01 Desember 2021

Survei New Indonesia: Disodok Nasdem, PKB dan Demokrat, Golkar Merosot Ke Posisi 7 Dengan 4,9 Persen

Berita Golkar - Peta elektoral menuju 2024 semakin dinamis. Temuan survei NEW INDONESIA Research & Consulting menunjukkan NasDem menyodok ke tiga besar dengan elektabilitas mencapai 9,3 persen. Sementara itu Golkar yang biasanya menduduki posisi tiga besar merosot, dengan elektabilitas hanya 4,9 persen. Posisi pertama dan kedua tetap diduduki oleh PDIP dan Gerindra.

“Nasdem masuk tiga besar elektabilitas partai politik, sementara Golkar merosot,” ungkap Direktur Eksekutif NEW INDONESIA Research & Consulting Andreas Nuryono dalam keterangan tertulis, Selasa (30/11/2021).

Menurut Andreas, melejitnya elektabilitas NasDem berkorelasi dengan kedekatan partai politik tersebut dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Basis pemilih Anies yang didominasi segmen Islam makin mengerucut pilihan politiknya kepada Nasdem.

Baca Juga: Bersama Komunitas Pecinta Lingkungan Lombok Tengah, Sari Yuliati Tanam 10 Ribu Bibit Pohon di Gunung Bongak

Sebagaimana diketahui, Nasdem getol merekrut tokoh-tokoh dengan elektabilitas tinggi sebagai calon presiden yang belum memiliki kendaraan politik. Melalui konvensi capres yang direncanakan pada 2022, NasDem memberikan panggung kepada Anies dan tokoh-tokoh lain.

“Sebagai parpol nasionalis, NasDem memiliki keluwesan tinggi dan rentang spektrum ideologi yang sangat lebar untuk merangkul segmen pemilih Islam,” jelas Andreas. Sebelumnya NasDem mendukung Jokowi dalam dua kali pemilu, sejak 2014.

Jokowi kuat diasosiasikan dengan basis pemilih nasionalis, khususnya PDIP. Jokowi bahkan mampu merangkul tokoh-tokoh seperti Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang menjadi rival dalam Pilpres 2019 untuk bergabung ke dalam pemerintahan.

Baca Juga: Andi Sinulingga: Wajar Pak Jokowi Diam-Diam Dukung Anies, Adabnya Santun Prestasinya Luar Biasa

Dengan mendukung Anies, NasDem berupaya untuk menambah basis pemilih dari kalangan Islam. Menguatnya elektabilitas NasDem juga berpeluang menciptakan polarisasi dengan koalisi parpol-parpol nasionalis yang dominan, dalam hal ini adalah PDIP dan Gerindra.

Meskipun tetap unggul, elektabilitas PDIP kini hanya 16,4 persen. Sementara itu elektabilitas Gerindra 9,6 persen, tipis di atas Nasdem, dan berpeluang tersalip oleh NasDem. “Banyak pemilih Islam yang semula mendukung Gerindra bergeser ke Nasdem,” lanjut Andreas.

Pemilih Islam beranggapan Prabowo telah berkhianat dengan masuknya ke dalam pemerintahan Jokowi. Sementara itu NasDem yang dipimpin Surya Paloh dengan brilian merebut pemilih Islam dan memimpin poros baru dengan memberi dukungan terhadap Anies.

Baca Juga: Anggaran MPR Dipangkas, Fadel Muhammad Murka Dan Desak Jokowi Pecat Sri Mulyani

Setelah NasDem, ada PKB (7,7 persen), Demokrat (7,3 persen), PSI (5,4 persen), Golkar (4,9 persen), dan PKS (4,5 persen). “Anjloknya Golkar tidak bisa dilepaskan dari rendahnya elektabilitas Airlangga Hartarto sebagai ketua umum dalam bursa capres,” tandas Andreas.

Jika strategi Nasdem mendukung Anies yang memiliki elektabilitas tinggi sukses pula mendongrak NasDem ke tiga besar, sebaliknya dengan Golkar. Sejauh ini elektabilitas Airlangga masih berada jauh di bawah, berdampak pula pada merosotnya elektabilitas Golkar.

Parpol-parpol berikutnya adalah PPP (2,2 persen), Ummat (1,5 persen), PAN (1,1 persen), dan Gelora (1,0 persen). Di papan bawah ada Perindo (0,8 persen), Hanura (0,6 persen), PBB (0,4 persen), PKPI (0,3 persen), Berkarya (0,2 persen), dan Garuda (0,1 persen). Parpol baru Masyumi Reborn masih nihil dukungan.

Baca Juga: Ketua Golkar Elita Budiarti Didaulat Pimpin Kaukus Perempuan Politik Kabupaten Subang

Bermunculannya parpol-parpol baru masih belum cukup signifikan meraih dukungan, di mana pilihan lainnya dikumpulkan sebesar 0,9 persen. Sisanya menyatakan tidak tahu/tidak menjawab sebanyak 22,7 persen.

Survei NEW INDONESIA Research & Consulting dilakukan pada 11-20 November 2021 terhadap 1200 orang mewakili seluruh provinsi. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error ±2,89 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. {jakarta.tribunnews}

fokus berita : #Andreas Nuryono