Berita Golkar – Ketua Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia mulai mendorong pembenahan di sektor migas dan menyentuh kepentingan lama para mafia-mafia yang selama ini nyaman, resistensi tidak selalu datang dalam bentuk perlawanan terbuka.
Lawan Ketum Bahlil justru bekerja senyap di ranah persepsi publik. Di titik inilah media sosial menjadi senjata mereka.
Narasi yang dibangun lawan berfokus pada pembingkaian personal. Setiap pernyataan ketum Bahlil dipotong, dipilih, lalu disajikan dalam konteks yang membuatnya tampak emosional, tidak kompeten, atau berambisi politik.
Kesalahan teknis dibesar-besarkan, sementara capaian dan niat reformasi dikesampingkan. Publik tidak diajak menilai substansi, melainkan diarahkan pada kesan.
Label pun mulai dilekatkan secara berulang: keras, tidak kompeten, populis. Dalam teori komunikasi, pengulangan label semacam ini efektif—bukan karena kebenarannya, tetapi karena konsistensinya. Lama-kelamaan, label menggantikan penilaian rasional.
Di saat yang sama, mekanisme agenda setting bekerja. Isu negatif tentang pribadi Bahlil terus diangkat, sementara persoalan besar migas ketimpangan tata niaga, rente, dan kebocoran perlahan menghilang dari percakapan utama.
Strategi ini diperkuat dengan atribusi yang timpang. Jika terjadi gejolak di sektor migas, penyebabnya diarahkan pada karakter atau keputusan personal Bahlil, bukan pada kompleksitas struktural yang sudah puluhan tahun mengakar.
Dengan begitu, upaya reformasi dipersepsikan sebagai sumber masalah, bukan solusi.
Lucunya, dalam suasana narasi negatif yang dominan, suara kader Partai Golkar banyak memilih diam, para kader diam bukan karena setuju, tetapi karena para kader banyak yang pengecut dan takut dianggap melawan arus.
Dan diamnya suara alternatif ini justru menguatkan ilusi bahwa penilaian buruk tersebut adalah konsensus publik.
Ketika figur yang mendorong perubahan berhasil dicitrakan buruk, maka reformasi itu sendiri perlahan kehilangan dukungan.
Dari rangkaian dinamika ini, jelas bahwa yang sedang diserang bukan semata pribadi Ketum Bahlil Lahadalia, melainkan legitimasi perubahan yang ia dorong.
Narasi negatif yang dibangun secara sistematis bertujuan mengalihkan perhatian dari substansi reformasi migas dengan tujuan mengembalikan kenyamanan kepentingan lama.
Jika dibiarkan, pembingkaian semacam ini bukan hanya merugikan ketua umum, tetapi juga melemahkan agenda perjuangan partai dan merusak nalar publik dalam menilai kebijakan.
Karena itu, sudah saatnya para kader tidak terus memilih diam. Diam bukan sikap netral, melainkan ruang kosong yang diisi oleh fitnah dan persepsi sepihak.
Para kader Partai Golkar perlu berani menyampaikan pandangan yang jujur, berimbang, dan berbasis substansi tentang Ketum Bahlil, tentang niat, keberanian, dan arah reformasi yang ia perjuangkan.
Dengan bersuara, kader bukan sekadar membela individu, tetapi menjaga marwah dan kehormatan ketua umum, sekaligus menegaskan bahwa partai berdiri di pihak perubahan, bukan tunduk pada tekanan status quo. {LuwukTimur}
Oleh: Muhamad Ramdan Bukalang, Sekretaris AMPI Kabupaten Banggai











