04 Oktober 2017

Elektabilitas, Praperadilan dan Novanto. Kemana Partai Golkar Menuju?

Kegaduhan di tubuh beringin bukan semakin surut, malah semakin berkobar pasca kemenangan Novanto dalam praperadilan. Pasalnya, praperadilan itu justru menimbulkan perlawanan di tengah masyarakat. Reaksi masyarakat beragam bentuk, aksi di dunia maya maupun aksi demonstrasi yang menunjukkan adanya kematian hukum yang diketuk hakim Cepi Iskandar.

Sebelum praperadilan diketuk Cepi, DPP Partai Golkar telah menunjuk Yorrys Raweyai sebagai ketua kajian elektabilitas. Selama 10 hari tim bekerja dan menghasilkan rekomendasi penonaktifan Novanto sebagai ketua umum. Rekomendasi itu dibacakan dalam rapat harian DPP, dan merekomendasikan disampaikan di rapat pleno untuk diputuskan.

Rapat pleno mundur dan ditunda beberapa kali, hingga Novanto menang praperadilan. Kajian tim elektabilitas yg menggandeng 3 lembaga survey yang kredibel, tidak mengaitkan dengan apapun hasil praperadilan, maka rekomendasi akan tetap dijalankan demi kebangkitan partai.

Alih alih mengadakan pleno yang dimaksud, justru Novanto dan Idrus Marham meneror ketua tim Yorrys Raweyai dengan opini pencopotan dari jabatannya sebagai Korbid Polhukam.

Fakta lain yang perlu dikemukakan, adalah reaksi besar menolak praperadilan sebagai wujud dikangkangi hukum, semakin menambah beban partai karena berada dalam arus besar melawan hati nurani rakyat.

Kemana Partai Golkar menuju?

Sebuah partai berdiri untuk menjadi alat perjuangan rakyat, bukan alat permainan para pengurusnya. Selayaknya keluarga besar Partai Golkar berfikir jernih dan peka atas kehendak rakyat yang menjadi ruang tumbuhnya partai. Hasil praperadilan akan semakin menjauhkan partai dengan rakyatnya. Layaknya ikan yang dipisah dari air kolam. Ia akan mati.

Langkah bijak dan tepat adalah menindaklanjuti rekomendasi Tim Elektabikitas yang diketuai Yorry Raweyai, dengan menggelar pleno menonaktifkan Novanto sebagai ketua umum. Sehingga partai dapat segera konsolidasi dan mrmbangun image baru, berbaur dengan nafas dan ruh kehendak rakyat.

Partai Golkar kalau selalu dijalankan melawan arus sejarah akan tenggelam dalam sedotan Blakc Hole sejarah politik Indonesia. Hilang dan mati. Hanya menjadi kenangan. Kadang saya berfikir, apakah hasil praperadilan ini adalah jebakan batman yang dipasang para kompetitor, agar partai mati pelan-pelan hingga terkubur dalam black hole.

Tinggal para senior Partai Golkar, masihkah mencintai partai ini atau membiarkannya berkubang konflik dan mati, atau mengambil langkah keluar dari jebakan batman.

M. Shoim Haris, Pegiat GMPG, Ketua Bidang Kajian Strategis DPP Ormas MKGR

fokus berita :