30 Mei 2019

Berita Golkar - Keluarga H Mansur Mante yang melahirkan empat putra dari 10 putra-putrinya duduk di parlemen, DPRD Kutim, DPRD Kaltim, hingga DPR/DPD RI cukup dikenal di Kabupaten Kutai Timur.

Mereka adalah, Mahyudin (Wakil Ketua MPR RI) yang pada Pemilu 2019 lolos duduk di DPD RI, Mahyunadi (Ketua DPRD Kutim) saat ini terpilih menjadi anggota DPRD Kaltim, serta dua adiknya, Marsidik dan Maswar yang sama-sama duduk di DPRD Kutim.

Baca Juga: Raih 147.483 Suara, Mahyudin Terpilih Masuk DPD RI Wakili Kaltim

Berawal dari Mahyudin, sebagai putera sulung yang sempat menjabat sebagai Bupati Kutai Timur dan dua perioder di DPR RI hingga jabatan saat ini Wakil Ketua MPR RI. Pasca lulus kuliah di Banjarmasin, Mahyudin yang sempat ditolak saat melamar menjadi karyawan PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjajal peruntungan sebagai pengusaha.

Begitu terjadi pemekaran Kabupaten Kutai, ia pun menjajal peruntungan di dunia politik. Namanya masuk dalam jajaran unsur pimpinan di DPRD Kutim. Dari situ, namanya terus melambung hingga akhirnya dipilih oleh Awang Faroek Ishak mendampinginya menakhodai Kabupaten Kutai Timur, sebagai Wakil Bupati. Sejak saat itu, namanya dan keluarga mulai berkibar.

Mahyunadi, sang adik pun ikut masuk ke parlemen Kutim. Dari Kutim, Mahyudin berhasil menapaki karir politik di DPR RI lewat perahu Partai Golkar. Pada 2014, adik ketiganya, Marsidik mengikuti jejak sang kakak sukses melenggang ke Karang Paci (DPRD Kaltim. Juga menggunakan Partai Golkar.

Nah pada Pemilu 2019 ini, giliran Mahyunadi beralih ikut bersaing sebagai caleg DPRD Kaltim, dan berhasil lolos. Sementara, Marsidik justru memilih pindah ke DPRD Kutai Timur bersama adiknya nomor lima, Maswar atau biasa disapa Away. Juga menggunakan perahu Golkar, dan sukses duduk di DPRD Kutim.

Apa yang melandasinya terjun ke politik hingga sekarang? "Sebenarnya tidak ada. Karena pada awalnya, saya memang suka berorganisasi yang kemudian disalurkan dengan bergabung di Partai Golkar. Setelah dijalani, ternyata cocok," ungkap Mahyudin kepada Tribun Kaltim.

Politik, menurut Mahyudin, tujuannya meraih kekuasaan. Dengan kekuasaan, seseorang bisa berbuat banyak hal untuk orang banyak. Di situ nikmat yang membuatnya keterusan. Apalagi keluarga ikut mendukung. "Kalau soal adik-adik, tidak ada pembicaraan dengan keluarga besar. Saya juga tidak pernah menyuruh adik saya ikut jejak saya terjun ke dunia politik," ujarnya.

Bahkan secara jujur, Mahyudin mengaku agak kurang nyaman. Sementara dirinya caleg, kemudian adik-adiknya ikut jadi caleg. "Tapi saya nggak bisa melarang mereka. Karena itu hak mereka juga. Mungkin juga karena saya bersaudara, sehingga semua sama-sama memiliki bakat dan ketertarikan yang sama di dunia politik," bebernya.

Bicara soal paket hemat bersosialisasi, menurut Mahyudin, dalam Pemilu 2019 ini, tidak bisa dilakukannya. Sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, dia tidak bisa berpaket dengan adik-adiknya yang diusung oleh partai politik.

"Biaya, terpaksa biaya sendiri-sendiri. Saya kemarin mempersiapkan biaya untuk sosialisasi sekitar Rp 1,4 miliar. Nggak tahu kalau adik-adik saya. Tapi mungkin adik-adik saya bisa berpaket, karena mereka berada dalam satu parpol yang sama. Bisa paketan supaya lebih hemat," ujarnya.

