Di Tengah Gejolak Geopolitik Global, Lemhannas Tekankan Lima Karakter Kunci Pemimpin Nasional

Berita GolkarSituasi geopolitik global tengah bergerak menuju fase yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Eskalasi konflik di Timur Tengah, meningkatnya agresivitas kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran, manuver geopolitik terkait Greenland, hingga penerapan kebijakan tarif dagang yang keras terhadap berbagai negara, menjadi sinyal kuat bahwa tatanan dunia sedang berada dalam tekanan serius.

Dalam konteks inilah, ketahanan kepemimpinan nasional setiap negara, termasuk Indonesia, diuji untuk mampu membaca arah perubahan, menjaga kepentingan nasional, sekaligus tetap adaptif terhadap dinamika global yang cepat berubah.

Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) menegaskan kembali peran strategisnya sebagai kawah candradimuka pencetak pemimpin nasional yang tangguh.

Gubernur Lemhannas RI, TB Ace Hasan Syadzily, menekankan bahwa di tengah situasi global yang sarat rivalitas kekuatan besar dan ketegangan ekonomi-politik lintas kawasan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknokratis, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan nasional yang utuh dan berjangka panjang.

Hal tersebut disampaikan Ace Hasan Syadzily saat memberikan sambutan pada Upacara Pembukaan Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXIX di Gedung Pancagatra Lemhannas RI, Selasa (13/1).

Dalam forum tersebut, ia menggarisbawahi lima karakter utama kepemimpinan nasional yang dinilai krusial untuk menghadapi lanskap geopolitik global yang kian tidak menentu.

“Sebagai kader pimpinan tingkat nasional, saudara-saudara diharapkan kelak akan memiliki karakter utama kepemimpinan nasional, yaitu, pertama, negarawan dengan memiliki nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus dasar bangsa,” ujar Ace dalam sambutannya.

Ace menegaskan, karakter negarawan menjadi fondasi utama karena pemimpin nasional tidak boleh terjebak pada kepentingan jangka pendek atau sektoral. Dalam dunia yang ditandai oleh kebijakan luar negeri agresif, perang dagang, dan tarik-menarik pengaruh global, nilai kebangsaan dan konsensus dasar negara harus menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan strategis.

Lebih lanjut, Ace menjelaskan bahwa karakter kedua yang harus dimiliki pemimpin nasional adalah berwawasan global. Pemimpin dituntut memahami peta geopolitik dunia secara komprehensif, termasuk dampak konflik internasional, pergeseran aliansi, serta kebijakan ekonomi global, seperti tarif dagang Amerika Serikat yang berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri. Tanpa pemahaman global yang memadai, kebijakan nasional berisiko reaktif dan kehilangan daya antisipatif.

Karakter ketiga, lanjut Ace, adalah kemampuan solutif dan strategis. Pemimpin nasional tidak cukup hanya memahami persoalan, tetapi juga harus mampu merumuskan kebijakan dan gagasan strategis yang menjawab tantangan bangsa. Di tengah tekanan global yang dapat berdampak pada ketahanan energi, pangan, dan industri nasional, kemampuan menghadirkan solusi konkret menjadi kebutuhan mendesak.

Karakter keempat berkaitan erat dengan keberanian dan ketegasan dalam mengambil kebijakan strategis yang berpihak pada kepentingan nasional dan sejalan dengan asta cita pemerintah.

Ace menegaskan bahwa pemimpin nasional harus mampu menjaga kedaulatan dan kepentingan Indonesia, sekalipun berada di bawah tekanan kepentingan global atau kekuatan ekonomi besar.

Sementara itu, karakter kelima adalah kolaboratif. Dalam situasi global yang saling terhubung, pemimpin nasional dituntut memiliki kemampuan berkoordinasi dan berkolaborasi lintas sektor, lintas lembaga, bahkan lintas negara. Sinergi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global yang fluktuatif.

Sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas tersebut, Lemhannas RI merancang pendidikan P4N LXIX dengan kurikulum yang komprehensif. Selama lima setengah bulan ke depan, para peserta akan dibekali materi wawasan kebangsaan, kepemimpinan nasional, ketahanan nasional, geopolitik, dan geostrategi melalui pendekatan asta gatra. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk cara pandang yang holistik dan integratif dalam membaca persoalan bangsa dan dunia.

“Melalui pendidikan ini, para peserta akan dididik dan dibekali pengetahuan sebagai kader pimpinan tingkat nasional yang berkarakter negarawan, berpikir holistik, integral, dan komprehensif, dengan menampilkan moral dan etika kebangsaan, berintegritas dan profesional,” tambah Ace Hasan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Menutup sambutannya, Ace menyampaikan harapan agar pendidikan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas individu peserta, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penguatan lembaga, masyarakat, dan bangsa di tengah ketidakpastian global.

“Semoga pendidikan ini membawa manfaat besar, tidak hanya bagi pribadi saudara sekalian, tetapi juga bagi lembaga, masyarakat, dan bangsa Indonesia yang kita cintai,” kata Ace.

Kegiatan yang mengusung tema “Pemantapan Kapasitas Pimpinan Tingkat Nasional Guna Mendukung Asta Cita dalam rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2045” ini diikuti oleh 110 peserta dari berbagai unsur strategis nasional. Peserta terdiri dari TNI AD sebanyak 25 orang, TNI AL 13 orang, TNI AU 10 orang, Polri 28 orang, perwakilan kementerian 8 orang, lembaga negara 6 orang, lembaga pemerintahan nonkementerian 8 orang, pemerintah daerah 1 orang, unsur nonpemerintahan 5 orang, serta enam peserta dari negara sahabat, yakni Australia, India, Kamboja, Malaysia, dan Timor Leste.

Upacara pembukaan ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi Lemhannas RI, antara lain Wakil Gubernur Lemhannas RI Laksdya TNI Edwin S.H., M.Han., M.H.; Sekretaris Utama Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra S., M.Si.; Deputi Pendidikan Marsda TNI Ir. Bob Henry Panggabean, M.I.P.; Plt. Deputi Kebangsaan Mayjen TNI Raden Djaenudin Selamet, S.E.; Plt. Deputi Pengkajian Strategik Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi, M.M.; serta para pejabat struktural, tenaga ahli pengajar, tenaga ahli pengkaji, dan tenaga profesional Lemhannas RI.

Di tengah dunia yang kian bergejolak, pendidikan kepemimpinan nasional seperti P4N ini menjadi semakin relevan. Indonesia dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu mengambil peran strategis di panggung global dengan tetap berpegang teguh pada kepentingan nasional dan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.