Di WEF Davos, Menkomdigi Meutya Hafid Ingatkan Risiko Ketimpangan di Balik Transformasi Digital

Berita GolkarMenteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan bahwa transformasi digital dan pesatnya perkembangan teknologi global tidak serta-merta membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Tanpa kebijakan pengembangan keterampilan yang inklusif, perubahan dunia kerja justru berisiko memperlebar ketimpangan sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya dalam sesi Crisis or Opportunity? Skills for a 2030 Workforce di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026).

Menurut Meutya, tantangan utama dunia kerja saat ini bukan semata hilangnya lapangan pekerjaan, melainkan kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja yang tersedia dengan kebutuhan ekonomi masa depan.

“Pekerjaan tidak benar-benar hilang. Yang berubah adalah keterampilan. Jika negara gagal menyiapkan warganya secara merata, transformasi teknologi justru akan meninggalkan banyak orang di belakang,” ujar Meutya, dikutip dari Liputan6.

Ia mengutip Future of Jobs Report WEF yang memproyeksikan terciptanya sekitar 170 juta pekerjaan baru secara global hingga 2030, meskipun sekitar 92 juta peran lama diperkirakan akan tergeser. Kondisi tersebut, kata Meutya, menuntut proses reskilling dan upskilling dalam skala besar agar peluang kerja baru tidak hanya dinikmati kelompok tertentu.

Sebagai negara demokrasi besar dengan lebih dari 230 juta pengguna internet dan dominasi populasi usia muda, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam memanfaatkan transformasi digital. Namun, Meutya menegaskan potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila investasi pengembangan keterampilan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Generasi muda, perempuan, pekerja sektor informal, dan kelompok dengan akses terbatas harus menjadi bagian dari agenda keterampilan nasional. Inklusi bukan tambahan, tetapi syarat utama agar transformasi digital menghasilkan keadilan sosial,” katanya.

Prioritaskan Pengembangan Keterampilan Digital

Meutya menjelaskan pemerintah Indonesia saat ini memprioritaskan pengembangan keterampilan digital, pembelajaran sepanjang hayat, serta kebijakan yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memastikan kemajuan teknologi mampu meningkatkan mobilitas sosial dan memperkuat daya saing nasional.

“Keterampilan digital harus berjalan seiring dengan kemampuan manusia seperti berpikir kritis, adaptasi, dan kolaborasi. Di situlah masa depan kerja ditentukan,” ujar Meutya.

Menutup pernyataannya, Meutya menegaskan dekade ini akan menjadi periode krusial bagi arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Pilihan kebijakan hari ini akan menentukan apakah transformasi digital menjadi jalan naik kelas bersama, atau justru memperlebar ketimpangan. Indonesia memilih menyiapkan seluruh warganya agar siap menghadapi perubahan,” katanya.

Sesi diskusi tersebut turut menghadirkan Founder dan CEO AI Academy Asia Bolor Erdene Battsengel serta CEO dan Co-Founder Teach For All Wendy Kopp.

Diskusi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan sektor pendidikan dalam membangun ekosistem keterampilan yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan masa depan. {}