27 November 2020

Arif Fathoni Nilai Video Yel-Yel Hancurkan Risma Bentuk Kekecewaan Masyarakat Kota Surabaya

Berita Golkar - Viral video yel-yel "Hancurkan Risma" menjadi sorotan berbagai kalangan. Ada yang menanggapi biasa hingga bereaksi keras. Ketua DPD Golkar Surabaya, Arif Fathoni tak mau ketinggalan dalam persoalan ini. Namun ia menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Fathoni menilai yel-yel dalam video yang berdurasi 19 detik itu sebagai bentuk sikap kekecewaan warga maupun mantan pendukung Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

"Bahwa munculnya video tersebut merupakan ekspresi kekecewaan sebagian masyarakat Surabaya Utara yang selama ini all out memperjuangkan dan mendampingi Risma. Baik dalam momen pemilukada maupun saat saat Risma mau dimakzulkan oleh DPRD," kata Fathoni, Jumat (27/11/2020).

Baca Juga: Gatot Paeran Optimis Golkar Rembang Menangkan Hafidz-Hanies Dengan 60 Persen Suara

Menurut Ketua Fraksi Golkar DPRD Surabaya ini, video seperti itu tidak akan pernah muncul jika Risma mampu memposisikan diri sebagai pemimpin yang mengayomi dan bisa bertindak netral kepada paslon Pilwali Surabaya.

"Maka semua masyarakat akan memuja beliau sebagai seorang pemimpin yang bersikap negarawan. Namun faktanya Risma bertindak selaku politisi yang justru dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa surabaya akan rusak jika dipimpin oleh selain Eri," jelasnya.

Dengan adanya video tersebut Toni menilai justru ada upaya untuk mendiskreditkan calon wali kota Machfud Arifin saat ini.

Baca Juga: Ahmed Zaki Tak Ingin Milenial Hanya Jadi Obyek Politik, Golkar DKI Gelar Pendidikan Politik

"Sejak awal Pak Mahfud mendapatkan banyak kampanye negatif yang menjurus ke kampanye hitam. Namun sebagai abdi Bhayangkara, yang memiliki niat tulus untuk membangun Kota Surabaya tetap terus bergerak menyapa masyarakat, menyadarkan masyarakat Surabaya agar Surabaya naik level. Merata pembangunannya, dan mengakhiri rezim drama," ungkap mantan wartawan ini.

Fathoni berharap agar masyarakat Surabaya tidak terpengaruh terhadap adanya video itu. Justru ia menduga dan mencurigai adanya penggunaan dana APBD untuk kepentingan Pilwali.

"Kepada masyarakat Surabaya, saya berharap tidak terpengaruh dengan upaya Playing Victim yang sedang dijalankan tim sebelah dengan mengkonsolidasikan pasukan medsos. Karena ketidakadilan yang sesungguhnya adalah menggunakan uang APBD yang bersumber dari pajak rakyat untuk kepentingan kontestasi," tukasnya. {suaraindonesia}

fokus berita :