01 Juli 2020

Berita Golkar - Bila kita telusuri lebih dalam mengenai pemerintahan yang ada di Indonesia, maka akan menemukan peran dari adanya partai politik. Bila kita berbicara soal partai politik, sudah pasti mengenal partai Golkar yang juga turut memberikan andil besar dalam kontribusi terbaik mereka untuk mensukseskan pemerintahan Indonesia.

Jika kita masih ingat saat tahun lalu, dimana seorang Akbar Tandjung sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar memberikan pernyataannya di depan awak media bahwa dalam perekrutan calon presiden di partai Golkar dilakukan melalui konvensi capres partai Golkar.

Pendapat yang disampaikannya itu bak petir di siang bolong dan berhasil menyita perhatian khalayak umum. Hal ini membuat Akbar mengenang kala konvensi capres yang digelar oleh partai Golkar pada tahun 2004 silam.

Ketika Indonesia memasuki masa reformasi, Akbar Tanjung terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Masa jabatan yang diembankan kepadanya 1998 hingga 2004.

Akbar Tandjung dan Konvensi Capres Partai Golkar
Sejak 6 Oktober 1999 yang lalu, Akbar terpilih menjadi Ketua DPR-RI periode 1999-2004. Pemilihannya ini melalui pemungutan suara atau voting.

Pada saat pemungutan suara, Akbar Tandjung berhasil mendapatkan suara terbanyak, beliau meraih 411 suara. Catatan yang ada, beliau berhasil mengalahkan saingan utamanya yaitu Soetardjo Soerjogoeritno dari partai PDI Perjuangan.

Melalui daftar hadir terdapat 491 anggota dewan yang berpartisipasi dalam pemungutan suara. Kala itu Soetardjo Soerjogoeritno dari Fraksi PDI Perjuangan memperoleh 54 suara.

Semasa Akbar Tandjung menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar, beliau pernah menjadi sorotan publik karena keberuntungan yang dimilikinya. Beliau lolos dari jeratan hukum setelah mahkamah agung mengabulkan permohonan kasasinya.

Karena kasus ini, memberikan peluang akan kemungkinannya ikut serta sebagai calon presiden di dalam pemilu 2004. Namun sangat disayangkan, beliau tidak dicalonkan partainya sendiri karena dikalahkan oleh Wiranto dalam konvensi capres partai Golkar.

Kemudian, Akbar Tandjung juga harus kehilangan jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar setelah dikalahkan oleh Jusuf Kalla. Selanjutnya beliau belajar di Universitas Gadjah Mada dan mendirikan Akbar Tandjung Institute.

Pendapat Akbar Tandjung, Calon Presiden Partai Golkar Idealnya Melalui Konvensi
Mengulas sedikit mengenai konvensi. Konvensi sendiri merupakan aturan-aturan dasar di dalam praktik penyelenggaraan negara.

Muncul karena kebiasaan-kebiasaan, akan tetapi bersifat tidak tertulis. Bila kita melihat dari sebuah pengertian lain, arti konvensi ini mengarah pada suatu hukum tidak tertulis yang ada di dalam ketatanegaraan dan timbul karena kebiasaan-kebiasaan.

Kebiasaan konvensi ini pun bertujuan untuk mengisi kekosongan hukum yang tidak diatur di dalam hukum tertulis, yakni konstitusi atau UUD 1945. Walaupun sifatnya tidak tertulis, aturan tidak tertulis ini bisa diterima oleh suatu negara serta dilakukan secara terus menerus.

Sembari memberikan apresiasinya terhadap gelaran konvensi calon presiden PD, Akbar Tandjung memberikan ungkapannya bahwa rekrutmen kepemimpinan haruslah menciptakan iklim bagi setiap orang.

Dimana mereka yang merasa terpanggil, terbuka, menjadi proses demokrasi, partisipasi, dan juga transparan. Hal inilah yang pernah dilakukan oleh beliau dan partner-partner politiknya.

Saat itu menurut Akbar, partai Golkar cukup memberikan hasil yang baik dalam menggelar konvensi serta mampu merekrut sekitar 19 calon presiden. Pendaftaran dilakukan secara terbuka serta melalui proses seleksi tingkat satu dan dua.

Dari 19 calon presiden yang didapatkan, muncul lima orang, dan lima orang ini memiliki prospektif yang sangat baik sebagai calon presiden. Hal inilah yang dikenang Akbar Tandjung saat konvensi capres partai Golkar.

