25 Mei 2022

Game Of Throne: Ahmed Zaki Iskandar Yes, Airin Rachmi Diany Yes

Berita Golkar - Kendati terlalu dini orang berseloroh soal Pilkada DKI Jakarta 2024, akan tetapi panasnya kontelasi politik ibukota negara ini menjadi konsumsi politik buat publik dikarenakan munculnya nama Airin Rachmi Dianiy yang digadang-gadang sebagai Cagub potensial.

Bukan tanpa alasan. Nama Airin muncul baru-baru ini dalam pemberitaan, disaat pertemuan Ketua Umum Golkar dan Nasdem, Airlangga Hartato membawa dan mengenalkan srikandinya itu kepada Surya Paloh, sehingga pada titik kesimpulan sementara ada semacam gentlemen agreement untuk menggabungkan Airin dan Syahroni atau Syahroni-Airin untuk pasangan cagub potensial pada helatan pilkada DKI Jakarta 2024.

Gayung bersambut, M. taufiq mantan Wakil Ketua DPRD Jakarta (sekarang mantan) dari Partai Gerindra mengeluarkan statement yaitu "ditentengnya Jokowi, Anies dari Jakarta Utara akan mengulangi suksesnya Ketika membawa Airin dari pertemuan di Jakarta Utara juga" seloroh M. Taufiq ini sudah barang tentu menjadi perhatian elite politik Golkar.

Baca Juga: Dave Laksono: PKB Bisa Gabung Koalisi Indonesia Bersatu Asal Tak Ajukan Syarat

Kehadiran Airin memunculkan spekulasi akankah Airin serius dicalonkan oleh Golkar?. Intrik sokongan terhadap Airin tidak hanya sampai disitu saja. Airin yang merupakan kader Partai Golkar harus berhadapan pada keputusan final partai yang telah menetapkan Zaki sebagai cagub.

Menimbang Airin

Munculnya nama Airin mungkin jadi penyegar dari kontestasi yang lama di dominasi oleh laki-laki. Meski demikian, kekuatan Airin sebagai mantan walikota Tangsel dua priode dan mewakili kaum hawa harus diperhitungkan matang-matang. Kejenuhan atas peran laki-laki dalam politik menjadi jawaban atas kehadiran Airin.

Merujuk peneliti Karen Celis, Sarah Child dan Jennifer Curtin menyebutkan bahwa strong representation of women atau representative perempuan yang kuat amat tergantung dengan aktor-aktor penting disekelilingnya.

Baca Juga: Golkar Karanganyar Bantu Rp.200 Juta Untuk Pengembangan Lapangan Sepakbola Gunung Wijil Ngringo

Dipilihnya Airin sebagai Ketua Umum KPPG (Kesatuan Perempuan Partai Golkar) dan AIRIN (Airlangga untuk Indonesia) setidaknya memberikan signal bahwa Airin secara kapasitas dan kualitas politiknya mampu meyakinkan personalitynya dihadapan elite Golkar dan sokongan circle (lingkaran) aktor-aktor yang menjadi penguat untuk dirinya mendapatkan dukungan politik kedepannya.

Dari sisi kepartaian, potensi Airin yang digadang sebagai balon cagub dari Golkar sebenarnya tidak memiliki effect kuat. Dari sisi kompetitif Golkar yang saat ini hanya memiliki enam kursi sulit untuk dijadikan pertimbangan, jauh dari PDIP, Gerindra, PAN, PKS dan PSI.

Terlepas dari kondisi-kondisi tersebut, Airin sendiri bukannya tak punya kekuatan. Ia boleh jadi punya privilege sebagai mantan Walikota Tangsel.

Baca Juga: HUT Ke-20, KPPG Lampung Bagikan Sembako dan Gelar Rakornis Pemenangan Pemilu 2024

Hal ini membuatnya cukup punya amunisi untuk berkompetisi. Namun, lagi-lagi, privilege tersebut boleh jadi membuat publik lebih akan menilainya sebagai perempuan yang kuat dengan segala potensinya mampu mewujudkan apa yang diharapkanGolkar.

Zaki Effect

Partai memiliki dinamikanya tersendiri, begitupun Golkar. Keberadaan Zaki sebagai Ketua DPD Golkar tidak bisa dipungkiri ini menjadi tambatan menarik bagi elite partai lain untuk melibatkan kader Golkar dalam kontestasi.

Terpilihnya zaki sebagai Ketua DPD Golkar DKI Jakarta menjadi pemantik bagi elite lain melirik kader-kader potensial yang dimilikinya. Beban Zaki yang besar bagaimana meningkatkan popularitas dan elektabilitas Golkar dalam menyongsong pemilu 2024 menjadi target utama.

