08 Juli 2020

Berita Golkar - Wakil Ketua Umum bidang Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Nurul Arifin mengatakan ada pengalaman yang tidak menyenangkan apabila dalam kontestasi politik yang bertarung hanya dua pasang calon saja.

Nurul mengatakan ketika kalah dalam situasi tersebut, maka akan meninggalkan kepedihan yang mendalam dan susah move on.

"Karena belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya selalu kalau dua calon itu menyisakan kepedihan, luka yang mendalam. Yang Pilgub lah, yang Pilpres lah, selalu dalam banget dan susah move on nya," ujar Nurul, dalam diskusi online 'Garuda dan Beringin Kongkow di Kertanegara', Rabu (8/7/2020).

Baca Juga: Demi Demokrasi Semarak Tapi Sejuk, Golkar-Gerindra Sepakat Koalisi di Sejumlah Pilkada 2020

Menurutnya hingga kini pihaknya juga belum mengetahui akan ada berapa pasang calon nantinya di Pilpres 2024 mendatang. Namun dia berharap ada lebih dari dua pasang calon.

"Kemungkinannya lebih banyak lebih bagus lah. Dan kita belum tahu apakah nanti bisa lebih dari dua calon. Nah ini kan nggak sehat juga ya, kalau bisa ke depannya bisa lebih dari dua pasang calon," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Partai Golkar belum pernah mengusung kadernya sendiri dalam kontestasi pemilihan presiden semenjak Jusuf Kalla. Wakil Ketua Umum bidang Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Nurul Arifin mengatakan pihaknya berharap dalam Pilpres 2024 dapat mengusung kadernya sendiri.

Baca Juga: Lindungi Pekerja Migran, Christina Aryani Desak Kemenlu Segera Perbaharui MoU Dengan Malaysia

"Ini memang suatu defisit dari kami, pasca pak JK belum pernah Golkar punya calon sendiri dan kami akhirnya hanya sebagai pendukung begitu. Buat kami kader-kader lama dan keluarga besar Partai Golkar tentu kami menginginkan ada calon dari keluarganya sendiri lah. Itu menjadi harapan kita semua," ujar Nurul, Rabu (8/7/2020)

Nurul mengaku Golkar hingga saat ini belum memiliki nama dari kadernya sendiri untuk diusung dalam Pilpres 2024. Pasalnya hal tersebut dinilai masih terlalu jauh dan dinamis untuk menyebut nama tertentu.

"Kalau kami belum sampai menyebut nama, kemudian belum tahu juga siapa karena petanya masih sangat dinamis," ungkapnya. 

Baca Juga: Tak Perbaiki Kinerja Tangani COVID-19, Dito Ganinduto Ancam Kocok Ulang Pimpinan BI dan OJK

"Apalagi kemudian imbas dari Covid-19 ini melahirkan banyak wajah-wajah muda, kepala daerah muda yang kemudian potensial menjadi capres, mungkin cawapres. Namun kami melihat juga ada beberapa yang nggak punya parpol juga. Itu bisa jadi pertimbangan-pertimbangan internal," jelasnya.

Meski demikian, Nurul mengatakan Golkar tentu memiliki keinginan untuk bisa mengusung Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dalam kontestasi politik mendatang.

Hanya saja, kata dia, masih sangat prematur untuk menyebut nama pada saat ini. Airlangga juga masih fokus bekerja untuk pemerintah dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Baca Juga: Enggan Bikin Gaduh, Kodrat Sunyoto Pastikan Fraksi Golkar Tolak Interpelasi Bank Jatim

"Kalau berbicara Ketua Umum, tentu saja ada keinginan untuk bisa kami mengusung beliau lah. Karena kan fatsunnya sebagai ketua umum kan jelas kadernya itu kan pengennya kita punya calon sendiri," kata dia.

"Tapi kalau hari ini masih sangat prematur untuk menyebut nama. Karena kami tahu Ketua Umum kami masih sangat bekerja keras buat pemerintah. Beliau juga menjadi salah satu ujung tombak dalam rekonstruksi dari perekonomian saat ini. Dan semoga apa yang dikerjakan beliau dirasakan oleh masyarakat sehingga menjadi satu catatan atau ingatan positif untuk semuanya," tandasnya. {www.tribunnews.com}

fokus berita : #Nurul Arifin


Kategori Berita Golkar Lainnya