14 Februari 2020

Golkar Kalsel Pasrahkan Cawagub Sahbirin Noor ke DPP, Muhidin Bisa Terpental?

Berita Golkar - Beredarnya nama-nama kandidat hasil penjaringan Partai Golkar Kalsel untuk dimintakan rekomendasi DPP Partai Golkar, menjadi isu baru di tengah pertarungan Pilkada 2020. Kabar jika nama incumbent Gubernur Kalsel Sahbirin Noor diserahkan ke DPP Golkar tanpa pasangan, bisa mengubah kecenderungan arah politik.

Nama H Muhidin yang sebelumnya menguat, bisa terpental dalam pembahasan elite beringin di Jakarta? Informasi yang sebelumnya beredar di kalangan kader partai di dewan Kalsel, hasil penjaringan Golkar Kalsel telah rampung dan disampaikan ke DPP Golkar pada Jumat (7/2/2020).

Dari sejumlah nama yang disampaikan, ada yang sudah sepakat dengan pasangan tapi ada pula yang hanya calon kepala daerahnya saja. Begitupun, dari 7 kabupaten/kota plus Provinsi yang menggelar Pilkada, ada satu daerah yang masih kosong alias belum ditetapkan jago dari Partai Golkar.

Baca Juga: Bantah Kepala BPIP, Idris Laena Sebut Pancasila Ideologi Yang Ramah Bagi Semua Agama

Untuk Pilgub Kalsel, disodorkannya nama incumbent Sahbirin Noor tanpa calon pasangan ke DPP Golkar bisa menjadi wacana tersendiri. Meski sebelumnya disebutkan dalam laporan bahwa ada tujuh nama yang sebelumnya melamar, tapi nyatanya tak ada satu pun dari nama tersebut yang dicantumkan oleh DPD Golkar Kalsel.

Padahal, untuk sejumlah pasangan di Pilkada Kabupaten/Kota, DPD Golkar menyebutkan paket pasangan yang dijagokan ke pusat. Kecuali untuk Pilkada di Kotabaru, dimana Golkar juga hanya menyodorkan calon Bupati yakni Sayed Jafar.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Golkar Kalsel masih gamang menentukan pasangan Sahbirin?

Saat pendaftaran lalu, diektahui sejumlah nama mengajukan sebagai pasangan incumbent. Maulai dari Gusti Iskandar (Golkar), Abdul Wahid (Golkar), Rosehan NB (PDIP), Sofwat Hadi (Mantan DPD), dan Gusti Sahyar (tim ahli). Sedangkan nama H Muhidin (Ketua PAN Kalsel) masuk belakangan sebagai kandidat kuat yang akan digandeng Sahbirin.

Baca Juga: Tokoh Senior Tjok Pemecutan Ingin Golkar Bali Dipimpin Kader Pemersatu

Kabar incumbent Sahbirin Noor memilih Ketua DPW PAN Kalsel, Muhidin, sebagai pasangannya dalam Pilgub 2020, memang menuai pro-kontra. Terutama di kalangan partai koalisi incumbent, seperti PDIP Kalsel.

Parpol yang sejak kali pertama menyatakan dukungannya atas Sahbirin ini, merasa dilangkahi oleh manuver PAN, jika benar Muhidin yang dipilih Sahbirin.

Terkait isu santer yang beredar tersebut, Sekretaris DPD PDIP Provinsi Kalsel M. Syaripuddin mengatakan, keputusan soal siapa yang akan dipilih menjadi bakal calon wakil gubernur tetap berada di tangan gubernur petahana.

“Kita juga terus melakukan komunikasi politik bagaimana PDIP bersama Paman Birin bisa sama-sama membangun Kalsel,” katanya beberapa waktu lalu kepada Kanalkalimantan.com.

Baca Juga: Supriansa Paparkan Beda Century dan Jiwasraya, Sehingga Golkar Pilih Panja Daripada Pansus

Pada Pilgub 2015 lalu, PDIP merupakan satu dari sekian partai politik yang tergabung dalam koalisi besar yang mengusung Paman Birin bersama wakilnya Rudy Resnawan saat itu. “(PDIP) sebagai partai yang terdepan dalam pencalonan Paman Birin, kita juga melihat ke depan bagaimana proses politik ini berjalan dan kita terus ikuti,” jelasnya.

Selain itu, ‘ancaman’ akan lahirnya poros ketika jika incumbent memaksakan Muhidin, bisa jadi cukup diperhatikan Golkar Kalsel. Rajutan koalisi antara Partai Golkar dan PDIP bisa lepas jika Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri ternyata tak berkenan dengan pilihan incumbent atas Ketua DPW PAN Kalsel H Muhidin sebagai pasangan cawagub.

Tak bisa dihindari, konstelasi politik dalam berebut kursi ‘Kalsel 1’ tak terlepas dari tangan petinggi parpol di pusat. Para ketua umum inilah, yang menjadi faktor penentu pertarungan di daerah melalui surat sakti bernama rekomendasi.

Baca Juga: Marak Kekerasan di Sekolah, Hetifah Sentil Keras Kemendikbud

Kemenangan kandidat dalam Pilgub maupun Pilkada Kabupaten/Kota, tidak sekadar menjadi adu gengsi partai, tapi juga terkait strategi pemenangan suara dalam Pemilu selanjutnya. Maka dalam menentukan sosok yang ditarungkan di Pilkada, para ketua umum parpol akan melihat sejauh mana kadernya bisa terlibat dan mendulang kemenangan.

Sebagaimana diketahui, PDIP Kalsel sebelumnya telah menyodorkan nama H Rosehan NB. Meski memiliki suara signifikan (PDIP Kalsel meraih 8 kursi di DPRD)— peringkat dua bersama Gerindra yang juga memperoleh kursi sama, mereka tidak serta merta mengusung calon sendiri. Tapi, PDIP memilih hanya menyodorkan wakil gubernur atas dasar komitmen menyokong pencalonan incumbent Sahbirin.

Tapi di tengah jalan–meski masih sebatas isu, munculnya duet Sahbirin-Muhidin memupus harapan partai berlambang banteng moncong putih ini.

 

Baca Juga: AMPG Kota Kendari Nilai Belum Ada Yang Bisa Gantikan Ridwan Bae Pimpin Golkar Sultra

Rosehan sendiri, sebelumnya digadang berpasangan dengan Sahbirin. Itu jika koalisi besar di mana kader PDIP ditempatkan untuk mendampingi petahana benar-benar terjadi. “Kita serahkan ke (DPP) PDIP, saya berpasangan dengan Paman Birin atau saya dengan siapa. Itu urusan pengurus partai,” paparnya.

Rosehan pun menekankan, dalam dunia politik memang segala sesuatu mungkin terjadi. Ya, karena baginya politik itu dinamis dan tidak kaku. “Politik itu tidak terlalu harus kaku begitu lah. Santai saja,” bebernya. {www.kanalkalimantan.com}

fokus berita : #Sahbirin Noor #Muhidin