12 Oktober 2021

Lihat Kesemrawutan Pasar Leuwipanjang Purwakarta, Dedi Mulyadi Ngamuk Ancam Pidanakan Pedagang

Berita Golkar - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi ngamuk gara-gara melihat kesemrawutan dan kemacetan yang sering terjadi di daerah Pasar Ki Sunda atau Pasar Leuwipanjang Purwakarta. Pasalnya, pasar tersebut dibangun oleh Dedi saat ia menjabat sebagai Bupati Purwakarta dan dibagikan gratis pada pedagang.

Dedi melihat pasar tersebut kini kumuh dan semrawut. Banyak pedagang yang berjualan di badan jalan yang merupakan hak pejalan kaki dan lalu lintas kendaraan. “Tidak boleh mengambil hak orang atuh. Pasar di dalam sudah dibangun miliaran, gratis untuk pedagang,” tegas Dedi.

Ia meminta semua pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan bukan pada tempatnya untuk ditertibkan. “Pagar itu batas. Engke sisirikan kabeh hayang jualan ka jalan (nanti pada iri semua ingin jualan di jalan). Kalau pasar itu dibangun tidak gratis, silakan (jualan di mana saja) teu nanaon (tidak apa-apa),” tuturnya.

Baca Juga: Pengamat: 2 Poros Bakal Bertarung di 2024, Prabowo-Puan Vs Airlangga-Cak Imin

Tidak hanya itu lahan parkir juga telah berubah fungsi menjadi tempat berjualan pedagang. Sementara kendaraan malah parkir di pinggir jalan dan menyebabkan kemacetan terutama di pagi hari.

“Ini kok bikin bangunan (jualan liar) tidak ketahuan sama pejabat mulai dari kepala dinas, kepala bidang, kasie, kepala pasar, Satpol PP, camat, lurah, RT, RW. Saya marah karena bikinnya cape. Saya protes karena saya yang membuatnya,” tegas Kang Dedi.

Selain membuat macet dan semrawut, keberadaan kios liar dan terpal pedagang membuat pasar terlihat gelap kumuh. Padahal di dalam terdapat kios yang disediakan oleh pemerintah secara gratis.

Baca Juga: The Republic Institute: Popularitas Airlangga Hartarto Di Jatim Melesat Hingga 65,3 Persen

Menurut Dedi, pasar tersebut merupakan aset pemerintah bukan pribadi. Sehingga semua harus taat aturan dan ditertibkan tanpa pandang bulu.

“Semua harus ditertibkan kalau enggak nanti sisirikan. Sekarang sosialisasi, besok bongkar. Semua yang melanggar harus ditertibkan. Kalau semua bertindak sendiri-sendiri negara membiarkan bisa kacau. Semua orang punya ego negara fungsinya mengatur,” ungkapnya.

Saat menyisir bagian samping pasar, Dedi menanyai seorang pedagang daging yang berjualan bukan pada tempatnya alias ilegal.

Baca Juga: Ridwan Hisjam Minta Pertamina Perluas Jangkauan Pertashop

“Ini kenapa kamu jual di pinggir jalan, punya kios?” tanya Dedi.

“Punya, Pak. Tapi dijual, dioper,” kata pria pedagang daging itu.

Mendengar hal tersebut Dedi pun geram dan mengancam untuk mempidanakan pedagang tersebut. Sebab pedagang tersebut telah memperjual-belikan kios aset pemerintah yang sebelumnya dibagikan secara gratis.

“Kita pidanakan. Enggak boleh itu aset negara. Pemerintah memberi gratis, subsidi, agar membantu pedagang tidak terjerat utang rentenir. Kios oper ke orang lain, kamu jualan di depan. Itu aset negara, kalau dipindahtangankan kamu harus izin ke negara. Itu uang masuk ke pribadi, kalau kamu aparat negara kamu korupsi namanya,” tegas Dedi.

Baca Juga: Saiful Anam: Keberhasilan Airlangga Tangani COVID-19 Bakal Bikin Golkar Menangkan Pemilu 2024

Terkait temuan tersebut Dedi minta pemerintah data kembali pedagang pasar yang memiliki kontrak dan perjanjian kios tidak boleh dijual. Jika ditemukan kios berpindah tangan atau dijual maka harus ditindak tegas.

“Pasar ini dulu dibiayai pemerintah puluhan miliar tujuannya adalah agar para pedagang dapat kios gratis tidak terlibat utang ke pihak ketiga. Sehingga pedagang bisa sejahtera. Tapi faktanya kios dialihkan ke orang lain dan mereka pilih jualan di depan di luar pasar,” ujar Kang Dedi Mulyadi.

Sementara itu salah seorang pedagang yang memiliki kios di dalam pasar merasa senang dengan penertiban tersebut. Sebab selama ini dagangan mereka sepi karena warga lebih memilih membeli di luar pasar.

Baca Juga: 24 PK Golkar Se-Kabupaten Indramayu Siap Rebut Kembali Kemenangan di Pemilu 2024

“Semua pada jualan di depan, otomatis kita yang di dalam sepi. Orang-orang pilih yang di depan karena kadang malem mau ke belakang. Terima kasih sekarang sudah rapi dan tertib. Mudah-mudahan kita dagang lancar lagi seperti awal,” ujarnya.

Seperti diketahui saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi membangun dan merevitalisasi sejumlah pasar. Salah satunya adalah Pasar Senin yang kemudian berganti nama menjadi Pasar Leuwipanjang atau Pasar Ki Sunda.

Para pedagang lama di pasar yang telah dibangun atau direvitalisasi oleh pemerintah diberikan kios gratis dengan syarat menjaga kebersihan dan ketertiban. Selain itu pedagang dilarang menjual atau memindah tangankan kios. {galamedia}

fokus berita : #Dedi Mulyadi