Berita Golkar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia membagikan pengalaman ekstremnya saat memimpin langsung pemulihan energi pascabencana di Aceh dan Sumatera Utara. Bahlil mengaku seringkali harus mengambil keputusan strategis di lokasi yang tidak biasa, mulai dari tenda pengungsian hingga di pinggir kali.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, seorang pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan laporan di atas meja. Baginya, data yang dilaporkan bawahan seringkali memiliki diskrepansi dengan realita di lapangan yang jauh lebih pelik.
“Saya melakukan rapat itu di pinggir kali, di tenda-tenda itu kita memutuskan cepat untuk melakukan. Jadi menurut saya leadership itu justru ada ketika di lapangan. Enggak boleh enggak, harus turun,” tegas Bahlil dalam sebuah wawancara, Selasa (30/12/2025), dikutip dari WartaEkonomi.
Langkah Bahlil turun ke titik nol bencana bukan tanpa alasan. Ia mencontohkan bagaimana instruksi untuk mengangkut tower SUTET menggunakan helikopter diambil setelah melihat langsung akses darat yang mustahil ditembus. Di Bireuen, ia menyaksikan sendiri bagaimana sungai yang semula lebarnya 150 meter meluap hingga 1 kilometer dan menghanyutkan sepuluh tower listrik.
“Jaraknya cuma 1,7 kilo tapi enggak bisa kita angkut pakai darat, karena enggak ada jalan yang tembus. Maka apa yang terjadi? Kita angkut pakai helikopter. Jadi memang tantangannya luar biasa,” ceritanya.
Keputusan “rapat pinggir kali” ini juga mencakup pengaturan logistik rumit, di mana lima helikopter dikerahkan setiap hari untuk mengangkut 35 ton material, meski harus menghadapi kendala ketersediaan avtur yang terbatas.
Di balik ketegasannya mengambil keputusan cepat, Bahlil mengaku memiliki ikatan emosional dengan para pengungsi. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi korban letusan gunung berapi pada tahun 1988, sehingga ia memahami betul penderitaan warga yang kehilangan tempat tinggal dan akses energi.
“Saya kan pernah juga, menjadi seorang anak yang kena bencana. Tahun 88 saya itu kena bencana. Jadi pernah merasakan gitu lho. Ibu enggak ketemu dengan anaknya, ayah enggak ketemu dengan keluarganya… Jadi ya saya melakukan itu betul-betul atas dasar hati yang dalam karena pernah menjadi korban,” ungkap Bahlil dengan nada emosional.
Bahlil mengakui, ide-ide kreatif seringkali muncul justru saat ia melihat langsung penderitaan rakyat di tenda-tenda yang gelap gulita. Ketika akses jalan belum bisa dilalui untuk membangun jaringan permanen, ia memerintahkan distribusi 1.000 unit genset dan 3.000 kompor gas sebagai solusi instan.
“Kalau enggak di lapangan kita enggak bisa tahu. Sekarang kita sudah kirim sekitar 1.000 genset untuk tangani saudara-saudara kita termasuk yang di tenda-tenda,” tambahnya.
Meski pemulihan di Aceh belum mencapai 100% karena masih ada 220 desa yang terisolasi, Bahlil memastikan tim di lapangan bekerja totalitas 24 jam. Ia meminta masyarakat memaklumi jika pemulihan membutuhkan waktu karena ketergantungan pada infrastruktur dasar seperti jalan yang saat ini masih dalam proses perbaikan. {}













