Berita Golkar – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi kesepakatan dagang Indonesia-Amerika Serikat yang disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington D.C., pekan lalu.
Perjanjian “Agreement on Reciprocal Trade” ini dinilai membuka ruang ekspor lebih kompetitif di tengah perlambatan perdagangan global.
Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat menurunkan tarif impor produk Indonesia dari rata-rata 32% menjadi 19%. AS juga memberi tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk unggulan Indonesia, mulai dari sawit, kopi, kakao, karet, rempah, hingga tekstil tertentu, komponen elektronik, dan sejumlah komponen industri dirgantara.
“Kesepakatan ini adalah hasil diplomasi ekonomi yang konkret dan terukur. Penurunan tarif dari sekitar 32 persen menjadi 19 persen, serta pemberian tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia, merupakan capaian strategis yang patut diapresiasi. Ini angin segar bagi pelaku usaha, petani sawit, petani kopi, industri tekstil, hingga sektor manufaktur berorientasi ekspor,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Ia memaparkan bahwa sepanjang 2025, ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar US$ 30,96 miliar, sementara impor dari AS mencapai sekitar US$ 9,84 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus lebih dari US$ 21 miliar, ditopang antara lain oleh mesin dan perlengkapan listrik, alas kaki, pakaian jadi, serta komoditas berbasis perkebunan.
Dengan skema tarif baru, pelaku usaha nasional dinilai punya peluang menaikkan daya saing harga di pasar AS karena beban bea masuk lebih rendah. Namun, Bamsoet menekankan momentum ini harus diikuti perbaikan produktivitas dan kualitas agar manfaatnya maksimal.
“Surplus perdagangan kita dengan Amerika sudah kuat. Perjanjian ini berpotensi memperbesar surplus tersebut jika diikuti oleh peningkatan produktivitas dan kualitas produk dalam negeri. Tantangannya sekarang adalah memastikan pelaku usaha kita siap memanfaatkan momentum ini,” kata Bamsoet, dikutip dari Detik.
Selain tarif, kedua negara juga menyepakati komitmen investasi dan kerja sama bisnis senilai sekitar US$ 38,4 miliar di sektor energi, teknologi, manufaktur, mineral, serta agribisnis. Indonesia juga berkomitmen untuk melakukan pembelian produk energi, pertanian, dan aviasi dari AS sebagai bagian dari keseimbangan perdagangan, sementara investasi diharapkan mendorong hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja.
“Arus investasi yang masuk harus kita kawal agar benar-benar memberi efek berganda bagi ekonomi nasional. Transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri dalam negeri harus menjadi prioritas. Kita ingin kerja sama ini berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” urai Bamsoet.
Meski membawa peluang, Bamsoet mengingatkan risiko persaingan di pasar domestik juga meningkat, terutama bagi sektor pertanian dan manufaktur tertentu. Pemerintah diminta menyiapkan mitigasi melalui regulasi yang adaptif, perlindungan sektor strategis, serta peningkatan produktivitas UMKM agar tetap kompetitif.
“Kita harus realistis dan cermat. Perjanjian ini membawa peluang besar, tetapi juga tantangan. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar industri nasional tidak tergerus oleh produk impor yang lebih kompetitif. Penguatan daya saing menjadi kunci utama,” tutup Bamsoet. {}













