Berita Golkar – Bagi warga Desa Kalipucang dan sekitarnya, aroma tanah basah saat musim hujan bukan lagi pertanda berkah, melainkan alarm kewaspadaan. Setiap tahun, luapan sungai seolah menjadi “tamu tak diundang” yang memaksa masuk ke rumah warga dan melumpuhkan urat nadi pertanian setempat.
Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang per Jumat (16/1/2026), sebanyak sembilan titik strategis di Kabupaten Batang terendam banjir. Wilayah terdampak meliputi Kalipucang, Watusalit, Karangasem Utara, Klidang Lor, hingga Kauman. Tercatat, sekitar 12.000 jiwa harus merasakan dampak langsung dari bencana musiman ini.
Bukannya beristirahat, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan justru turun langsung ke lapangan. Didampingi tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP), dan BPBD, menyusuri gang-gang sempit di Karangasem Utara, Kabupaten Batang, Sabtu (17/1/2026) malam.
Dengan sepatu bot yang terendam air, ia meninjau langsung kondisi warga di Gang Cucut yang pemukimannya tergenang luapan sungai. Tak berhenti di situ, usai menyerap aspirasi warga, rombongan tidak langsung pulang.
Pertemuan berlanjut dengan rapat darurat di Rumah Dinas Bupati hingga larut malam guna merumuskan langkah konkret penanganan banjir.
Bupati Faiz menyadari bahwa, menangani banjir Batang memerlukan strategi jangka panjang dan kolaborasi lintas sektoral. Berikut adalah poin utama rencana penanganan tersebut:
*Usulan Embung Kalipucang: Proyek senilai Rp26 miliar ini telah disodorkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Embung ini diproyeksikan mampu mengairi 133,96 hektare sawah di lima desa sekaligus menjadi pengendali banjir yang efektif.
*Kolaborasi Kewenangan: Mengingat adanya pembagian wewenang antara Pemkab dan Pemprov, Bupati terus melakukan lobi intensif agar usulan ini segera mendapat lampu hijau.
*Normalisasi Sungai: Masalah mendasar di lapangan adalah menyempitnya aliran sungai akibat alih fungsi lahan.
“Normalisasi adalah harga mati. Kita harus akui beberapa aliran sungai mengecil. Ini butuh kesadaran bersama. Ketika normalisasi dilakukan, areal yang selama ini digunakan untuk bangunan harus dikembalikan fungsinya,” tegasnya, dikutip dari InfoPublik.
Meski beberapa proyek besar masih menunggu keputusan Provinsi, Bupati Faiz memastikan Pemerintah Kabupaten Batang tidak akan tinggal diam.
“Kami terus mendorong dan melakukan upaya maksimal. Apapun yang bisa dilakukan oleh Pemda secara mandiri, akan segera kami eksekusi demi keselamatan warga,” pungkasnya. {}













