23 September 2017

Ridwan Kamil Sebut Rekomendasi Bodong Drama dan Dinamika Jelang Pilgub Jabar

Berita Golkar - 

Kabar pengusungan Ridwan Kamil oleh DPP Partai Golkar yang sempat membuat heboh ditanggapi santai Ridwan Kamil. Pria yang akrab disapa Emil itu justru menganggap kabar itu sebagai drama jelang pilgub Jabar 2018 mendatang.

Ditemui di sela-sela acara sosialisasi dirinya sebagai kandidat cagub Jabar di Kabupaten Cianjur, Sabtu (23/9/2017), Emil mengaku tak ingin mengomentari kabar yang dipicu oleh beredarnya salinan Surat Keputusan (SK) DPP Partai Golkar tersebut.

Seperti diketahui, Jumat (22/9/2017) kemarin, beredar salinan SK DPP Golkar yang menyatakan dukungan Partai Golkar terhadap Ridwan Kamil sebagai calon kepala daerah Provinsi Jabar berpasangan dengan Daniel Mutaqien Syafiuddin sebagai calon wakil kepala daerah di Pilgub Jabar 2018.

"Terhadap dinamika mah, dari dulu saya selalu tenang, mengalir seperti air. Drama-drama pasti ada," kata Emil.

Emil pun mengaku tak lantas berbangga hati mendengar kabar dukungan yang diberikan Partai Golkar tersebut. Sebaliknya, kata Emil, dirinya memilih tak berkomentar banyak menanggapi kabar tersebut.

"Sebelum janur kuning melengkung atau surat resminya saya lihat, saya tidak akan bisa mengomentari terlalu jauh," ujarnya.

Terlebih, kata Emil, andaikan SK tersebut benar ditujukan kepadanya, hal itu pasti sudah didahului komunikasi di antara elite partai pendukungnya.

Hal senada diungkapkan Ketua DPW Partai NasDem Saan Mustopa. Sebagai partai pengusung Ridwan Kamil, partainya bersama Ridwan Kamil akan menunggu keputusan resmi DPP Partai Golkar jika Golkar benar-benar mengusung Ridwan Kamil di Pilgub jabar 2018.

"Jadi, kita tidak ingin terlalu menanggapi karena NasDem juga menghargai sikap Partai Golkar yang sejak awal sudah mencalonkan Pak Dedi Mulyadi," tegas Saan.

Saan pun menyatakan, sebelum keputusan resmi tersebut dikeluarkan pihak DPP Partai Golkar, partainya belum akan membangun komunikasi dengan partai berlambang pohon beringin itu.

"Kita menunggu sikap resminya, setelah itu (SK resmi keluar), baru kita mau pakai pola seperti apa dengan berkomunikasi. Sebelum ada sikap resmi dari Partai Golkar, kita tidak akan membangun komunikasi," pungkasnya. [sindonews]

fokus berita :