Berita Golkar – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan investasi pada keluarga merupakan fondasi dari program prioritas nasional.
“Dari delapan program prioritas Presiden Prabowo pada 2026, mulai dari ketahanan pangan, energi, Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, ekonomi rakyat, pertahanan semesta, dan investasi global, semua bermuara pada keluarga. Pembangunan keluarga adalah fondasi dari seluruh program prioritas tersebut,” katanya di Jakarta, Kamis (12/2/2026), dikutip dari Antaranews.
Ia menjelaskan, Kemendukbangga/BKKBN memiliki tugas untuk mengurus seluruh siklus kehidupan manusia, yang selalu beririsan dengan kementerian/lembaga lain. Untuk itu, Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) yang telah disusun menjadi dasar dalam menyukseskan bonus demografi.
“Saat ini Indonesia memiliki sekitar 286 juta penduduk, hampir 80 juta keluarga yang terdata berdasarkan nama dan alamat. Ada 70 persen penduduk usia produktif, tetapi pertanyaannya, berapa yang benar-benar produktif? Inilah tantangan bonus demografi,” paparnya.
Wihaji menegaskan, bonus demografi hanya akan menjadi berkah jika mampu dikapitalisasi, oleh karena itu, fokus pada investasi sumber daya manusia dan pasar kerja menjadi sebuah kewajiban yang mesti dipenuhi.
“Kita perlu membangun sistem pensiun, jaminan sosial, dan perlindungan hari tua, termasuk bagi kelompok non-ASN, pekerja informal, dan ibu rumah tangga,” ujar dia.
Saat ini, lanjut Wihaji, Kemendukbanga/BKKBN mencatat ada 14 juta keluarga dengan kepala keluarga perempuan, 10 juta keluarga dengan balita usia 24–59 bulan, dan 46 juta keluarga dengan anak remaja.
Sementara itu, ada 25 juta keluarga dengan anggota lanjut usia (lansia) yang juga perlu menjadi perhatian untuk menghadapi fenomena penduduk usia menua atau aging population.
“Semua adalah bagian dari siklus kehidupan yang harus kita urus melalui kebijakan kependudukan dan pembangunan keluarga. Salah satu program terbaik hasil cepat kementerian adalah penguatan layanan dari hulu ke hilir; mulai dari bina keluarga balita, bina keluarga remaja, hingga sekolah lansia. Kita juga menguatkan tim pendamping keluarga (TPK) yang jumlahnya 597 ribu orang di seluruh Indonesia,” ucap Wihaji. {}













