DPP  

Sang Maestro dan Mentor Para Aktivis, Akbar Tandjung!

Berita Golkar – Wajah Ir. Djandji Akbar Zahiruddin Tandjung berbinar-binar begitu memasuki Gedung Nusantara IV di Kompleks DPR-RI, Minggu (19/5/2024). Seribuan aktivis lintas generasi yang menyesaki ruangan menyambutnya dengan tepuk tangan. Lagu Hymne Guru ciptaan mantan Guru Musik di Madiun, Sartono mengiringi setiap langkah lelaki berusia 79 tahun itu.

Mayoritas hadirin dari kalangan mahasiswa dan berbagai organisasi kepemudaan saling berebut untuk menyalaminya. Sebagian lainnya mengabadikan dengan telepon seluar mereka, dan dibalas Akbar dengan berkali-kali melambaikan tangan.

Siang itu dia datang bersama istrinya, Krisnina Maharani, untuk menghadiri acara “Tribute to Bang Akbar Tanjung” yang dihelat Forum Aktivis Nasional dan Kelompok Cipayung Plus. Tampak hadir antara lain Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet), mantan politisi Partai Golkar di era kepemimpinan Akbar Tanjung, seperti Theo L. Sambuaga dan Baharuddin Aritonang.

Juga terlihat di barisan depan Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum, hingga Dewan Penasihat FKN Maruarar Sirait dan Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari.

Para aktivis menilai Akbar Tanjung sebagai sosok pemberani dan selalu siap untuk meninggalkan zona nyaman. Mereka menganggapnya sebagai maestro dan mentor karena kepiawaiannya memimpin organisasi hingga berkontribusi dalam dunia politik, khususnya menjelang dan pascareformasi.

“Pak Akbar punya rekam jejak yang lengkap sejak mahasiswa hingga kini, menjadikannya sebagai sosok yang disegani dan dihormati oleh siapa pun, baik dari kalangan politisi, akademisi, cendekiawan, hingga kalangan pemuda,” kata Bamsoet saat memberikan sambutan.

Di masa mudanya, Akbar Tanjung yang lahir di Sorkam-Sibolga, 14 Agustus 1945, pernah menjadi aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Laskar Ampera Arief Rahman Hakim. Juga menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UI, 1967-1968. Di luar kampus, Akbar Tanjung memimpin PB HMI pada 1972-1974, lalu memimpin KNPI (1978-1981).

Setelah beberapa tahun menjadi anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar, pada 1988, Presiden Soeharto mempercayainya sebagai Menpora menggantikan Abdul Gafur. Turut masuk kabinet kala itu sejumlah tokoh muda lainnya, seperti Sarwono Kusumaatmadja (Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara) dan Siswono Yudhohusodo (Menteri Negara Perumahan Rakyat).

Di awal reformasi, Akbar Tanjung rela melepas jabatan Sekretaris Negara dalam pemerintahan BJ Habibie untuk memimpin Partai Golkar. Partai yang menjadi musuh bersama segenap elemen pro reformasi, karena Golkar dianggap sebagai penopang utama Orde Baru yang korup. Ketua Umum PAN Prof Amien Rais salah satu tokoh paling getol dan keras menentang Golkar. “Sudahlah, Golkar itu masa lalu. Kita lipat dan masukkan ke dalam laci,” begitu kurang lebih dia berujar.

Citra Golkar kian terpuruk ketika dia terlibat dalam skandal korupsi dana nonbujeter Bulog. Majelis Hakim PN Jakarta Pusat menghukum Akbar pada 4 September 2002 dengan penjara selama 3 tahun. Dari dalam tahanan Akbar tetap mengendalikan Partai Golkar. Setahun menjelang Pemilu 2004 dia merestui digelarnya Konvensi Calon Presiden Partai Golkar.

Sejumlah tokoh nasional, seperti Sri Sultan HB X, Wiranto, Prabowo, Surya Paloh, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie turut terlibat di dalamnya. Tak heran bila acara yang berlangsung sekitar setahun itu selalu mendapat liputan luas dari media massa. Acara yang dinilai banyak pengamat sebagai langkah jenius yang tergolong sangat murah karena menjadi semacam kampanye gratis bagi Partai Golkar.

Pada 12 Februari 2004, majelis kasasi Mahkamah Agung memenangkan Akbar dan membatalkan yang dibuat oleh PN Jakarta Pusat. Akbar kemudian ikut berlaga dalam arena konvensi. Meskipun kemudian kalah dari Wiranto, dalam pemilu suara Partai Golkar justru kembali melambung ke posisi pertama mengalahkan PDI Perjuangan. Hanya dalam tempo lima tahun, di bawah kendali Akbar Tanjung, Partai Golkar rebound.

“Saya tidak bisa membayangkan tahun 1999 kalau Pak Akbar tidak menjadi Ketua Umum Partai Golkar, pasti Golkar hanya sejarah. Bang Akbar sangat tegar dan berani meski ada kriminalisasi ditujukan ke Bang Akbar. Dan, ketika Golkar ingin dibubarkan, justru jadi pemenang pemilu,” ucap Bamsoet.

Sikap dan pembawaan Akbar Tanjung yang terkesan lemah lembut dan cenderung menghindari kontrontatif membuatnya bisa bergaul dan diterima banyak kalangan, termasuk lawan-lawan politiknya. Saking lihaynya sebagai politisi, wartawan senior yang juga politisi PDI Perjuangan Panda Nababan pernah mengibaratkan Akbar bak belut dilumuri oli. “Bisa kalian bayangkan betapa licinnya itu,” katanya disambut tawa para wartawan.

Toh begitu, pada 2004 dia yang merasa dikepung dari ‘lima penjuru mata angin’ saat berupaya mempertahankan posisinya memimpin Golkar harus menyerah. Posisi Ketua Umum Partai Golkar berpindah kepada Jusuf Kalla yang telah menjadi wakil presiden.

Sejarah mencatat, suara Partai Golkar kembali merosot di bawah Jusuf Kalla, dan terus merosot di bawah Aburizal Bakrie, dan kian terpuruk pada Pemilu 2019 akibat ulah Ketua Umum Setyo Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham yang terlibat mega korupsi dana E-KTP.

Menurut Maruarar Sirait, Akbar Tandjung adalah mentor terbaik dari para aktivis Indonesia. Akbar telah menjadi teladan tidak hanya bagi HMI, tapi juga semua organisasi. “Mentor terbaik aktivis Indonesia. Kami doakan Om Akbar umur panjang,” ungkap Maruarar yang pernah aktif di GMKI.

Ia memanggil Om karena Akbar merupakan sahabat mendiangnya ayahnya, Sabam Sirait. Sebagai tokoh Parkindo (partai Kristen Indonesia), Sabam kemudian turut menjadi salah satu deklarator PDI, lalu menjadi Sekjen yang pertama, 1973 – 1986. {sumber}