Berita Golkar – Partai Golkar kembali menunjukkan daya tawarnya dalam peta politik nasional. Dalam survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI), partai berlambang pohon beringin itu menempati posisi ketiga dengan elektabilitas 13 persen, hanya terpaut satu poin persentase dari PDI Perjuangan (PDIP) yang berada di posisi kedua dengan 14 persen.
Posisi tersebut menempatkan Golkar dalam jajaran tiga besar partai politik dengan elektabilitas tertinggi, sekaligus hanya berada 5,3 poin persentase di bawah Partai Gerindra yang memimpin survei dengan 18,3 persen. Temuan ini menunjukkan persaingan di papan atas menuju Pemilu 2029 masih terbuka.
Survei PPI digelar pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 secara tatap muka terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi.
Direktur PPI Adi Prayitno menyampaikan hasil survei tersebut melalui kanal YouTube-nya, Sabtu (5/9/2026).
“Elektabilitas partai politik, pertanyaannya jika pemilu legislatif dilakukan saat ini partai apa yang akan Anda pilih? Ranking pertama adalah Partai Gerindra dengan perolehan 18,3 persen, lalu disusul oleh PDIP 14 persen, Golkar 13 persen,” tutur Adi, dikutip dari PorosTimur.
Setelah Golkar, posisi berikutnya ditempati Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 9,7 persen, Partai Demokrat 7,7 persen, PKS 6,9 persen, Partai NasDem 5,7 persen, dan PAN 5,6 persen.
Jarak tipis Golkar dengan PDIP menjadi salah satu poin penting dalam temuan survei tersebut. Dengan selisih hanya satu persen, posisi kedua dan ketiga memperlihatkan persaingan yang relatif ketat di antara dua partai dengan basis politik yang telah lama mengakar.
Golkar Ditopang Pemilih Lama dan Persepsi Kinerja
Menariknya, kekuatan Golkar dalam survei tersebut tidak hanya tercermin dari angka elektabilitas, tetapi juga dari alasan masyarakat menjatuhkan pilihan.
Dari delapan partai politik yang memiliki elektabilitas di atas 5 persen, pemilih Golkar paling banyak menyebut faktor sudah memilih partai tersebut sejak dulu, yakni sebesar 14,1 persen.
Alasan berikutnya adalah karena responden sudah mengenal partainya sebesar 11,4 persen. Sementara 6,7 persen lainnya menilai partai tersebut bagus.
Temuan itu memperlihatkan bahwa Golkar masih memiliki basis pemilih yang relatif bertumpu pada pengalaman dan pengenalan terhadap partai, di samping persepsi positif terhadap institusi partai.
Berbeda dengan Golkar, elektabilitas Gerindra dalam survei tersebut sangat kuat dipengaruhi faktor figur. Sebanyak 29,2 persen pemilih Gerindra menyatakan memilih karena menyukai sosok Presiden Prabowo Subianto.
“Pertama, alasan memilih Partai Gerindra itu paling dominan karena faktor suka terhadap Prabowo Subianto 29,2 persen, sudah kenal partainya 9,2 persen, dan kinerja dirasakan/terbukti 7,6 persen,” kata Adi.
Sementara itu, PDIP memiliki basis pilihan yang juga cukup kuat. Sebanyak 19,6 persen responden memilih partai tersebut karena sudah memilih sejak dulu. Sebanyak 8,2 persen menilai tokoh partainya bagus dan 8,2 persen lainnya menyebut pilihan masyarakat sekitar.
Menurut Adi, pola tersebut dapat dikaitkan dengan basis pemilih PDIP yang relatif kokoh dan memiliki keterikatan politik sejak lama.
PKB dipilih antara lain karena dianggap sebagai partainya Nahdlatul Ulama (NU) sebesar 10,9 persen. Faktor pilihan masyarakat sekitar mencapai 10,1 persen, sementara faktor anak muda sebesar 9,3 persen.
Untuk Partai Demokrat, alasan pemilih antara lain karena sudah memilih sejak dulu sebesar 10,7 persen, pernah memberikan bantuan 9,5 persen, serta menyukai dan menilai partainya bagus sebesar 8,3 persen.
Sedangkan PKS dipilih terutama karena dianggap sebagai partai Islam atau religius sebesar 18,6 persen. Berikutnya, kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 9,8 persen dan dinilai merakyat sebesar 7,8 persen.
NasDem memiliki tiga alasan utama berupa kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 10,7 persen, tokoh partainya bagus 10,7 persen, serta merakyat 8,3 persen.
Sementara PAN dipilih karena kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 11,7 persen, tokoh partainya bagus 10 persen, dan faktor keterkaitan dengan Muhammadiyah sebesar 9,5 persen.
Gerindra Memimpin, Sejumlah Partai Terancam Tak Lolos Parlemen
Di luar persaingan papan atas, survei PPI juga menunjukkan sejumlah partai masih berada dalam posisi rawan jika ambang batas parlemen atau parliamentary threshold tetap ditetapkan sebesar 4 persen. PPP, misalnya, memperoleh elektabilitas 3,4 persen atau masih berada di bawah ambang batas tersebut.
“Dari survei ini menunjukkan PPP belum bisa lolos ke parlemen dengan asumsi ambang batas parlemen itu masih 4 persen,” jelas Adi.
Setelah PPP, PSI memperoleh 2,6 persen, Partai Buruh 0,9 persen, Partai Gelora 0,8 persen, Perindo 0,4 persen, dan PBB 0,3 persen. Sementara Partai Garuda, Ummat, dan Hanura masing-masing memperoleh 0,2 persen.
Dengan elektabilitas 13 persen, Golkar kini berada di salah satu posisi strategis dalam peta persaingan menuju Pemilu 2029. Selisih hanya satu persen dari PDIP sekaligus memperlihatkan bahwa perebutan posisi dua besar masih sangat mungkin berubah seiring dinamika politik nasional. []



