Berita Golkar – Mendukbanga/BKKBN, Wihaji menegaskan, lonjakan signifikan gangguan mental anak membutuhkan sinkronisasi kebijakan lintas lembaga segera. Pemerintah memprioritaskan regulasi bersama, karena dampaknya sudah mengkhawatirkan dalam berbagai kelompok usia Indonesia saat ini.
“Kolaborasi kementerian menjadi sangat penting karena masalah kesehatan mental terus meningkat drastis beberapa tahun terakhir. Kami melihat urgensi penanganan bersama agar intervensi tepat benar-benar dapat dilaksanakan optimal,” kata Wihaji seusai Rapat KKSK, di Jakarta, Senin (8/12/2025), dikutip dari RRI.
Pemerintah, kata Wihaji, berharap sinkronisasi kebijakan lintas lembaga dapat menekan lonjakan gangguan mental terutama pada kelompok usia muda. “Langkah terpadu ini harus segera dieksekusi untuk melindungi generasi bangsa dari risiko psikologis berkepanjangan,” ucap Wihaji.
Menkes, Budi Gunadi Sadikin melaporkan, gangguan mental pada anak mencapai lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut, menunjukkan perubahan interaksi sosial yang dipicu paparan gadget berkepanjangan dalam kehidupan anak masa kini.
“’Screening’ menunjukkan anak mengalami anxiety dan depresi jauh lebih tinggi daripada dewasa secara konsisten. Ini harus ditangani melalui kebijakan bersama agar implementasi program pencegahan tidak berjalan terpisah,” ucap Budi.
Dirut BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti juga menegaskan, jenis gangguan mental mulai cemas hingga psikosis dijamin dalam sistem nasional. Pemerintah mendorong, peningkatan pemahaman masyarakat karena masih banyak warga belum mengetahui manfaat secara menyeluruh.
“Banyak masyarakat tidak sadar bahwa seluruh gangguan mental sebenarnya dijamin penuh oleh BPJS. Kami terus memperkuat edukasi agar akses layanan meningkat dan kasus tertangani lebih cepat,” kata Ali. {}













