30 November 2017

Meski Novanto Diganti, Pengamat Nilai Golkar Tetap Sulit Dongkrak Elektabilitasnya

Berita Golkar - Pengamat politik Lingkar Madani, Ray Rangkuti, berpendapat bahwa Partai Golkar bakal kesulitan mendongkrak elektabilitas, meskipun Setya Novanto diganti dari kursi jabatan ketua umum. "Untuk target 5 persen suara menjelang 2019, menurut saya juga agak susah. Untuk naik 1 atau 2 persen itu saja butuh satu tahun," ujar Ray di dalam acara diskusi di Sekretariat Formappi, Jakarta Timur, Kamis (30/11/17).

Sosok pengganti Novanto pun dinilai dapat menjadi solusi persoalan itu. Ketua umum baru Partai Golkar, ke depannya harus memenuhi sejumlah kriteria agar masyarakat Indonesia kembali percaya dengan partai berlambang beringin tersebut. "Pertama, mereka harus cari sosok yang tidak punya potensi masalah hukum. Kedua, track record-nya juga harus bagus," kata Ray. "Ke depannya, enggak berpotensi punya masalah hukum dan masa lalunya juga bersih," ujar dia.

Ketiga, lanjut Ray, ketua umum baru juga harus mem-brand partainya bebas korupsi. Salah satunya dengan mencabut keikutsertaan dalam Panitia Khusus (Pansus) Angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di DPR RI yang hingga saat ini masih berlangsung. Keempat, ketua umum baru juga harus memimpin mekanisme pergantian Novanto dari kursi ketua DPR RI. Sosok Novanto dinilai harus dilepaskan dari Partai Golkar sepenuhnya.

"Tempatkan sosok kader Golkar sebagai ketua DPR yang juga tidak memiliki masalah hukum. Hal-hal inilah yang akan membuat elektabilitas Golkar membaik. Setidaknya enggak anjlok-anjlok banget. Karena untuk kembali ke angka sebelumnya, bagi saya pada 2019 itu sulit," ujar dia. Partai Golkar dikabarkan segera menyelenggarakan Munaslub pertengahan Desember 2017 mendatang. [kompas]

fokus berita :