Daerah  

Eddy Iskandar Usul Tambah Koefisien Harga, Solusi Cepat Polemik Timah Babel

Berita GolkarPolemik harga timah di tingkat penambang mitra kembali menjadi perhatian serius di Bangka Belitung. Dalam audiensi bersama manajemen PT Timah Tbk, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, Eddy Iskandar, M.Pd, mendorong langkah cepat dan terukur agar kenaikan harga global benar-benar dirasakan oleh para penambang di lapangan. Ia menilai, di tengah momentum harga dunia yang sedang menguat, dibutuhkan terobosan teknis tanpa harus menabrak struktur kerja sama yang sudah berjalan.

Eddy mengingatkan bahwa sebelumnya telah disepakati harga dasar Rp300 ribu untuk kadar 70 persen (Sn 70) melalui mekanisme deposit antara perusahaan dan mitra. Skema tersebut, menurutnya, tetap dapat dipertahankan sebagai fondasi. Namun dalam situasi pasar yang bergerak dinamis, perlu ruang fleksibilitas tambahan agar ada rasa keadilan bagi para pekerja tambang.

“Kalau kita masukkan satu variabel baru, koefisien pricing, kita bisa naikkan di situ tanpa harus menunggu terlalu lama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa koefisien tersebut dapat bersifat dinamis mengikuti fluktuasi harga global. Artinya, harga dasar tidak berubah, tetapi terdapat tambahan nilai yang langsung dapat dinikmati mitra penambang ketika harga dunia berada di tren tinggi.

Eddy juga menegaskan bahwa perhitungan tidak semata bertumpu pada fix cost. Menurutnya, harus ada ruang perhitungan yang mampu menjawab harapan masyarakat secara lebih luas.

“maka bisa ditambahkan variabel hitungan tertentu yang bisa mengakomodir harapan mitra perusahaan. Sehingga dengan demikian ada nilai tambah berkeadilan yang diperoleh oleh masyarakat yang bekerja sebagai mitra,” katanya.

Bagi Eddy, skema ini merupakan jalan tengah yang realistis. Struktur perjanjian utama tidak perlu diubah, penambang tidak harus menunggu penetapan Harga Patokan Mineral (HPM), tetapi tetap ada tambahan yang dirasakan secara langsung di lapangan.

Ia menekankan bahwa sektor tambang merupakan tulang punggung ekonomi Bangka Belitung. Setiap rupiah tambahan yang diterima penambang akan berputar kembali di daerah, menggerakkan perdagangan dan usaha kecil.

“Kalau masyarakat ada uang, mereka belanja. Itu menggerakkan ekonomi kita,” tegasnya kepada pada Jumat, 20 Februari 2026.

Lebih jauh, ia menilai momentum harga tinggi saat ini seharusnya dimanfaatkan untuk memenuhi komitmen kepada penambang dan mitra, sembari menunggu formula harga resmi yang tengah dibahas bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Usulan penambahan variabel koefisien harga itu diharapkan menjadi solusi jangka pendek yang adil, menjaga keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung.

Leave a Reply