Airlangga Hartarto Sebut AS Setuju Sawit Indonesia Bebas Tarif

Berita Golkar – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Amerika Serikat (AS) telah menyetujui kelapa sawit masuk dalam daftar komoditas yang memperoleh fasilitas pembebasan tarif bea masuk atau tarif nol persen.

Namun, Airlangga menegaskan bahwa produk tekstil tidak termasuk dalam kesepakatan bebas tarif tersebut. Menurutnya, fasilitas tarif nol persen hanya diberikan kepada komoditas yang berasal dari sumber daya alam.

“Tekstil kan bukan dari alam. Jadi yang masuk itu semua berbasis sumber daya alam tropis,” ujar Airlangga usai meninjau persiapan program Work From Anywhere (WFA) di Pondok Indah Mall 1, Jakarta, Jumat (26/12/2025), dikutip dari RadarAktual.

Ia menjelaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang lahir setelah Presiden AS Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif terkait tarif resiprokal pada awal April 2025, mengutip dari kontan.co.id.

Meski demikian, Airlangga belum merinci jumlah pasti pos tarif yang akan mendapatkan fasilitas nol persen, karena pembahasan teknis masih dalam tahap finalisasi.

Airlangga memastikan bahwa kriteria penerima tarif nol persen secara khusus ditujukan bagi komoditas sumber daya alam berbasis tropis.

Dengan demikian, produk manufaktur seperti tekstil, yang selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia ke AS, tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 19 persen.

Sebelumnya, Airlangga juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah merampungkan perundingan lanjutan, termasuk negosiasi tarif resiprokal dengan pemerintah AS.

Dari hasil pembicaraan bersama Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer, kedua negara telah menyepakati tenggat waktu penyelesaian negosiasi.

Dokumen kesepakatan tersebut ditargetkan rampung sebelum akhir Januari 2026 dan akan ditandatangani secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Menurut Airlangga, proses negosiasi berjalan dengan baik. Saat ini, pemerintah AS masih mengatur jadwal yang tepat untuk mempertemukan kedua kepala negara.

“Sebelum akhir Januari, dokumen kesepakatannya akan disiapkan dan ditandatangani secara resmi,” ujar Airlangga dalam konferensi pers dari Washington DC, Selasa (23/12/2025). {}