10 Maret 2020

Bamsoet Paparkan Lima Musuh Utama Pancasila

Berita Golkar - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo ingin mengembalikan marwah Pancasila agar dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Karena selama ini, Pancasila memiliki 5 musuh utama yang membuatnya seakan kehilangan marwahnya.

"MPR RI bersama seluruh stakeholder akan menghidupkan kembali penerapan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," terang Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (10/3/2020).

Usai menerima jajaran Pelaksana BPIP di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta itu, Bamsoet memaparkan 5 musuh utama Pancasila saat ini, di antaranya adalah intoleransi yang tidak sejalan dengan sila pertama.

Baca Juga: Bamsoet Tak Ingin Ekonomi RI Lumpuh Karena Takut Wabah Virus Corona

Kemudian pelanggaran HAM dan penegakan hukum yang tak sesuai dengan sila kedua, disintegrasi yang berlawanan dengan sila ketiga, liberalisasi yang kontradiktif dengan sila keempat, serta kemiskinan dan kesenjangan sosial yang bertolak belakang dengan sila kelima.

"Menghadapi berbagai musuh tersebut, seluruh elemen bangsa Indonesia harus bekerja sama. Lembaga negara tak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi MPR RI dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akan membuat Pancasila kembali menjadi tuan rumah di negerinya sendiri."

"Tak seperti selama ini, Pancasila terkesan terasingkan dari hingar bingar reformasi dan pertarungan politik para elite," lanjutnya.

Ketua DPR RI 2014-2019 ini menambahkan, setelah reformasi bergulir pada 1998, tafsir Pancasila seperti dilepas ke pasar bebas.

Baca Juga: Dialog Dengan Christina Aryani, IPTI Jakarta Dorong Pengesahan RUU Perlindungan Data Pribadi

Ini ditandai dengan penghapusan TAP MPR RI Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), pembubaran Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7), dan penghapusan mata pelajaran Pancasila sebagai mata pelajaran pokok di instansi pendidikan.

"Negara kehilangan kuasa dalam membina mental ideologi bangsa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Akibatnya ideologi transnasional yang tak sesuai jati diri bangsa dengan mudah menginfiltrasi berbagai sendi kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia seperti tercabut dari akar jati dirinya," terangnya.

Menurutnya, sebagai tahap awal mengembalikan marwah Pancasila, MPR RI beserta BPIP mendorong revisi UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 37 supaya pelajaran Pancasila menjadi kurikulum wajib mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Baca Juga: Bamsoet Ingin Perkuat KPK Berdasar Asas Pancasila

MPR RI dan BPIP juga sepakat menandatangani MoU untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan anggota MPR RI berjumlah 711 orang, menjadikan MPR RI memiliki kekuatan sosial sebagai agen Pancasila.

"Setiap anggota MPR RI dari berbagai daerah pemilihan, memiliki konstitusi yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Jika setiap anggota bisa menyentuh konstituennya untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, akan memberikan dampak luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara," tambah Bamsoet.

Sudah 22 tahun reformasi berjalan, pahit dan manis telah banyak dirasakan bangsa ini. Banyak nilai positif yang dihasilkan seperti kebebasan pers, kebebasan berserikat, berkumpul, mengemukakan pendapat, serta supremasi masyarakat sipil.

Baca Juga: Agar Tak Ganggu Ibadah Haji, Ace Hasan Desak Pemerintah Tangani Corona Secepatnya

"Namun bukan berarti tidak ada sisi pahitnya. Maraknya politik identitas sempat dimanfaatkan segelintir elite guna meraih kekuasaan. Akibatnya, bangsa kita hampir terjebak dalam konflik horizontal. Untungnya kita segera tersadar, ada Pancasila yang menyelamatkan," pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut hadir pula para Wakil Ketua MPR RI antara lain Hidayat Nur Wahid, Ahmad Basarah, Lestari Moerdijat, Syarief Hasan, Jazilul Fawaid, Zulkifli Hasan, dan Fadel Muhammad.

Jajaran Pelaksana BPIP yang hadir antara lain Kepala Yudian Wahyudi, Wakil Kepala Hariyono, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi FX Adji Samekto, Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Baby Salamah, Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi Rima Agristina, Staf Khusus Dewan Pengarah Benny Susetyo, dan Sekretaris Utama Karjono. {news.detik.com}

fokus berita : #Bambang Soesatyo