Berita Golkar – Wakil Ketua Umum BP Lansia Pusat, Robinson Napitupulu, dalam keterangannya kepada awak media menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.
Ia menyampaikan bahwa warga negara Indonesia dari berbagai latar belakang, termasuk keturunan Tionghoa yang telah memeluk agama tertentu seperti Islam, Kristen, Buddha, Hindu, maupun Konghucu, pada umumnya dikenal tekun dan taat menjalankan ajaran agamanya tanpa perlu merendahkan atau menyerang keyakinan pihak lain.
Menurut Robinson, praktik keberagamaan yang dewasa adalah menjalankan ajaran masing-masing secara sungguh-sungguh tanpa harus menyatakan diri paling benar dengan cara menyakiti atau menista agama lain. Ia menilai, ujaran kebencian dan pernyataan yang merendahkan simbol agama tertentu berpotensi menimbulkan luka batin dan gesekan sosial di tengah masyarakat yang plural.
“Bangsa ini dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Karena itu, setiap pernyataan publik harus dijaga agar tidak melukai perasaan umat lain dan tidak memicu konflik horizontal,” ujarnya.
Robinson mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan suasana aman dan nyaman agar pembangunan nasional dapat berjalan dengan baik menuju masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia menegaskan bahwa perbedaan adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat sebagai kekuatan, bukan dijadikan sumber perpecahan.
Dalam konteks sejarah kepemimpinan nasional, ia menyinggung keteladanan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, yang dikenal luas sebagai tokoh pluralis dan dijuluki Bapak Persatuan serta Bapak Demokrasi. Kebijakan pengakuan hari raya keagamaan tertentu sebagai hari libur nasional dinilai sebagai langkah progresif dalam memperkuat persatuan bangsa.
Robinson juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk meneladani semangat persatuan yang pernah ditunjukkan para pendiri bangsa, termasuk Sukarno dengan ajaran Marhaenismenya yang menekankan kebersamaan dan keadilan sosial.
“Kita semua bersaudara sebangsa dan setanah air. Biarkan perbedaan itu ada, tetapi jadikan sebagai satu kesatuan yang indah seperti warna-warni pelangi,” tutup Robinson.
Ia berharap seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan elite politik dapat menjadi penyejuk di tengah masyarakat serta bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.













