DPP  

Kudeta Terselubung; Operasi Destabilisasi Agustus 2025

Berita GolkarDemo 25, 28, hingga 30 Agustus 2025 tidak bisa lagi dibaca sebagai protes spontan rakyat semata. Pola dan eskalasinya menunjukkan rancangan lebih dalam:

Sebuah upaya destabilisasi sistematis yang mengkapitalisasi isu publik, memperpanjang durasi kegaduhan, dan menjadikannya dalil untuk menggoyang legitimasi Prabowo.

Awalnya; kemarahan terhadap tunjangan DPR meledak pada 25 Agustus. Namun dalam hitungan hari, narasi bergeser. Insiden kendaraan taktis Brimob yang menewaskan seorang pengemudi ojek online pada 28 Agustus menjadi katalis,

Memicu gelombang simpati nasional dan kemarahan baru. Dari titik itu, kerumunan bukan lagi sekadar soal tunjangan, tapi simbol perlawanan terhadap negara yang dianggap abai dan represif.

Dalam dalam operasi intelejen CIA, ini disebut magnification tactics: memperbesar sebuah insiden agar menjadi bahan bakar agitasi. Tujuannya bukan satu ledakan, melainkan rangkaian letupan berulang sebuah protraction strategy.

Gerakan dibangun untuk bertahan berminggu, bahkan berbulan, dengan satu harapan: menciptakan political fatigue, kelelahan publik dan negara terhadap krisis yang tak pernah selesai. Operasi intelejen yang sama di lakukan di Chile 2019 dan Arab Spring 2011

Aktor yang bermain pun bukan satu komando. Laporan lapangan menunjukkan adanya koalisi cair: mahasiswa dan aktivis sebagai wajah depan; pengusaha yang terjerat hukum, politisi yang kehilangan akses, geng narkoba, preman, bahkan oknum aparat sebagai penumpang gelap.

Inilah yang dalam teori intelejen disebut convergence of interest: tidak ada ideologi tunggal, hanya kepentingan yang bersilangan.

Keterlibatan sebagian elite ekonomi, disebut “9 naga,” membuka lapisan lain: economic sabotage. Modal besar memungkinkan protes berulang dibiayai, logistik dijaga, narasi terus diperpanjang.

Jika benar, maka ini adalah fifth column klasik: musuh dalam selimut yang tak terlihat di jalanan, tetapi hadir di ruang elite.

Bahaya sesungguhnya bukan skala kerusuhan, melainkan durasinya. Publik bisa melupakan bentrokan satu hari, tapi tidak pernah lelah membicarakan kerusuhan yang berulang.

Persepsi yang tumbuh adalah negara kehilangan kendali. Di titik itu, delegitimasi lahir bukan dari kekalahan fisik, melainkan dari hilangnya kendali narasi.

Pemerintah kini dihadapkan pada jebakan strategis. Jika terlalu lemah, rezim dituduh tidak mampu menjaga ketertiban. Jika terlalu keras, misalnya dengan darurat sipil atau militer, narasi oposisi semakin kuat: rezim Prabowo anti-demokrasi. Inilah strategic entrapment: jebakan pilihan yang semua jawabannya salah.

Maka jelas: 25, 28, dan 30 Agustus hanyalah bab awal dari sebuah operasi multi-domain destabilization. Demonstrasi jalanan hanyalah panggung depan; amplifikasi digital-algoritmik, jaringan kriminal, hingga dukungan kapital menjadi panggung belakang.

Semua diarahkan pada satu tujuan: menjadikan instabilitas sebagai dalil bahwa Prabowo gagal mengelola negara. Akan ada ujung dari game Silent coup

Sejarah mengajarkan, kekuasaan jarang tumbang karena serangan besar. Ia runtuh karena perang yang berlarut, karena krisis yang dipelihara hingga dianggap normal.

Bila pemerintah gagal membaca pola ini, ia akan terperangkap dalam narasi lawan: bahwa negara telah kehilangan kendali.

Oleh Hafid Baso
Politisi Partai Golkar

Leave a Reply