DPD II  

Sekar Tanjung: Jurnalistik dan Dunia Politik Miliki Simbiosis Mutualisme Positif

Berita Golkar – Menjadi politikus memang cita-cita yang jarang diminati kebanyakan orang. Jika ditanya cita-cita yang ingin dicapai, tak jarang orang menyebutkan polisi, pilot, hingga pengusaha sukses.

Berbeda dengan Sekar Tandjung, perempuan bernama lengkap Sekar Krisnauli Tandjung ini memang bercita-cita menjadi politikus seperti yang dilakukan ayahnya, Akbar Tandjung.

Menjajal dunia politik di usianya yang masih cukup muda, Ketua DPD Partai Golkar Solo ini juga sangat peduli tentang pendidikan. Hal itu berawal dari latar belakang keluarganya, serta pentingnya pendidikan untuk masa depan masyarakat.

Saking pentingnya pendidikan, perempuan 27 tahun ini pun menempuh pendidikan hingga ke Massachusetts, Amerika Serikat yakni di Boston University. Bahkan saat menempuh di bangku kuliah, Sekar Tandjung menjajal dunia jurnalistik dan sempat magang di salah satu media ternama yaitu, ABC News.

Lalu bagaimana perjalanan karier Sekar Tandjung yang pernah jadi jurnalis dan mulai terjun ke dunia politik, berikut rangkuman wawancara bersama Suara.com:

Memilih untuk berpolitik di Solo, sebenarnya warga asal mana?

Saya banyak berkegiatan di Solo dari kecil tapi lahirnya di Jakarta. SD, SMP, SMA di Jakarta kemudian kuliahnya baru ke luar negeri ke Amerika Serikat.

Selanjutnya meneruskan kuliah di Boston University di Boston Masters mengambil jurusan jurnalistik.

Memilih jurusan jurnalistik memang keinginan sendiri?

Yes, saya itu sangat suka menulis sampai sekarang pun masih berusaha untuk mengasah kemampuan menulis kemudian muncullah ketertarikan juga di bidang media, dan saya melihat bahwa media itu punya kuasa yang sangat besar untuk mendidik tetapi juga bisa memanipulasi.

Soldiers investing paradox dan nah akhirnya kita gabungin dua itu, menulis dan media lahirlah jurusan jurnalistik akhirnya saya masuk situ dan jadi wartawan.

Mengambil jurusan jurnalistik dan memilih terjun ke dunia politik bagaimana ceritanya?

Irisannya banyak sekali media dengan politik. Jadi cukup terbuka akhirnya kesempatan untuk belajar tentang politik waktu saya masih jadi murid mahasiswa jurnalistik dan juga pekerja sebagai wartawan jadi tumbuhlah di situ juga interestnya.

Berpolitik di Kota Solo, memang itu sudah mengincar di sana atau memang tidak ada pilihan lain?

Aku memulai dari Kota Solo karena satu, kita juga memang asalnya dari Solo dan kedua kesempatan yang terbukanya ada di Solo.

Berkarier di dunia politik itu apakah ada dukungan besar dari keluarga?

Utamanya adalah bahwa keluarga adalah sumber kekuatan yang paling mutakhir bagi saya sendiri ya sejauh ini. Jadi perannya sangat besar dalam memastikan atau menjaga moral dan semangat untuk bisa terus konsisten dalam politik.

Dan kami itu empat bersaudara perempuan semua dan yang nyaleg di tahun 2024 ini itu kami bertiga.

Kakak saya yang paling dewasa yang mbarep (sulung) itu di Sumatera II DPR RI, kemudian yang ketiga itu DPR RI juga dari Dapil Riau II gitu semuanya dari Partai Golkar.

Lalu, apakah dari ayah sendiri sudah mengarahkan anak-anaknya terjun ke politik?

Enggak, kita nggak ada yang dipaksa atau diharuskan atau didorong secara gamblang untuk masuk ke politik. Di sisi lain memang kami hidupnya sangat dekat dengan kegiatan-kegiatan politik karena Pak Akbar adalah tokoh politik yang mana sering mengikutsertakan kami dalam kegiatan-kegiatannya.

