06 Juli 2018

Sinyal Politik Jusuf Kalla Dorong Anies Baswedan Maju di Pilpres 2019

Berita Golkar - Wakil Presiden (wapres) Jusuf Kalla (JK) belakangan menampilkan berbagai sinyal soal sikap politiknya di 2019. Setelah mengaku hanya akan ngurus cucu, JK beberapa kali "mempertontonkan" kemesraan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan. Momen kemesraan ini ditampilkan ke publik dan elite politik. Banyak yang mengartikan ini adalah kode mendorong Anies nyapres di 2019. 

Upaya JK yang ingin mendorong Anies itu terlihat dari momen 'kemesraan' yang ia tunjukkan beberapa waktu terakhir. Salah satunya, dengan mengajak Anies semobil dengannya.  JK dan Anies berada dalam satu mobil sebanyak 4 kali. Pertama, terjadi pada Oktober 2017, saat itu Anies akan mengantar JK ke Bandara Halim Perdanakusumah, lantaran sang RI-2 itu akan melakukan kunjungan kerja ke Turki.

Sementara tiga momen lainnya, dilakukan dalam waktu sepekan. Yakni keduanya meninjau venue Asian Games di Gelora Bung Karno. Saat itu, Anies mendapat kesempatan untuk diantar JK ke Balai Kota. Sedangkan momen kedua dan ketiga, terjadi dua hari berturut-turut, yakni saat keduanya menghadiri acara halal bihalal di PBNU dan PP Muhammadiyah. Di ketiga momen itu, Anies semobil dengan JK, menggunakan mobil RI-2. 

Manuver JK kian ditunjukkan saat ia kerap melakukan pertemuan politik dengan sejumlah elite partai. Sebut saja Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden PKS Sohibul Iman. Sinyak politik pun ditangkap oleh parpol-parpol. Ketum PAN Zulkifli Hasan bahkan nyeletuk ke JK, menyebut Anies sebagai capres. "Capres kita ini Pak," kata Zulkifki ke JK sambil menunjuk ke Anies saat menghadiri halal bihalal PP Muhammadiyah. "Iyalah, " kata JK.

Setelah momen itu, PAN langsung menyampaikan sejumlah opsi capres cawapres. Antara lain Anies-AHY, Anies-Aher, Prabowo-Anies, Prabowo-Zulkifki. Nama Anies masuk di 3 simulasi. Senada dengan PAN, setelah kebersamaan JK dan Anies ramai, PKS pun menggodok serius opsi Anies capres. Faktor elektabilitas menjadi salah satu alasan utama.
Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan, peran JK dalam mendukung karier politik Anies bukan kali pertama.

Sebab, JK juga turut membantu Anies dalam pencalonannya di Pilgub DKI 2017. "Kalau melihat sejak awal, JK dekat dengan Anies. Bahkan JK andil di DKI dan meyakinkan biar Sandi jadi nomor dua. Itu peran JK. JK relatif bisa menjinakkan Prabowo bahkan SBY," ucap Adi, Kamis (5/7). Adi mengatakan, JK memiliki kemampuan menjembatani Anies ke sejumlah elite parpol seperti SBY hingga Prabowo.

Sebab, JK merupakan seorang politikus senior sekaligus representasi umat Islam. "JK dukung Anies ini menarik. JK dianggap representasi kepentingan umat Islam, pengurus NU, merepresentasikan di luar jawa, jaringan bisnis kuat. Pak JK kalau all out akan menarik," ucap dia. Namun, Adi memastikan, manuver yang dilakukan JK takkan agresif. Menurutnya, JK justru akan bergerak dalam senyap. 

"JK tidak akan deklarasi dukung siapa saja. Dia main underground. Pak JK lebih soft karena faktor umur, jadi agresivitasnya dikurangi," tutur Adi. Manuver JK ini tak bisa dilepaskan dari statusnya sebagai politikus Golkar. Hal ini menjadi menarik lantaran saat ini, partai berlambang pohon beringin itu telah mendeklarasikan untuk mendukung Jokowi di laga pilpres.

Adi mengatakan, kader dan elite Partai Golkar bisa saja terpengaruh untuk mendukung Anies, namun tak sampai berpindah koalisi. Sebab, suara di dalam partai, biasanya ditentukan oleh ketua umumnya, dalam hal ini Airlangga Hartarto. "Bisa saja Golkar terseret tapi pengaruhnya cukup terbatas. Karena secara struktural dukungan kepada calon ditentukan melalui rapimnas. Dan memang dalam sejarahnya bergantung ketumnya," lanjut dia. 

Namun, fenomena keterbelahan politik itu dinilai biasa oleh Adi. Sebab, beda pandangan politik juga pernah terjadi di internal Partai Golkar pada Pilpres 2014. "2014 banyak di bawah dukung Jokowi terutama grupnya Agung Laksono. Dulu Ical dukung Prabowo, tapi banyak di bawah dukung Jokowi. Itu dinamika yang terjadi di Golkar, dan kemungkinan terjadi di 2019," jelas dia. [kumparan]

fokus berita : #Jusuf Kalla