Airlangga Hartarto Ungkap Arahan Prabowo: Industri Tekstil Harus Diperkuat, Target Ekspor USD 40 Miliar

Berita GolkarPresiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap masa depan industri nasional di tengah tekanan global dan eskalasi perang dagang. Dalam pertemuan di Hambalang, Presiden secara langsung menyampaikan pesan strategis kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto agar pemerintah tidak hanya mempertahankan, tetapi juga memperkuat sektor-sektor industri kunci, khususnya tekstil.

Pesan tersebut diungkapkan Airlangga dalam acara Workshop Persiapan Pemeriksaan LKPP, LKKL, dan LKBUN Tahun 2025 di BPK Tower, Jakarta, Senin (12/1/2026).

“Dalam pertemuan tadi malam di Hambalang, Bapak Presiden Prabowo Subianto juga mendorong pentingnya sektor industri tekstil untuk kita pertahankan karena sektor industri tekstil ini adalah yang paling terbuka untuk menghadapi perang dagang,” ujar Airlangga Hartarto dikutip dari keterangan resminya, Senin (12/1/2026).

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan bahwa Presiden meminta agar pemerintah tidak berhenti pada pemetaan masalah, tetapi melangkah lebih jauh dengan menyiapkan strategi konkret untuk menjaga keberlanjutan industri tekstil nasional. Berdasarkan kajian yang dilakukan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kekuatan utama industri tekstil dunia.

“Dan dari hasil studi tersebut Indonesia berpotensi menjadi 5 pemain besar tekstil dunia karena dari segi pertumbuhan, sektor tekstil ini selalu akan dibutuhkan,” ujar Ketua Umum DPP Partai Golkar periode 2017-2024 tersebut.

Sebagai tindak lanjut, Airlangga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui usulan tahap awal pembentukan pendanaan untuk mendukung pemberian insentif sektor tekstil. Skema ini disiapkan untuk melengkapi dan memperkuat value chain industri tekstil nasional, dengan estimasi kebutuhan dana sekitar US$6 miliar.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan melakukan langkah struktural dengan merombak peran BUMN melalui pembentukan entitas khusus yang fokus menangani sektor tekstil.

“Pemerintah menargetkan peningkatan nilai ekspor tekstil dari sekitar US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun ke depan, sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 4 juta orang menjadi 6 juta orang, atau bertambah sekitar 2 juta tenaga kerja di sektor tekstil,” tegasnya.

Di luar sektor tekstil, perhatian pemerintah juga diarahkan pada industri elektronik yang dinilai strategis di tengah perubahan lanskap global. Airlangga menyebut pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan perusahaan semikonduktor global asal Inggris yang menyatakan kesediaannya menjadi mitra strategis Indonesia.

Sejalan dengan itu, pemerintah berencana membentuk BUMN khusus di bidang semikonduktor. Pengembangan industri ini akan difokuskan pada penguatan kualitas sumber daya manusia, mengingat ekosistem semikonduktor sangat bertumpu pada kapabilitas SDM.

“Industri semikonduktor yang dikembangkan diarahkan untuk menjawab kebutuhan masa depan, terutama bagi sektor otomotif, internet of things (IoT), komputer personal, data center, serta layanan komputasi awan (cloud). Indonesia dinilai memiliki keunggulan tersendiri karena didukung oleh pasar domestik yang besar dan merupakan negara dengan ekonomi digital terbesar di ASEAN,” pungkas Airlangga.

Leave a Reply