Misalnya kampanye atau silaturahmi partai dan hal-hal lainnya lah gitu, sehingga ketertarikan kami terhadap politik menjadi sangat besar dan ternyata kesempatannya ada sekarang. Jadi ya Bismillahirrahmanirrahim, ini kita bertiga ikut terjun di Pemilu 2024.

Berangkat dari ayah seorang politisi Partai Golkar, apakah ada pesan ayah kepada anak-anaknya yang akan mengikuti Pileg 2024?

Beberapa pesan Pak Akbar Tandjung yang pertama adalah bahwa politik itu pengabdian dan bukan profesi. Kami meyakini seperti itu kenapa?, karena profesi itu kan identik dengan mata pencaharian ya, dan kami meyakini bahwa politik itu bukan ladang untuk mata pencaharian. Sebagai politisi juga tidak seperti itu.

Kedua adalah ya kita konsisten kita harus konsisten dan juga konkret dalam berkarya dalam menjadikan politik ini sebagai alat untuk kita betul-betul bisa memberikan kebermanfaatan bagi sesama.

Yang ketiga enjoy the process bahwa memang kami meyakini bahwa akan ada naik turunnya jatuh bangunnya tentu beban juga sebagai anak beliau. Tetapi dalam segala perjalanan itu pasti sebetulnya ada yang bermanfaatlah buat kita ke depannya.

Apakah memiliki sosok politikus idola sejauh ini?

Alessandra Okazio Ortest yang di Amerika. Beliau itu juga masih sangat muda pada saat pertama kali jadi anggota DPR di sana dan kebetulan satu almamater sama saya.

Beliau juga dulu dari BIU, kemudian sempat kemarin baca-baca juga tentang Angela Merkel yang di Jerman. Beliau juga sangat luar biasa sebagai pemimpin perempuan ya untuk bisa akhirnya menjadi perdana menteri di sana dan banyak sih yang lainnya mungkin kalau harus disebutkan semuanya agak nggak cukup kali ya.

Berkarier di dunia politik apakah itu sudah menjadi cita-cita sejak awal?

Itu juga termasuk. Tidak bisa saya pungkiri bahwa ketertarikan di bidang politik itu udah cukup lama ya saya pupuk. Akhirnya ada kesempatan untuk terjun langsung pada 2019 itu menjadi tim kampanye presiden.

Sebelumnya pada 2017, saya jadi tim kampanye Wali Kota di Boston waktu masih menjadi mahasiswa. Itu saya magang juga di ABC News di Washington DC, meliput 100 hari pertamanya presiden Donald Trump.

Jadi ketertarikan di bidang politik itu memang sudah terbangun, sehingga untuk bisa masuk ke dalam politik ini, ibaratnya ya sesuatu yang memang sudah menarik saya sejak dulu.

Saya cuma enggak nyangka saja, maksudnya sekarang rencana sendiri tahun 2029 berpolitik (mencalonkan diri di Pileg), tapi Tuhan berkata lain dan ya kita di sinilah sekarang ya.

Apakah berpolitik sudah menjadi tujuan akhir? Atau justru masih ada hal lain yang ingin dicapai?

Salah satu cita-cita saya adalah memiliki toko buku yang ada coffee shopnya. Itu ya kan kita punya berbagai macam cita-citanya itu salah satu yang selalu yang tidak berubah dari saya masih di bangku SMP sampai sekarang itu sesuatu yang aku selalu pengen punya gitu.

Jadi ya itulah wonderful other dream punya ada coffee shop tapi yang ada perpustakaannya. Bisa ada ruang buat diskusi buat menikmati kopi yang enak untuk nyantai gitu.

Anda juga dikenal aktif dan peduli tentang pendidikan, apa pandangan Anda dengan pendidikan sendiri?

Ya karena saya melihat dan menyadari bahwa ketika kita mendapatkan pendidikan yang baik itu banyak sekali kesempatan yang terbuka untuk kita dapat meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan itu tidak hanya dari bangku sekolah ya khususnya sekarang ini aku melihat bahwa kita harus bisa belajar.

Untuk hidup berdampingan dengan berbagai macam perbedaan yang ada gimana kita bisa kohesif semuanya itu dan mau punya semangat untuk lebih baik lagi. And i think pendidikan itu sangat berpengaruh dalam dalam hal itu ya.