Harapan Akbar Tandjung
Sejumlah peserta yang sudah terdaftar pada konvensi calon presiden partai Golkar saat itu masih memiliki nama, mungkin hingga saat ini. Beberapa juga masih menyimpan ambisi dan tekap untuk menjadi calon presiden.

Kala itu terdapat tokoh-toko partai politik terkemuka seperti Aburizal Bakrie, Wiranto, Prabowo yang disebut memiliki elektabilitas tertinggi, serta Surya Paloh. Pada saat itu, Wiranto berhasil memenangkan konvensi.

Eksistensi dari tokoh-tokoh partai politik ini memang benar-benar nyata. Wiranto yang saat ini berhasil memenangkan konvensi, kemudian terus bertahan dan berlanjut menjadi politikus partai Hanura.

Dimana juga maju di dalam bursa pencapresan. Berkat adanya konvensi partai Golkar, juga berhasil menjadikan Aburizal Bakrie sebagai pemimpin partai Golkar. Kemudian Prabowo Subianto yang kemudian mendirikan partai Gerindra serta menjadi calon presiden dengan elektabilitas yang sangat diperhitungkan.

Bukan hanya itu saja, ada pula Surya Paloh yang juga disebut-sebut maju menjadi capres dengan partai Nasdem. Memang banyak pihak yang menyebutkan bahwa konvensi capres partai Golkar merupakan akal-akalan dari Akbar Tandjung.

Namun, akhirnya telah disadari bahwa konvensi tersebut adalah sungguh-sungguh. Jika pemenang konvensi tidak menjadi presiden itu merupakan persoalan yang lain.

Meskipun pada saat itu Wiranto gagal memenangkan pilihan presiden. Kemudian siapa sangka bahwa Susilo Bambang Yudhoyono muncul secara fenomenal dan terpilih menjadi presiden. Akan tetapi, bila dilihat dari jabatan formal di TNI Wiranto memiliki kedudukan lebih tinggi.

Harapan Akbar Tandjung pun tak berhenti di situ saja, beliau juga berharap konvensi calon presiden yang dilakukan PD berjalan dengan fair dan demokratis. Seakan menunjukkan bahwa konvensi ini merupakan perantara terbaik untuk mencari calon presiden yang benar-benar berkompeten.

Sekiranya hasil survei menjadi sebuah keputusan final, penilaian elektabilitas yang dihasilkan konvensi tentu saja mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebab, publik ikut serta dapat memberikan penilaian melalui mekanisme survei yang tidak bisa diragukan kredibilitasnya. Inilah yang kemudian memperlihatkan adanya kemajuan di dalam politik.

Peran Partai Politik
Partai politik memiliki kedudukan sebagai pilar demokrasi. Peran dari partai politik di dalam sistem perpolitikan nasional adalah sebuah wadah seleksi kepemimpinan nasional dan juga daerah.

Pengalaman di dalam rangkaian penyelenggaraan seleksi kepemimpinan nasional maupun daerah melalui pemilihan umum memberikan satu bukti nyata, yaitu membawa keberhasilan partai politik sebagai pilar demokrasi. Penyelenggaraan pemilu di tahun 2004 dinilai cukup berhasil oleh banyak kalangan masyarakat, bahkan termasuk juga kalangan internasional.

Menilik dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sistem perpolitikan nasional telah dipandang mulai sejalan dengan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimana di dalamnya telah mencakup penataan partai politik.

Peran dari adanya partai politik memang terbukti telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap sistem perpolitikan nasional. Apalagi di dalam kehidupan masyarakat Indonesia sendiri yang dinamis dan sedang berubah.

Bila kapasitas serta kinerja partai politik bisa ditingkatkan, maka hal tersebut akan memberikan pengaruh besar pada peningkatan kualitas demokrasi serta kinerja sistem politik. Maka dari itulah, peran partai politik ini perlu ditingkatkan kapasitas, kinerja, dan kualitasnya.

Ini agar nantinya bisa mewujudkan aspirasi serta kehendak masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas demokrasi itu sendiri. Bila kita menelaah dari peran partai politik ini, mungkin sejalan dengan usulan Akbar Tandjung untuk mengadakan konvensi capres partai Golkar guna merekrut calon presiden di partai Golkar. Pasalnya, konvensi adalah sebuah kemajuan politik yang menjadikan demokrasi sehat dan adil. Dengan demikian, ada kemungkinan yang besar untuk mencapai tujuan bersama demi kesejahteraan bangsa dan negara.

Achmad Annama Chayat, Koordinator Golkar Milenial, Founder Golkarpedia, Eks Caketum Partai Golkar

fokus berita : #Akbar Tandjung


Kategori Berita Golkar Lainnya