Berita Golkar – Menteri Kemendukbangga/BKKBN, Wihaji menegaskan praktik bullying terhadap GenZ harus dilawan melalui edukasi, keberanian, dan kehadiran negara secara konsisten. Ia menilai candaan yang dianggap wajar kerap menjadi bentuk perundungan tersembunyi yang berdampak serius pada kesehatan mental generasi muda.
“Gen Z adalah generasi luar biasa yang tidak boleh terus dibebani stigma negatif. Bullying apapun alasannya harus dilawan negara melalui edukasi keberanian dan kehadiran pemerintah,” ujarnya dalam kegiatan Gen Z Fest: The Next Wave Of Digital Natives, Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Wihaji menjelaskan bullying sering terjadi tanpa disadari melalui candaan yang dianggap wajar di lingkungan sosial. Situasi ini berpotensi memperparah tekanan psikologis Gen Z jika tidak direspons dengan pendekatan komunikasi empatik berkelanjutan.
“Bullying itu sering terlihat sederhana, tapi serius karena menyangkut suasana kebatinan yang dibully dan yang membully. Tugas negara memastikan bullying, apapun alasannya, harus kita lawan dengan edukasi dan keberanian,” ucapnya, dikutip dari RRI.
Content creator Fajar Sadboy menilai pengalaman menjadi pintu masuk membangun kesadaran Gen Z terhadap dampak candaan di sosial. Ia menekankan pentingnya sikap reflektif agar perilaku sehari-hari tidak berkembang menjadi perundungan yang melukai secara psikologis.
“Banyak orang tidak sadar candaan bisa melukai dan berubah menjadi perundungan,” kata Fajar Sadboy kepada peserta diskusi. Saya memilih merespons dengan sikap positif dan membuktikan diri perlahan,” katanya.
Kolaborasi pemerintah dan figur publik diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif Gen Z menciptakan ruang sosial digital yang aman dan empatik. Wihaji berharap pendekatan dialog, edukasi, dan keteladanan mampu menekan praktik bullying di kalangan Gen Z secara berkelanjutan. {}













