Mendukbangga Wihaji Dorong Peran Ayah Lebih Aktif di Tengah Fenomena Fatherless dengan 4 Langkah Praktis

Berita Golkar – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyoroti, anak zaman sekarang rentan mengalami kondisi fatherless. Fatherless persoalan serius di Indonesia.

Fatherless merupakan kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, baik secara fisik (ayah meninggal, bercerai, jauh) maupun emosional (ayah ada tapi tidak terlibat).

“Saat ini 25,8 hingga 26 persen anak-anak Indonesia kehilangan figur ayah, bukan selalu karena ayah meninggal atau berpisah, tetapi karena kehadiran ayah yang secara emosional nyaris tidak dirasakan,” kata dia di SD Negeri Pondok Bambu 11 Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025).

Ia mengatakan, kondisi ini menunjukkan sekitar satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia pada tahun 2025 mengalami fatherless. Kehadiran gawai atau handphone menjadi salah satu penyebabnya.

Anak-anak menurut Wihaji, dalam sehari menghabiskan rata-rata 7-9 jam bersama handphone. Ayah hadir namun tidak benar-benar ada. Kondisi ini membuat hubungan emosional antara anak dan ayah minim dan lama-lama hilang.

“Jarang mengobrol sama ayahnya, interaksinya minim. Ayah hadir di rumah tapi tidak terlibat dalam kehidupan anaknya. Akibatnya anak sulit dinasihati dan tak nyaman berkomunikasi dengan keluarga,” tutur Wihaji, dikutip dari Tribunnews.

Padahal secara ilmiah, keterlibatan ayah baik sosial dan emosional anak berpengaruh pada masa depan anak.

Ia menegaskan, saat ayah terlibat langsung dalam kehidupan anak-anak maka mereka cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berprestasi, dan memiliki arah hidup yang jelas. “Ini adalah ilmu. Ketika ayah terlibat, anak-anak menjadi juara di bidangnya masing-masing di masa depan,” tegasnya.

Mantan Bupati Batang ini pun mengajak para ayah untuk melakukan hal sederhana namun bermakna. Seperti mengambil rapor anak, mengantar anak pergi ke sekolah di hari pertama sekolah. Kemendukbangga menginisiasi Gerakan Ayam Mengambil Rapor Anak atau GERAK.

“Saya senang bapak-bapak hadir (mengambil rapor). Suatu saat anak pasti ingat terus, ayahnya pernah hadir di sekolah,” tutur dia.

Sebelumnya, Wihaji juga menandatangani Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah pada 1 Desember 2025.

Gerakan ini menyasar anak usia pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah, dan mulai dilaksanakan pada Desember 2025 menyesuaikan jadwal sekolah masing-masing.

Selain itu, Wihaji mendorong para ayah untuk meluangkan waktu mengobrol dengan anak, meski hanya 10–15 menit setiap hari, serta melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan gawai atau televisi. “Sekarang ayah, ibu, kakak, dan adik satu meja makan tapi masing-masing pegang handphone,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan kebiasaan mengantar anak ke sekolah dan berbincang di perjalanan sebagai bentuk kedekatan emosional. “Saya hampir setiap hari mengantar anak ke sekolah. Di keluarga saya ada aturan, sehari wajib satu jam mengobrol dengan anak, tanpa handphone,” katanya.

Bagi anak-anak yang tidak memiliki ayah karena berbagai kondisi, Wihaji menegaskan bahwa figur ayah dapat digantikan oleh kakek, paman, kakak laki-laki, atau sosok dewasa lain yang konsisten hadir dan peduli. “Yang penting itu sosok ayah, bukan hanya biologis,” ujarnya.

Dengan kehadiran orang tua terutama ayah yang penuh perhatian, anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi generasi yang kuat, bahagia, dan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa. {}