Gde Sumarjaya Linggih Sebut Kebijakan Tarif Trump Justru Untungkan Indonesia, Kok Bisa?

Berita Golkar – Anggota Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih memastikan Indonesia tidak akan begitu terkenda dampak kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal yang dikenakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI ini menyebut, hal ini dikarenakan banyak negara pesaing yang juga dikenakan tarif yang sama namun dengan besaran yang berbeda. Menurutnya, kebijakan yang diberlakukan Trump ini sama halnya seperti kebijakan hilirisasi Indonesia yang bertujuan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

“Makanya dia engga mau lagi negosiasi. Kan dia mundur semua tuh WTO. karena dia switch interest. lebih baik dia negosiasi bilateral aja gitu,” ujarnya saat dihubungi VOI, Kamis (3/4/2025).

Kendati mengenakan tarif kepada Indonesia sebesar 23 persen, ia menyebut banyak produk Indonesia yang masih dibutuhkan AS. Ia menyebut Indonesia memiliki banyak sumber daya alam (SDA).

“Yang berat kan kalau engga punya sumber daya alam untuk mengolah bahan bakunya. Meskipun mereka politiknya stabil ya. Itu yang berat, mereka kena tarif lebih tinggi dari Indonesia ya. Dampaknya tidak terlalu signifikan karena kita punya (SDA),” beber dia.

Sumarjaya menambahkan, pemberlakuan tarif ini juga bisa membawa angin segar bagi Indonesia. Ia menyebut, jika sebelumnya banyak negara yang ingin melakukan investasi ke China, kini banyak yang akan beralih ke Indonesia. Ia menjelaskan, hal ini dikarenakan adanya potensi penurunan pasar dalam negeri karena berkurangnya jumlah penduduk akibat kebijakan ‘one family one chlidren’.

Bahkan, kata dia, jumlah penduduk China bahkan bisa menurun dari sebelumnya 1,4 miliar jiwa menjadi 700 juta dalam kurun waktu satu tahun.

“Pasar dia kan menurun. Kalau pasar dia menurun, dia akan mencari pasar yang baru, pasar yang baru itu Indonesia. Indonesia tumbuh. 1 family enggak puas punya anak 2 gitu. Maka mereka sangat memungkinkan ke Indonesia untuk mencari Investasi,” terang dia.

Di sisi lain, lanjut dia, sumber daya manusia di Indonesia juga lebih murah jika dibandingkan negara lain serta dekat dengan sumber daya alam yang menjadi bahan baku pabrik. {}