03 Maret 2021

RI Desak Myanmar Bebaskan Tahanan Politik, Achmad Annama: Mampir ke Depan DPR, Ada Tukang Cermin

Berita Golkar - Indonesia mendesak militer Myanmar membebaskan para tahanan politik guna membangun kondisi yang kondusif demi terlaksananya dialog untuk penyelesaian krisis yang dipicu kudeta militer di negara tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pertemuan khusus para menlu Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) guna membahas krisis politik Myanmar.

“Indonesia mendesak semua pihak terkait untuk memulai dialog dan komunikasi. Kondisi kondusif bagi komunikasi dan dialog harus segera diciptakan, termasuk dengan melepaskan tahanan politik,” kata Menlu Retno seperti dikutip Pikiranrakyat-depok.com dari Antara.

Baca Juga: Kabar Gembira! Melki Laka Lena Hadirkan Studio Digital Info Golkar di NTT

Pernyataan yang ditekankan Menlu Retno itu pun kemudian ditanggapi politisi Golongan Karya (Golkar), Achmad Annama Chayat melalui akun Twitter pribadinya @AchmadAnnama pada Rabu, 3 Maret 2021.

Lantas dia melontarkan sindiran kepada Menlu Retno untuk menyuruhnya berkaca diri. Pasalnya, kondisi di Indonesia pun hampir sama dengan di Myanmar. “Mampir ke DPR...Di Depan Gerbang Utama... Ada Tukang Cermin!” ujar Achmad Annama.

Diketahui, dalam kudeta yang dilancarkan pada 1 Februari 2021, militer Myanmar merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih dan menangkap sejumlah pemimpin di antaranya Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.

Baca Juga: Serap Aspirasi Masyarakat di Bumi Wiralodra, Hilal Hilmawan Blusukan ke 8 Desa di 7 Kecamatan

Tak lama setelah itu, Suu Kyi ditahan atas beberapa tuduhan salah satunya impor radio walkie-talkie secara ilegal, sementara presiden yang digulingkan Win Myint dituding melanggar aturan pembatasan terkait virus corona.

Penangkapan kedua pemimpin serta beberapa tokoh partai pemenang pemilu, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), menyulut kemarahan masyarakat Myanmar yang melakukan unjuk rasa menentang kudeta militer.

Belakangan, unjuk rasa damai berubah menjadi kerusuhan karena penggunaan kekerasan oleh aparat keamanan setempat. Berdasarkan laporan Reuters, sedikitnya 21 pengunjuk rasa telah tewas sejak kerusuhan dimulai sebulan lalu, sedangkan pihak tentara mengatakan satu polisi tewas.

Baca Juga: MDI: Investasi Miras Hanya Untungkan Segelintir Pihak Tapi Hancurkan Satu Generasi

Untuk mencegah situasi semakin memburuk, maka Indonesia mendesak penghentian kekerasan oleh pasukan keamanan Myanmar dan mengedepankan penyelesaian masalah melalui dialog antara dua pihak yang berkonflik.

“Komunikasi dan dialog internal selalu menjadi pilihan terbaik, tetapi Indonesia yakin bahwa ASEAN juga siap untuk memfasilitasi dialog tersebut, jika diminta,” ucap Menlu Retno.

Selain pembebasan tahanan politik, Indonesia juga menekankan pentingnya akses kemanusiaan di tengah kekacauan yang dihadapi warga Myanmar, termasuk bagi para tahanan politik. 

Dalam hal ini, kata Retno, satuan tugas ad hoc ASEAN untuk Rakhine State dapat diperkuat untuk menjalankan misi kemanusiaan itu. {depok.pikiran-rakyat}

fokus berita : #Achmad Annama #Retno Marsudi