Menkomdigi Meutya Hafid Minta Bakohumas Percepat dan Pertepat Komunikasi Publik

Berita GolkarKementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) meminta Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) untuk dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan komunikasi publik di tengah arusnya informasi digital.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menyamappiakn penegasan tersebut dalam forum Bakohumas ‘GPR Outlook 2026: Satu Narasi, Bangun Reputasi Negeri’. Hafid menegaskan disinformasi kerap terjadi hingga membentuk persepsi publik mengingat kecepat informasi dari pemerintah di ruang digital.

“Sekarang tidak bisa lagi memilih antara cepat atau tepat. Keduanya harus berjalan bersamaan. Ketika kita kalah cepat, disinformasi masuk, dan pada akhirnya yang sampai ke masyarakat juga menjadi tidak tepat,” kata Meutya, Jakarta, Rabu (4/1/2026), dikutip dari TVOneNews.

Meutya menuturkan komunikasi pemerintah meski dapat menyampaikan pesan yang sebenarnya di tengah arus informasi digital saat ini. Menurutnya keberhasilan komunikasi pemerintah tidak ditentukan oleh seberapa baik pesan disusun melainkan oleh apa yang benar-benar diterima dan dipahami masyarakat.

“Yang dinilai publik bukan seindah apa rilis kita, tapi apa yang sampai ke masyarakat. Kalau ruang publik sudah dipenuhi misinformasi, komunikasi yang benar bisa tenggelam,” katanya

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kemenkomdigi), Fifi Aleyda Yahya mengatakan komunikasi pemerintah semakin memiliki tantangan yang kompleks di tengah arus informasi digital.

Kata Fifi, persepsi publik saat terbentuk dalam beberapa menit bahkan sebelum klarifikasi yang disampaikan pemerintah. “Di era digital, reputasi sering kali runtuh bukan karena kebijakan itu sendiri, tetapi karena cerita yang lebih dulu dipercaya publik. Karena itu, pemerintah tidak boleh membiarkan narasi berjalan sendiri tanpa arah,” kata Fifi.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa konsep satu narasi bukan berarti keseragaman pesan. Ia menegaskan melainkan kesamaan arah komunikasi yang saling menguatkan antarinstansi. “Satu narasi artinya bergerak ke tujuan yang sama, saling menguatkan, bukan saling meniadakan,” katanya.

Sementara, Direktur Komunikasi PT Indonesia Indicator, Rustika Herlambang yang hadir sebagai narasumber dalam kegiatan itu turut memberikan pandangannya. Ia mendorong transformasi humas pemerintah dari pola reaktif dan defensif menjadi lebih proaktif, strategis, dan visioner.

“Humas pemerintah harus bertransformasi menjadi arsitek reputasi bangsa, bukan sekadar penyampai informasi,” ungkapnya. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Haryo Damardono kehumasan mesti dapat beradaptasi dengan adanya perubahan teknologi termasuk kecerdasan buatan.

“Perubahan berlangsung sangat cepat. Tidak ada satu solusi tunggal. Yang penting kita terus belajar dan beradaptasi bersama,” katanya. {}