Berita Golkar – Komitmen penguatan ketahanan pangan nasional yang selama ini digaungkan pemerintah pusat menemukan pembuktiannya di daerah. Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo hadir langsung di tengah sawah Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, untuk menyaksikan capaian nyata peningkatan produktivitas padi yang selama ini sering dipandang skeptis.
Kehadiran politisi senior Partai Golkar tersebut bukan hanya kunjungan seremonial, melainkan bagian dari tugas verifikasi lapangan atas program peningkatan hasil panen yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Pati. Di hadapan petani dan jajaran pemerintah daerah, capaian panen padi lebih dari 10 ton per hektare menjadi penanda bahwa target ambisius tersebut bukan sekadar slogan, melainkan telah teruji secara faktual.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan nasional terkait upaya percepatan swasembada pangan. Dalam konteks itu, Pati tampil sebagai salah satu daerah yang mampu menerjemahkan kebijakan pusat ke dalam kerja nyata di tingkat tapak.
Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pun menegaskan bahwa program panen padi 10 ton per hektare bukanlah klaim sepihak. Hasil panen raya di Desa Bumiharjo mencatat capaian produksi sebesar 10,28 ton per hektare, sekaligus menandai lompatan signifikan dari rata-rata produksi sebelumnya.
“Program 10 ton per hektare bukan sekadar target, tetapi telah teruji di lapangan melalui pendampingan intensif kepada petani,” kata Pelaksana tugas Bupati Pati Risma Ardhi Chandra saat mengikuti panen raya padi dengan capaian produksi 10,28 ton per hektare di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Sabtu.
Risma menjelaskan bahwa panen raya tersebut merupakan buah dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari pemerintah kabupaten hingga perangkat desa, yang secara konsisten melakukan sosialisasi dan pendampingan teknis kepada petani.
“Kegiatan hari ini (7/2), dihadiri anggota DPR RI untuk membuktikan program satu hektare 10 ton di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong. Pagi ini sudah dicek dan hasilnya mencapai 10,28 ton,” ujarnya.
Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa strategi pendampingan yang dilakukan tim pertanian berjalan efektif. Terlebih, peningkatan hasil panen tetap mengandalkan pupuk subsidi secara penuh, dengan tambahan pupuk pendukung yang tepat sasaran.
“Petani di sini masih menggunakan 100 persen pupuk subsidi, ditambah pupuk pendukung. Hasilnya produksi bisa mencapai 10,2 ton. Insya Allah semua beres. Cuma tinggal bantuan alat-alat pertanian ini yang mungkin Pak Firman bisa membantu kami,” ujarnya.
Di sisi lain, Firman Soebagyo menilai keberhasilan Pemkab Pati merupakan contoh konkret bagaimana kebijakan pertanian dapat dijalankan secara disiplin dan berkelanjutan di daerah. Menurutnya, capaian tersebut selaras dengan agenda nasional percepatan swasembada pangan yang kini menunjukkan tren positif.
“Ini patut diapresiasi karena faktanya capaian swasembada pangan nasional justru lebih cepat dari rencana. Stok beras nasional di awal tahun ini mencapai 3,32 juta ton. Namun capaian ini harus dijaga keberlanjutannya dengan mengantisipasi gagal panen dan anomali cuaca,” ujar Firman yang juga menjabat Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini.
Legislator Dapil Jawa Tengah III ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan produksi harus diikuti dengan penguatan tata kelola sektor pertanian secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya perbaikan sistem pupuk, stabilisasi harga, serta penguatan peran negara melalui Bulog agar ketahanan pangan nasional tidak hanya tercapai, tetapi juga berkelanjutan.
Ia menyebut pemerintah pusat saat ini tengah menyiapkan kebijakan penguatan Bulog sebagai penyangga stok dan harga pangan, sekaligus mendorong penggunaan pupuk organik dan mikroba sebagai bagian dari strategi menjaga produktivitas dan keberlanjutan pertanian nasional.