Selain itu, bagi adik-adik Mahyudin, mereka mempercayakan sosok kakak tertua sebagai pakar politik. Jadi tidak ada sebutan sosok lain yang berperan sebagai think thank. Karena Mahyudinlah di keluarga mereka sebagai pakarnya. Memberi masukan dan bimbingan untuk adik-adiknya dalam berpolitik.

Soal bisnis, Mahyudin mengaku saat ini sudah tidak mengurusnya lagi. Ia professional menjalani karir politiknya yang sekarang. Bisnis lebih banyak diurus anak pertamanya. Sehingga tidak mencampuradukkan urusan bisnis dengan politik.

"Semua keluarga mendukung. Saya berpolitik, anak saya mengurusi bisnis. Saat liburan, kami selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan berdiskusi bersama," ungkapnya.

Dengan karir yang sudah berada di puncak, sebagai Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin mengaku masih memiliki cita-cita yang lebih tinggi dari apa yang sudah dicapainya saat ini. Tapi ia enggan mengungkapkan.

Wakil Ketua MPR RI Mahyudin saat memberi sosialisasi tentang empat pilar MPR RI.

Tolak Disebut Dinasti

Perjalanan karir politik Mahyunadi sedikit berbeda dengan Mahyudin, meski sama-sama melesat di kursi parlemen. Awal berpolitik, Mahyunadi dimulai pada 2004.

"Saat itu, saya nggak mengerti apa-apa tentang politik. Tapi ada kesempatan dan kebetulan sedang mencari pekerjaan. Satu periode saya duduk. Lanjut periode kedua, saya mulai tahu dan paham. Nah, duduk di periode ketiga, naluri saya sudah lebih pada pengabdian saja," ungkapnya.

Sekarang, Mahyunadi memilih jalur DPRD Provinsi Kaltim, karena ingin mengabdi pada masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya pada masyarakat Kutai Timur.

"Tidak ada pengaturan yang bagaimana -bagaimana dalam berpolitik. Politik kami sekeluarga mengalir saja. Bagi saya ini bukan soal dinasti. Karena sekarang, masyarakat yang memilih pribadi masing-masing calon legislatif. Beda dengan dulu, orang memilih partai, kemudian partai memilih, siapa yang duduk di parlemen," bebernya.

Strategi, keluarga yang dikenal dengan keluarga M, menurut Mahyunadi, lebih pada agar tidak menumpuk di satu tempat dan saling tumpang tindih. Maswar, adiknya dari daerah pemilihan pedalaman. Itu permintaan Ketua DPD Partai Golkar, Kasmidi Bulang, untuk menggantikan tempatnya dulu.

Marsidik, menggantikan tempatnya di Kutim dan sebaliknya Mahyunadi menggantikan tempat Marsidik di Kaltim. Soal biaya, diakui Mahyunadi, juga tidak ada sangkut pautnya dengan paket berkeluarga. Karena masing-masing jalan sendiri-sendiri menggunakan uang pribadi. Ia jalan secara professional saja. Tandem dengan caleg lainnya. Karena kalau dengan adik-adik saja, bisa dimusuhi dengan caleg lainnya.

Baca Juga: Mahyudin Bakal Kerahkan Relawannya Di Pilkada Kutim 2019, Dukung Siapa?

"Soal besar kecilnya, itu konotasi perorangan. Dibilang besar juga nggak, dibilang kecil juga nggak. Adik saya Maswar, habis sekitar Rp 300 jutaan. Saya dan Kak Mahyudin yang lebih luas, habis Rp 1,4 miliar. Lagi pula, kalau terlalu banyak habis, rentan dengan korupsinya nanti," ungkap Mahyunadi.

Menurutnya, pakar politik keluarga M, satu-satunya hanya Mahyudin. Tidak ada yang lain. Satu komando, apa yang dibilang oleh Mahyudin, mereka bersaudara mengikuti. "Intinya, Kak Mahyudin mengajarkan kerja keras. Tidak ada sesuatu yang indah yang bisa digapai tanpa kerja keras. Apalagi, apa yang saya peroleh sekarang ini sudah di luar cita-cita saya. Tinggal pengabdian saja lagi," ujarnya. [tribunnews]

fokus berita : #Mahyudin #Mahyunadi #Marsidik #Maswar


Kategori Berita Golkar Lainnya