Berita Golkar – Satu tahun memimpin NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma memperoleh rapor awal: 80,5 persen masyarakat menyatakan puas. Namun dalam politik, angka tinggi di tahun pertama bukan garis akhir, melainkan titik awal pembuktian apakah janji kampanye benar-benar bertransformasi menjadi kebijakan yang berdampak nyata.
Angka tersebut terungkap dalam Diskusi Publik Survei Kepuasan Masyarakat yang digelar di Sofyan Hotel Cut Meutia, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Diskusi menghadirkan langsung Gubernur Melki Laka Lena sebagai narasumber utama bersama Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, serta para penanggap Ade Reza Hariyadi dan Rafnel Azhari.
Kegiatan ini dihadiri 50 peserta, terdiri dari 30 jurnalis media cetak dan online nasional serta 20 mahasiswa dan diaspora NTT. Sejumlah pimpinan perangkat daerah Pemprov NTT dan Ketua KADIN NTT juga turut hadir.
Survei yang dilakukan Voxpol berlangsung pada 5 – 14 Januari 2026 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur. Sebanyak 800 responden tersebar proporsional di 22 kabupaten/kota di NTT dengan teknik multistage random sampling dan margin of error ±3,47 persen.
Selain tingkat kepuasan sebesar 80,5 persen, survei juga mencatat sektor yang menjadi perhatian utama masyarakat, yakni ekonomi dan kesejahteraan, infrastruktur dan layanan dasar, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.
Gubernur Melki menegaskan, hasil survei tersebut menjadi cerminan sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.
“Capaian 80,5 persen ini bukan untuk berpuas diri, tetapi menjadi energi dan tanggung jawab moral bagi kami untuk bekerja lebih keras, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran. Semua kebijakan harus terukur dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya, dikutip dari MediaNTT.
Ia juga memaparkan capaian penurunan angka kemiskinan di NTT. Pada Februari 2026, angka kemiskinan tercatat 17,5 persen, turun dari 18,6 persen pada Maret 2025.
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan penanganan kemiskinan berada pada jalur yang tepat. Pada 2026, Pemprov NTT akan menjalankan program bedah rumah bagi masyarakat miskin serta memperkuat percepatan penurunan stunting melalui pola orang tua asuh.
Di sektor ekonomi, penguatan UMKM dilakukan melalui program OVOP (One Village One Product) serta pengembangan NTT Mart sebagai pasar bagi produk lokal.
Melki juga menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pihak-pihak yang memanipulasi data kemiskinan.
“Jangan ada lagi yang bermain-main dengan data kemiskinan sehingga bantuan sosial tidak tepat sasaran. Kita akan tindak tegas, termasuk masyarakat yang tergolong mampu namun tetap menerima bansos melalui kerja sama dengan oknum,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengapresiasi kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur yang dinilai aktif turun ke lapangan menemui masyarakat. Menurutnya, kedekatan pemimpin dengan rakyat menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
Ade Reza Hariyadi menilai tahun pertama kepemimpinan merupakan fase penting untuk memetakan tantangan ke depan, terutama di sektor ekonomi, infrastruktur, dan kemiskinan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator kualitas hidup masyarakat.
Senada, Rafnel Azhari menyebut angka kepuasan 80,5 persen sebagai capaian positif di tahun pertama pemerintahan. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap fokus membenahi aspek-aspek yang masih menjadi catatan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga memastikan pelaksanaan PON 2028 NTT-NTB tetap berjalan sesuai rencana dengan prinsip efisiensi anggaran, yakni memanfaatkan dan merenovasi venue yang sudah ada tanpa membebani APBN.
Diskusi publik ini menjadi ruang pertanggungjawaban sekaligus forum dialog terbuka antara pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat guna memperkuat tata kelola pemerintahan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di NTT. {}











