Berita Golkar – Walikota Mataram, Mohan Roliskana resmi ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026.
Keputusan prestisius ini diumumkan oleh dewan juri setelah melalui proses penjurian ketat yang berpuncak pada babak presentasi di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat malam (9/1/2026).
Mohan berhasil menyisihkan nominator lainnya melalui gagasan bertajuk “Gerbang Sangkareang”, sebuah visi pembangunan yang mengawinkan filosofi tradisional dengan kemajuan kota modern.
Penghargaan ini dijadwalkan akan diserahkan langsung pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari mendatang.
Filosofi di Balik “Gerbang Sangkareang”
Dalam presentasinya, Mohan menjelaskan bahwa Mataram adalah kota heterogen yang tetap menjaga harmoni di tengah kemajuan teknologi. “Gerbang Sangkareang” bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol transformasi yang berakar dari identitas lokal.
Inspirasi Lumbung Padi: Bentuk gerbang ini terinspirasi dari lumbung padi masyarakat suku Sasak. Lumbung melambangkan kemakmuran, rasa syukur, pengendalian diri, dan semangat gotong royong.
Makna Nama: Nama “Sangkareang” diambil dari nama puncak kedua tertinggi di Pulau Lombok, yang merepresentasikan visi tinggi untuk kesejahteraan warga.
“Gerbang Sangkareang bukan sesuatu yang statis, melainkan katalisator yang membentuk ekosistem ‘budaya baru’ di Kota Mataram,” ujar Mohan di hadapan dewan juri, dikutip dari Lombokpost.
Dampak Nyata: Dari Ikon Kota Hingga Panggung Melbourne
Mohan Roliskana berhasil membuktikan bahwa kebudayaan dapat menjadi motor penggerak ekonomi (city branding). Salah satu turunan nyata dari konsep ini adalah lahirnya Batik Mentaram.
Batik ini tidak hanya menjadi pakaian dinas lokal, tetapi telah menembus pasar internasional, tampil memikat di panggung Bellabric dan Melbourne, Australia. Dampak ekonomi lainnya mencakup berbagai aspek.
Peningkatan UMKM: Kerajinan lokal dan aksesori (seperti bros khas) yang terinspirasi dari desain gerbang.
Lapangan Kerja: Penyerapan tenaga kerja di sektor industri kreatif lokal.
Identitas Global: Memperkuat posisi Mataram sebagai kota yang elegan dan adaptif di mata dunia.
Penjurian Profesional dan Transparan
Ketua Dewan Juri, Yusuf Susilo Hartono, menegaskan bahwa proses seleksi berlangsung sangat serius selama dua bulan terakhir. Dari 10 nominator (3 Wali Kota dan 7 Bupati), terpilihlah para pemimpin muda yang memiliki visi kebudayaan yang kuat.
Proses penjurian kali ini juga diwarnai momen menyentuh. Beberapa kepala daerah harus melakukan presentasi via Zoom karena tugas mendesak, seperti Bupati Padang Pariaman yang menangani bencana banjir, hingga Bupati Labuhan Batu yang tetap mengikuti penjurian meski sedang dalam suasana duka setelah pemakaman ibundanya.
Panel Juri Berkompeten
Penilaian dilakukan oleh lima pakar dari berbagai latar belakang, yaitu: Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ & Seniman), Agus Dermawan T (Penulis & Pengamat Seni Budaya), Sudjiwo Tejo (Budayawan & Seniman), Akhmad Munir (Ketua Umum PWI Pusat & Dirut Antara), dan Yusuf Susilo Hartono (Wartawan Senior & Budayawan). {}