Baca Juga: Ridwan Bae: Perkembangan Teknologi di Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Harus Masuk RUU LLAJ

Karenanya, pembiaran kehadiran Airin bukan hal yang dikhawatirkan tapi ini bagian dari strategi bagaimana menerapkan smart campaign untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas partai tersebut.

Dalam teori konsep smart campaign yang dipublikasi Sadie Dingfelder yang berjudul The Science of Political Advertising agaknya dapat menjadi strategi yang jitu untuk dikedepankan Zaki.

Mengacu pada konsep tersebut, promosi kandidat di era kontestasi elektoral modern sesungguhnya dapat memaksimalkan usaha-usaha yang lebih cermat, khususnya dari tim digital, Utamanya dalam memaksimalkan data karakteristik audiens yang sangat beragam, mengolahnya, dan menerjemahkannya ke dalam kampanye yang efektif dan efisien.

Baca Juga: Hasan Basri Agus Pastikan Kerusuhan Masyarakat di Lombok Barat Awal Mei 2022 Bukan Konflik SARA

Dalam konsep smart campaign, tidak hanya literatur psikologi dan ilmu politik dasar yang menjadi pijakan langkah kampanye.

Algoritme spesifik mengenai target dan pesan apa yang tepat bagi masing-masing calon pemilih, atau yang dikenal dengan istilah "microtargeting” juga menjadi taktik yang disebut cukup positif di era saat ini. Algoritme itu juga dapat diatur dan dimaksimalkan untuk mempengaruhi khalayak, terutama ketika sang kandidat tengah berjuang dengan popularitasnya.

Microtargeting yang dikemas Zaki dalam konteks saat ini berhasil, pembuktiannya adalah kehadiran airin menggugah partai dan elemen lain dalam kontestasi pilkada 2024.

Sebagai kader partai yang baik sudah sepatutnya zaki melakuakn hal tersebut untuk mengemas bagaimana partai golkar sukses mendulang elektabilitas di DKI Jakarta pada 2024.

Baca Juga: Dedi Mulyadi: Harus Ada Kebijakan Ekstrem dan fundamental Tangani Wabah PMK di Indonesia

Analaogi Game Of Throne Ala Golkar

Serial Game of Thrones adalah tentang perebutan takhta dalam benua bernama Westeros. Dalam serial tersebut, diceritakan para Great House (pimpinan wilayah) saling bersekongkol dan berperang untuk menguasai The Iron Throne. Maka segala cara pun dilakukan demi mengambil alih takhta tersebut.

Akan tetapi ketika para great house sibuk berperang, ancaman dari utara datang. Ancaman itu berupa musim salju berkepanjangan dengan membawa pasukan mati atau disebut Wights. Pasukan mati ini mengancam eksistensi penduduk dalam benua Westeros.

Maka ketika muncul seruan "The Winter is Coming”, seluruh great house yang sibuk berperang pun sadar bahwa yang terbaik bukanlah siapa yang menguasai The Iron Throne. Jika perang diteruskan, maka seluruh great house akan hancur oleh serbuan pasukan musim dingin. Pada akhirnya para great house saling bekerjasama untuk melawan ancaman musim dingin tersebut.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Bicara Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Davos, Swiss

Fenomena game of throne politik demikian bukan kemudian diasumsikan konflik antara orang kuat dibanten yang sedang mengisi ruang harapan buat warga DKI Jakarta. Tetapi bagaimana peran keduanya mengisi satu sama lainnya untuk mengemas agar Golkar memiliki potensi kuat dalam memainkan peranannya untuk kebesaran Partai Golkar.

Ala kulli hal, sebagai warga Banten perhatian subjektifitas penulis kepada kedua orang ini menjadi daya tarik tersendiri. Bagaimanapun keduanya adalah orang yang pernah memimpin daerah di Banten, dan saat ini menjadi figure yang sedang diperbincangkan oleh elite partai.

Tapi perbincangan ini bukan soal Zaki atau Airin. Akan tetapi peran keduanya dapat disimpulkan tidak dalam posisi bertarung untuk meraih kekuasaan individu, akan tetapi agenda besar yang dikemas dalam game of throne ini tidak lain adalah menyatukan kekuatan agar Golkar di DKI Jakarta mampu mendulang popularitas dan elektabilitas. Wallahu a’lam bisshowab. {rmolbanten}

fokus berita : #Ahmed Zaki Iskandar #Airin Rachmi Diany