25 Desember 2021

Di Bawah Yahya Cholil Staquf, Hetifah Harap NU Sinergi Dengan Pengajian Al-Hidayah Wujudkan Akhlakul Karimah

Berita Golkar - Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) telah sukses dilaksanakan di Provinsi Lampung tanggal 23-24 Desember 2021 dengan menghasilkan beberapa keputusan penting dan peralihan estafet kepemimpinan kepada KH Yahya Cholil Staquf yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU Masa Khidmat 2021-2026. Harapan baru tercurah kepada para Kyai pemimpin NU dalam mengemban amanah dan berkhidmat bagi umat dan bangsa.

Sebelumnya, masih di bulan yang sama, pada tanggal 10-12 Desember 2021 telah diselenggarakan Muktamar VIII Pengajian Al-Hidayah yang menetapkan Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP., sebagai Ketua Umum Pengajian Al-Hidayah untuk masa bhakti 2020-2025.

NU (Nahdatul ‘ulama) adalah sebuah organisasi yang didirikan atau dipelopori oleh para ulama pada tanggal 31 Januari 1926/ 26 Rajab 1344 H di Surabaya. Sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan, NU telah banyak berperan serta dalam bidang pendidikan. Bahkan sejak kelahirannya pada tahun 1926 organisasi NU sangat memperhatikan pendidikan terutama keberadaan Pondok Pesantren.

Dalam Anggaran Dasarnya (1927) maupun dalam Statutent Nahdlatoel Oelama(1927) dinyatakan bahwa bidang garapan NU untuk upaya mencerdaskan sumber daya manusia dengan membantu pembangunan Pondok Pesantren. Paling tidak ada tiga alasan besar yang melatar belakangi lahirnya Nahdlatul Ulama 31 Januari 1926, yaitu: motif agama, motif mempertahankan paham Ahlu al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah, dan motif nasionalisme.

Nahdlatul Ulama sejak kelahirannya merupakan suatu wadah perjuangan untuk menentang dan melawan segala bentuk dari penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda dan Jepang, sekaligus aktif melakukan dakwah-dakwahnya untuk senantiasa menjaga persatuan negara Republik Indonesia dalam wadah NKRI.

Setelah NU resmi berdiri pada tahun 1926, telah banyak madrasah-madrasah yang berdiri disamping pondok pesantren yang telah lama ada dan mengakar di Indonesia. Melihat kenyataan yang ada pada saat itu, maka Muktamar II tahun 1927 membicarakan masalah perbaikan metode pengajaran di pondok pesantren dan madrasah-madrasah.

Selanjutnya pada Muktamar III tahun 1928 di Surabaya dibicarakan pengembangan dan perluasan pondok pesantren dan madrasah. Dan pada Muktamar NU ke 34 tahun 2021 ini dibicarakan tentang berbagai persoalan mengenai kemandirian ekonomi dan optimalisasi khidmah (pelayanan) untuk kemaslahatan umat.

Adapun Pengajian Al Hidayah yang lahir pada tanggal 5 Oktober 1979 adalah organisasi kemasyarakatan yang memiliki tingkat kepengurusan dari pusat hingga daerah. Pengajian Al Hidayah yang telah mempunyai cabang di 33 Provinsi dan 413 kabupaten/kota serta majelis taklim hingga ke tingkat desa, memiliki masjid, koperasi, panti asuhan, taman kanak-kanak, RA, TPQ, PAUD, SD, SMP, dan SMA yang tersebar diberbagai cabang di seluruh Indonesia adalah salah satu bukti partisipasi aktif Pengajian Al-Hidayah dalam upaya meningkatkan partisipasi perempuan di berbagai bidang, khususnya bidang dakwah dan pendidikan.

Pengajian Al-Hidayah telah berjejaring dengan berbagai organisasi federasi perempuan, saat ini Pengajian Al-Hidayah terdaftar sebagai organisasi anggota pada MUI, KOWANI dan BMOIWI.

Pengajian Al-Hidayah mengharapkan perempuan Indonesia muncul sebagai sosok yang berpendidikan, berkualitas, bermoral dan akhlak yang tinggi dan mulia. Perempuan merupakan suatu cerminan didalam sebuah negara, ia merupakan suatu tonggak yang sangat kokoh. Rasulullah SAW mendudukkan perempuan ke tingkat yang mulia sehingga diharapkan karyanya mensejahterakan bangsa dan negara : “Perempuan adalah tiang negara. Apabila baik, maka baiklah negara, apabila buruk maka hancurlah negara”.

Mengingat kesamaan fokus pada masalah keummatan dan kebangsaan yang diusung oleh NU dan Pengajian Al-Hidayah serta kompleksnya permasalahan yang dihadapi ummat, khususnya perempuan Indonesia, maka Pengajian Al-Hidayah siap bersinergi dengan Nahdlatul Ulama dalam mengambil peran meningkatkan kualitas hidup perempuan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang Dakwah dan Pendidikan yang sama-sama menjadi konsern Nahdlatul Ulama dan Pengajian Al-Hidayah.

Sinergi antara PB NU dan DPP Pengajian Al Hidayah diharapkan dapat menjadi sarana untuk menghasilkan keputusan yang menjadi arah organisasi lima tahun mendatang dalam berkiprah untuk kepentingan ummat, bangsa, dan negara, untuk pencerahan peradaban bangsa serta mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan partisipasi perempuan dan umat di berbagai bidang.

Ketua Umum DPP Pengajian Al Hidayah Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP., mengucapkan Selamat Atas terpilihnya KH Yahya Cholil Staquf yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar terpilih menjadi Rais Aam PBNU Masa Khidmat 2021-2026, Semoga PB NU dan DPP Pengajian Al-Hidayah dapat bersinergi mewujudkan generasi mendatang yang Akhlakul Karimah sekaligus memiliki kompetensi global.

fokus berita : #Hetifah #Hetifah Sjaifudian