Berita Golkar – Pendidikan tidak boleh berhenti pada pemenuhan hak formal semata, tetapi harus mampu menyiapkan generasi muda agar siap menghadapi dunia kerja setelah menyandang gelar sarjana. Mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, negara dan seluruh pemangku kepentingan dituntut hadir memastikan kualitas dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan zaman.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, MQ Iswara, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) di Aula Kampus 1 Unpas, Jalan Lengkong Besar, Kota Bandung, Senin (9/2/2026).
Iswara menegaskan, amanah pendidikan telah diatur secara jelas dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31. Pada ayat (1) ditegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, sementara ayat (2) mewajibkan setiap warga negara mengikuti pendidikan dasar yang dibiayai oleh pemerintah.
“Artinya, pendidikan dasar selama 12 tahun itu bukan sekadar hak, tapi kewajiban negara untuk membiayai. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh stakeholder agar proses belajar mengajar selama 12 tahun benar-benar tercapai,” tegas Iswara, dikutip dari RMOLJabar.
Ia menilai, tantangan pendidikan justru semakin besar ketika memasuki jenjang perguruan tinggi. Salah satunya adalah masih lebarnya kesenjangan antara lulusan SMA yang kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.
“Dalam konteks perguruan tinggi, ada gap yang sangat besar antara SMA dan perguruan tinggi. Ini yang kami harapkan bisa menjadi perhatian pemerintah provinsi agar kualitas dan daya dukung pendidikan tinggi bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Iswara menekankan pentingnya kesiapan lulusan perguruan tinggi menghadapi dunia kerja. Menurutnya, para fresh graduate harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Konsep link and match menjadi solusi. Mahasiswa harus bisa membaca kebutuhan pasar, membaca apa yang dibutuhkan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mendorong perubahan orientasi pendidikan tinggi yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek akademik, tetapi juga penguasaan keterampilan.
“Sudah saatnya yang dikedepankan adalah keterampilan. Jangan sampai kuliah 4–5 tahun sejak mahasiswa baru, tapi tidak expert di satu keterampilan,” kata Iswara.
Menurutnya, meski semester awal masih bersifat umum, pada tahap berikutnya perguruan tinggi harus fokus menyiapkan mahasiswa agar siap terjun langsung ke lapangan setelah lulus.
“Mahasiswa harus dipersiapkan menjadi sarjana yang siap kerja, siap pakai, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri,” pungkasnya. {}













