Ekspor RI Ke AS Kena Tarif 32 Persen, Galih Kartasasmita Minta Pemerintah Perkuat Aliansi BRICS

Berita Golkar – Anggota Komisi XI DPR, Galih Dimuntur Kartasasmita mengimbau pemerintah segera membuat langkah langkah strategis guna menghadapi kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang menerapkan bea masuk 32 persen untuk Indonesia.

Adapun langkah itu antara lain, memperkuat perdagangan dengan negara-negara emerging market lain, menggenjot hilirisasi dan mempermudah perizinan investasi.

“Diakui atau tidak, bahwa langkah AS itu memang ada pengaruhnya terkait Indonesia masuk BRIC, jadi saat ini merupakan momentum yang tepat guna memperkuat trading dengan aliansi BRICS dan menerapkan langkah resiprokal,” katanya kepada Suarainvestor.com, di Jakarta, Kamis (3/4/2025).

Selain itu, Politisi muda Partai Golkar tersebut mendorong pemerintah memperluas pasar perdagangan dengan negara-negara non konvensional, alias memperluas diversifikasi pasar ekspor. Misalnya, negara-negara Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika dan Eropa Timur.

“Ya, kita paham kenapa AS menerapkan langkah itu, karena AS ingin menyeimbangkan neraca perdagangannya dengan negara yang selama ini menjadi mitra dagangnya,” ujarnya lagi.

Legislator dari Dapil Jawa Barat IX itu mengaku optimis dengan langkah-langkah yang akan diambil pemerintah ke depan. Pasalnya, pemerintah telah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi perang dagang dua raksasa ekonomi, yakni AS dan China.

“Indonesia sudah punya pengalaman banyak untuk mengatasi dampak perang dagang, sebut saja pengalaman 2014 hingga 2018, bahkan mampu banyak menarik investasi dari China,” terangnya.

Oleh karena itu, adik kandung Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita itu meminta agar pemerintah juga membenahi iklim investasi di dalam negeri agar lebih menarik investor asing. Misalnya, menyederhanakan perizinan, membuat kemudahan berusaha, memberikan insentif pajak dan lain-lainnya.

“Sudah banyak yang telepon kepada saya soal ini. Jadi iklim investasi itu sangat penting, agar investasi bisa segera masuk ke Indonesia,” imbuhnya.

Seperti diketahui, bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump  mengumumkan tarif timbal balik yang dikenakan kepada ratusan negara pada Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis (3/4/2025) pagi waktu Indonesia.

Indonesia turut masuk sebagai negara yang terkena tarif timbal balik dengan besaran 32 persen. Alasan tarif timbal balik 32 persen untuk Indonesia dapat ditelusuri dari neraca perdagangan antara AS dan RI.

Menurut grafis yang dirilis Reuters, Kamis (3/4/2025), Indonesia menjadi salah satu negara dengan neraca perdagangan yang negatif (defisit) di mata AS.

Artinya, nilai impor AS dari Indonesia lebih besar dibanding nilai ekspor AS ke Indonesia. Menurut data Gedung Putih yang ditampilkan grafis itu, neraca perdagangan itu minus US$18 miliar. Hal itu menjadi salah satu landasan utama AS memasang tarif timbal balik yang cukup tinggi kepada Indonesia.

Selain itu, jika melihat data tarif timbal balik yang dirilis, AS juga menyebut Indonesia menetapkan tarif impor 64 persen untuk barang AS. Tarif itu, klaim Gedung Putih, berasal dari manipulasi mata uang dan penghambat perdagangan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang nilai perdagangannya negatif bagi AS. Selain RI, ada pula China, Uni Eropa, Meksiko, Vietnam, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara lainnya. {}