08 September 2020

Karyawanisme Baru ala SOKSI, Jawaban Untuk Resesi Ekonomi Indonesia

Berita Golkar - Resesi ekonomi di depan mata, seluruh sektor di Indonesia sedang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari adanya resesi. Namun, bagi Depinas SOKSI, terutama Ketua Dewan Pakar Depinas SOKSI, Bomer Pasaribu, resesi ekonomi harus dihadapi dengan bijak.

Bomer menyebut, SOKSI sebagai organisasi dalam menghadapi resesi ekonomi menghendaki pembaharuan dalam berbagai sektor.

Terkait dengan pembaharuan itu, dalam kesempatan wawancara di acara pengumuman struktur pengurus Depinas SOKSI 2020-2025 yang diselenggarakan di Kuningan Suites, 8 September 2020, Bomer Pasaribu menyebut pembaharuan secara alami terjadi akibat dua tsunami besar, yakni revolusi industri 4.0 dan juga pandemi Covid-19.

“SOKSI ingin mengadakan pembaharuan dengan dua tsunami besar yang terjadi, pertama revolusi 4.0 yang sedang melanda dunia dan pandemi Covid-19. Dua hal ini menuntut perubahan mindset dalam berbagai bidang. Kedua membutuhkan pembaharuan dalam paradigma,” ucap Ketua Dewan Pakar Depinas Soksi, Bomer Pasaribu.

Bomer menambahkan, era sekarang menurutnya kita berada di era revolusi, segala sesuatu berubah teramat cepat. Oleh karenanya, formulasi dari berbagai masalah harus diselesaikan secara komprehensif, tidak bisa dengan hanya melakukan pendekatan yang bussiness as usual.

“Kita kurang menyadari, bahwa periode sekarang ini sebenaranya adalah periode revolusi. Dalam periode revolusi, berpikir tidak bisa bussiness as usual. Ini yang mau kita coba dalam forum bersama untuk mengadakan pendekatan baru, yakni mindset sitting dan paradigm sitting, untuk diterapkan dalam pembangunan,” jelas Bomer Pasaribu.

“Intinya adalah kita semua harus menciptakan karyawanisme baru. Resesi di ambang pintu memang keniscayaan, tapi yang penting memanfaatkan resesi dan melejit. Karyawanisme baru kita harapkan dapat menjawab tantangan resesi itu,” tambahnya lagi.

Tantangan dalam suatu krisis adalah kepastian yang sudah harus dihadapi, Bomer pun menjelaskan klasifikasi tantangan di masa krisis atau resesi seperti sekarang. Ia memberi istilah CIPID Crisis. Karena krisis yang terjadi tidak semata memiliki penyebab tunggal, yakni ekonomi, tetapi ada beberapa sektor yang memacu hal tersebut.

”Dalam era revolusi, tantangan itu saya sebut CIPID Crisis, Corruption, Inequality, Poverity, Injustice, dan Distrust,” sebutnya menjelaskan.

Namun, Bomer tak ingin masyarakat berkecil hati dengan tantangan yang ada. Ia malah berucap optimis, karena jelas di dalam sebuah tantangan, haruslah terbangun harapan.

“Tetapi di balik tantangan tentu ada peluang emas, peluang itu adalah bonus demografi. Bonus demografi ini harus kita gunakan untuk menuju kebangkitan. Negara yang mengalami bonus demografi harusnya ekonomi bisa tumbuh 6-8%. Tapi kita anomali, hanya bisa tumbuh 5%,” tegas Bomer.

Bomer pun berpesan bahwa segala kesulitan haruslah dipandang secara optimis. Apalagi kita memiliki generasi emas yang akan terkulbiminasi pada tahun 2045 menurut beberapa ahli. Tinggal generasi saat ini, menyiapkan segala sesuatunya agar Indonesia menjadi benar-benar maju di tahun 2045.

“Segera setelah ini kita harus mengadakan perubahan besar-besaran secara revolusioner. Saya sendiri optimis, kita akan tampil pada tahun 2045 dengan dua generasi besar, yakni generasi milenial dan generasi Z sebagai generasi emas. Kita harus tatap optimis kondisi ini,” pungkasnya.

fokus berita : #Bomer Pasaribu