Kebetulan kami juga keluarga yang concern di pendidikan karena Pak Akbar itu juga punya sekolah di Sumatera Utara di kampungnya Pak Akbar, jadi diskursus dan kepedulian terhadap pendidikan itu memang sudah menjadi sesuatu yang sangat lekat di keluarga kami juga gitu.

Sekolah apa itu yang didirkan Akbar Tandjung?

Sekolah untuk, jadi ada tiga institusi pendidikan yang pertama itu yang udah lama banget itu SMAN 1 Matauli. Jadi SMA yang ada asramanya ada di Sibolga itu kemudian ada juga Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan STPKM. Dan sedang proses (pembangunan) itu adalah Sekolah Tinggi Agama Islam Barus.

Jadi banyak berpusat di Sumatera Utara karena visi beliau saat itu adalah harus bisa meningkatkan sumber daya manusia di kampungnya gitu. Nah sekarang dilanjutkan oleh kakak saya yang di Sumatera Utara.

Pada saat Covid-19 melanda, apakah benar Anda merintis organisasi yang didirikan untuk kepentingan pendidikan anak-anak?

Iya, awalnya keresahan tentang waktu zaman Covid-19 itu kurangnya pembelajaran tatap muka kan dari masyarakatnya.

Organisasi Kisah Kasih ini tercetus bersama teman-teman di Jakarta yang mulanya menjaring para PKL di DKI Jakarta. Hasilnya adalah dalam waktu 3 bulan itu kami berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp250 juta untuk memberikan sembako ke-2.500 Pedagang Kaki Lima (PKL).

Ketika proses pembagian sembako ke PKL itu justru kami ajak mereka diskusi dan ternyata hal lain yang menjadi keresahan adalah bahwa anak-anak mereka itu sekarang pada saat itu (Covid-19) tidak mendapatkan pendampingan pembelajaran yang mumpuni. Karena kan saat itu lagi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sehingga pelajaran tatap mukanya itu sangat berkurang.

Akhirnya dan selain daripada itu kami secara pendiri itu juga merasa sangat konsen dengan isu khususnya literasi dalam hal pendidikan khususnya literasi baca tulis itu literasi yang sangat mendasar jadi dari adanya kebutuhan pembelajaran di akar rumput itu.

Ketertarikan dan konsen kami ke literasi akhirnya kami ada satu program utama Kisah Kasih yaitu Joy of Reading yang mana menyasar masyarakat di akar rumput anak-anak umur 6-10 tahun dan orang tuanya untuk bisa membangun minat baca.

Anak-anak diarahkan untuk bisa mencintai membaca dan mulai dari tahun 2020 akhir itu kami sudah berjalan. Awalnya di Jakarta dan sekarang karena aku di Solo, alhamdulillah kami juga jalan di Kota Solo.

Nah kalau dari kami para pendiri itu melihat bahwa yang literasi dasar baca tulis itu masih bisa lebih baik lagi lah khususnya di Indonesia.

Penuh dengan waktu kampanye, bagaimana Anda melepas penat?

Dikit-dikit kita mencari ruang untuk diri sendiri, kadang nonton TV series atau nonton film. Lalu, dengerin musik sendiri, telepon keluarga atau sahabat sama baca buku.

Adakah pesan untuk anak muda yang ingin berpolitik?

Untuk semua anak muda yang tertarik masuk politik itu termasuk orang-orang yang langka mungkin di dalam komunitasnya atau pertemanannya sendiri. Aku berharap itu tidak menghentikan sobat suara untuk justru masuk karena ketika kita mengambil langkah pertama untuk masuk itu di situlah kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang punya satu visi-misi dan gagasan kayak kita.

Jadi berani aja untuk mengambil langkah pertama untuk masuk ke dalam politik enggak harus langsung menjadi politisi, bisa ikut tim kampanye kayak tadi saya, bahkan jadi wartawan yang meliput kegiatan kampanye itu udah langsung ada irisannya.

Mengikuti organisasi kemasyarakatan yang ada di bawah partai politik atau menjadi tenaga ahli untuk seorang politisi juga menjadi jalur yang bagus. Itu sudah menjadi langkah awal jadi kita enggak harus langsung jadi caleg kok. {sumber}