampak ke negara-negara lainnya," kata dia.

"Dalam hal ini bukan kerasnya ya tapi intensitas yang harus dilakukan. Jadi bukan bicara dengan keras, tapi bicara kepada banyak pihak. Jadi siapapun yang dianggap dapat membantu baik dari dalam negeri maupun luar negeri silakan digalang dan dikomunikasikan," lanjutnya.

Baca Juga: Sungai Musi Siaga 3, Bupati Dodi Reza Alex Minta Camat Tak Tinggalkan Wilayah Masing-Masing

Indonesia, kata politikus Golkar ini, bisa mengajak negara-negara ASEAN agar ikut menyuarakan hal ini. Termasuk juga menggalang suara negara-negara Islam, maupun bersuara di Dewan Keamanan PBB.

"Segala cara, mau lewat sosial media, Twitter, diplomasi, surat, telepon, dengan segala cara. Karena dampaknya jika terjadi peningkatan ketegangan di sana akan sangat buruk tak hanya bagi Indonesia tapi bagi dunia," tegasnya. {www.merdeka.com}

fokus berita : #Meutya Hafid


Kategori Berita Golkar Lainnya